
De meraih handuk setelah dia menyelesaikan kucuran terakhir. Melilitkannya di pinggang, agar benda panjang yang sedang gondal-gandul itu tidak menegang sembarangan.
Pria itu melangkah ke arah bathtub, tepat di sisi istrinya. De langsung mengangkat tubuh Cyara, sementara gadis cantik itu mengeratkan pelukannya dan meletakkan dagu di antara ceruk leher De.
De terkekeh kecil, hingga membuat Cyara mengernyit. "Apa yang sedang kamu tertawakan, Poo?"
"Tidak ada, Sayang. Tapi apa memang separah itu rasa sakitnya, sampai kamu tidak bisa melakukan apa-apa?"
Mendengar itu, Cyara langsung mendengus. Apa pria ini tidak ingat semalam? Dia sudah seperti orang kesetanan, hingga membuat Cyara berkali-kali merintih tanpa henti. Namun, yang dipanggil namanya terus asyik dengan permainannya sendiri.
"Kamu benar-benar melupakan kejadian semalam? Hah, atau jangan-jangan itu memang bukan kamu?" cetus Cyara, menuding De dengan kalimatnya. Sementara jari-jari lentik gadis itu mencubit punggung suaminya.
"Jangan sembarangan! Jelas-jelas aku yang membuatmu menjerit, mendesaah dan merintih karena percintaan kita semalam."
"Lalu untuk apa kamu bertanya seperti itu, Poo? Jelas saja aku merasa lelah, kamu seperti memporak-porandakan tubuhku. Bahkan secara postur saja, aku sudah kalah jauh."
De terkekeh, dia mengecupi bahu polos Cyara yang mengeluarkan aroma segar. Dia mengusak jambang, hingga Cyara bergerak kegelian.
"Iya, Sayang, iya."
De meletakkan tubuh Cyara di sisi ranjang, kembali mengambil handuk dan mengeringkan tubuh gadis itu.
__ADS_1
"Biar aku saja. Poo ambil baju," ujar Cyara menahan tangan besar De. Pria itu pun patuh, tanpa bicara dia menyerahkan handuk pada istrinya dan melangkah ke lemari pakaian.
Namun, saat pria itu kembali dia tak hanya membawa pakaian tetapi juga hair dryer dan juga sisir. Cyara tersenyum, sebab De berubah menjadi pria yang sangat perhatian.
"Poo, aku bisa memakainya sendiri," tolak Cyara saat De berusaha memakaikan apa saja yang seharusnya terpasang di tubuh Cyara.
Pria itu menggeleng, tidak menerima penolakan.
"Tidak! Cepat angkat pinggulmu."
Cyara menghela nafas pasrah, membiarkan sang suami melakukan sesuatu sesuai kehendaknya. Cyara terus terdiam, sementara De sibuk memutar-mutar hair dryer.
"Bulan madu? Apa kita akan jalan-jalan di sana?" Cyara balik bertanya lengkap dengan tatapan polosnya, membuat De selalu merasa tak tahan untuk tidak mengecup bibir mungil itu.
Cup!
"Benar, Moo. Tapi tujuan sebenarnya ya bukan itu."
"Apa?"
"Supaya kita semakin intim, dan dapat menciptakan momen terindah pasca menikah. Momen terindah yang tidak akan pernah kita lupakan, sampai kita tua. Bahwa kita pernah ada di suatu tempat, dan menghabiskan waktu hanya berdua," jelas De setelah menekan tombol off. Dia meletakkan hair dryer di ranjang, lalu bersimpuh di depan lutut Cyara sambil memegang tangan gadis cantik itu. "Aku ingin melakukan apapun bersamamu, Sayang."
__ADS_1
Pipi Cyara langsung merona, dia menggigit bibir bawah, melihat De yang selalu berhasil membuat jantungnya berdebar tak biasa.
"Memangnya berapa lama kita melakukan bulan madu, Poo?"
"Kita atur sesuai tenagamu saja."
De terkekeh kecil, sementara Cyara mulai mendelik.
"Apa maksudnya?"
Bola mata Cyara mengikuti gerakan tubuh De yang kini beralih duduk di sampingnya, memeluk pinggangnya dan membenamkan wajah di dadanya.
"Kita buat anak sebanyak-banyaknya."
Glek!
***
Apa kabar kalian? Apakah masih waras setelah melihat uler derik bergelantungan 😩😩😩
__ADS_1