
"Tuan Andrew dipindahkan secara mendadak, Tuan. Apakah ini semua rencana anda?"
Mendengar itu, Austin langsung mendelik. Apa dia tidak salah dengar? Andrew dipindah tanpa sepengetahuannya? Bahkan Riana tidak memberikan kabar apapun.
Tangan pria itu seketika terkepal. "Apa maksudmu?" Tanya Austin dengan nada tinggi. Dia menatap nyalang sekeliling, benar-benar tak habis pikir.
Para anak buahnya mulai merasa takut. Namun, walau bagaimanapun harus ada di antara mereka yang menjelaskan kejadian sebenarnya. Tentang Andrew yang tiba-tiba dibawa ke mobil ambulance, dan beberapa orang yang menahan mereka.
Austin langsung mengamuk di ruangannya. Dia membuang apa saja yang ada di meja termasuk laptop yang biasa Andrew gunakan untuk bekerja. "Sialan! Siapa yang berani bermain-main denganku? Apa mereka tidak tahu siapa aku, awas saja akan aku pastikan mereka habis di tanganku sendiri!" Pekik pria yang diselimuti amarah itu.
Austin segera mematikan panggilan. Dia menendang meja beberapa kali, tak peduli meski kakinya terasa sakit, yang terpenting adalah dia menguapkan segala kekesalannya.
"Kalian semua akan menerima akibatnya!"
Austin berganti menghubungi Riana. Dia harus meminta penjelasan dari wanita itu, apa maksud ini semua. Jangan sampai Riana membuat rencana lain di belakangnya.
Riana yang kala itu tengah berada di pusat perbelanjaan bersama putrinya. Tak menghiraukan panggilan Austin, padahal saat itu Clarissa mendengar dering ponsel milik sang ibu, tetapi dia lebih memilih untuk diam.
__ADS_1
Dia yakin seratus persen bahwa itu adalah panggilan dari Austin. Dia tidak ingin menggagalkan rencana Cyara. Semoga saja Cyara benar-benar sudah membawa Andrew bersamanya.
"Bunda, ayo temani Ara membeli sepatu," ucap Clarissa saat Riana hendak mengecek ponsel, dia baru sadar bahwa benda pipih itu sedari tadi bergetar.
"Sebentar, Ra."
"Bunda, ayolah! Bunda sudah janji tidak akan ada yang mengganggu kita untuk hari ini."
Clarissa merengek dengan wajah yang sudah cukup kesal. Ingin membuat Riana menghentikan niatnya. Melihat putrinya seperti itu, akhirnya Riana mengalah. Dia tersenyum dan mengusak puncak kepala Clarissa.
"Iya-iya, maafkan Bunda. Ayo Bunda temani kamu membeli sepatu," pungkas Riana, entah kenapa dia tidak memiliki feeling apapun bahwa itu adalah panggilan darurat dari Austin.
"Aku harus pastikan sendiri ke sana!" gumam Austin dengan seringai, dia curiga bahwa semua itu adalah ulah Cyara yang berhasil lolos.
"Sepertinya ada seseorang yang membantunya. Siapapun itu, kupastikan dia tidak akan selamat!"
Austin segera melangkah keluar dari ruangannya. Wajah beringas dengan sorot mata tajam itu membuat siapa saja merasa ketakutan. Bahkan sepanjang dia melangkah tidak ada yang berani menyapanya, mereka semua kompak menundukkan kepala.
__ADS_1
Bugh!
Tiba-tiba Austin menendang salah satu pekerjanya. Dia adalah seorang pria, merasa terkejut pria itu langsung mengangkat kepala dan melirik Austin takut-takut.
"Apa kamu?! Mau melawanku? Sekarang juga beritahu Winda kalau aku keluar, berikan semua pekerjaanku padanya dan jangan hubungi aku sebelum aku kembali." Nada bicara Austin tidak pernah ramah, bahkan membuat semua orang sakit telinga.
"Baik, Tuan," jawab pria itu terbata.
Austin segera pergi dari sana tanpa peduli lirikan mata semua orang. Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah tentang Andrew. Kenapa bisa penjaga sebanyak itu, mereka malah kecolongan.
***
Siang harinya.
Setelah Aneeq memeriksa sekilas tentang perusahaan keluarga Cyara. Dia jadi memiliki sebuah rencana. Dia tahu bahwa Austin itu hanya orang bodoh yang berpura-pura pintar, tetapi dia tidak bisa menganggap begitu remeh, sebab ia takut pria itu akan berbuat licik.
Maka dari itu, dia akan menggunakan cara yang licik pula. "Hubungi sekretarisnya. Bilang padanya aku ingin membahas proyek tadi. Kita harus secepatnya mengumpulkan bukti bahwa pria itu gila."
__ADS_1
Di belakang tubuh Aneeq, Caka mengangguk patuh. "Baik, Tuan."
Dia tidak membuang banyak waktu, karena dia benar-benar langsung menghubungi perusahaan RY Group. Aneeq menyeringai tipis, satu tikus got akan kembali dia lumpuhkan. "Main-main kok sama ular."