
Pagi-pagi sekali De sudah berpakaian rapih, dia berniat untuk menjemput Cyara dan mengantarkan gadis manis itu kuliah.
Dia ingin menjadi seorang kekasih yang dapat diandalkan, meski Cyara tidak meminta tapi De akan tetap pergi sebagai bentuk inisiatifnya.
"De, kamu tidak sarapan dulu
?" tanya Zoya kepada putra keempatnya. De meraih tangan sang ibu lalu mencium kedua pipi wanita hamil itu.
"Aku sarapan di rumah sakit saja, Mom. Hari ini hari pertama Cyara masuk kuliah, aku ingin mengantarnya," jawab De apa adanya. Kini tidak ada lagi yang dia sembunyikan, tentang Cyara semuanya akan selalu terbuka.
Mendengar itu, Zoya pun mengulum senyum. Mengingat masa mudanya, setiap hari Ken juga akan mengantar dan menjemputnya kuliah.
Zoya mengelus bahu De dengan gerakan lembut seraya mengangguk. "Ya sudah kalau begitu, hati-hati dan jangan lupakan sarapanmu. Mommy titip salam untuk Cia yah."
"Baik, Mom. De pergi dulu."
Kemudian setelah itu De melangkah keluar dan masuk ke dalam mobilnya. Dia langsung menyalakan mesin, membawa kendaraan roda empat itu menuju rumah Cyara.
De sedikit tersesat karena dia memang belum terlalu hafal jalur yang digunakan untuk sampai di rumah kekasihnya. Meskipun ada maps, tetap saja dia harus sedikit berputar-putar karena petunjuknya tidak terlalu akurat.
Alhasil dia hampir saja terlambat, Cyara sudah keluar dari pintu utama, dia tidak tahu bahwa De akan menjemputnya. Semalam, pria itu hanya meminta jalur maps menuju rumahnya.
Kelopak mata Cyara sedikit melebar begitu melihat mobil mewah De sudah terparkir, pria itu terlihat keluar dari sana. Cyara cepat-cepat melangkah hingga kini mereka berhadapan.
__ADS_1
"Poo, kamu tidak pergi ke rumah sakit?" tanya Cyara.
"Aku berniat menjemputmu, Moo. Tapi aku belum terlalu hafal jalan, jadi aku sedikit terlambat padahal aku berangkat dari pagi," jawab De sedikit mengeluh, membuat Cyara merasa kasihan sekaligus senang.
Dia senang karena De mau berjuang untuk sekedar menjemputnya.
"Ya sudah tidak apa-apa, yang penting kan sudah sampai, lagi pula kenapa kamu tidak bilang? Bagaimana jika tadi aku sudah berangkat? Kamu pasti kecewa."
Bibir De yang semula mencebik kini berubah menjadi tersenyum tipis.
"Kalau begitu beri aku hadiah supaya tidak kecewa." De mengetuk bibirnya dengan gerakan pelan, hingga terlihat begitu menggemaskan.
"Ishhh!!!" Cyara memukul dada De, tetapi tetap mencium bibir pria itu.
De terkekeh kecil, mendapati tingkah Cyara. Dia tahu Cyara tidak akan pernah bisa menolak keinginannya.
"Cla, mau bareng nggak?" tanya Cyara.
Gadis cantik yang memakai kemeja polos itu mengangkat kepala, melihat ke arah Cyara dan kekasihnya yang sudah memasang wajah sedingin salju.
Clarissa langsung menggelengkan kepala. "Tidak, Ci, aku berangkat dengan supir saja. Kalian berangkatlah berdua." Tolak gadis itu, selain tidak tahan dengan tatapan De, dia juga tidak ingin menjadi obat nyamuk seperti semalam. Itu semua sangat membosankan.
"Benar?"
__ADS_1
"Iya, Ci," jawabnya singkat.
Akhirnya Cyara pun mengalah, dia segera melangkah mengikuti De untuk masuk ke dalam mobil. Pria itu lebih dulu membukakan pintu untuk Cyara, lalu setelah itu dia duduk di kursi kemudi, menjalan mesin dan melandaskan kereta besi itu menuju tempat Cyara menimba ilmu.
"Poo, sudah sarapan?" Cyara kembali buka suara, dia mengapit tas yang semula dia letakan di bahu sebelah kanan.
"Belum, aku langsung berangkat tadi, jadi belum sarapan sama sekali."
"Wah kalau begitu kebetulan sekali, aku juga berniat sarapan di kampus. Aku bawa sandwich, Poo, mau?"
De melirik Cyara yang mulai mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah kotak bekal berisi 2 buah sandwich isi telur dan berbagai macam sayuran.
"Yang lain ada tidak?"
"Aku hanya bawa sandwich, Poo, apa kamu tidak suka?"
De tersenyum tipis, pandangan matanya mungkin ke depan, tetapi satu tangannya sudah bergerak ke mana-mana.
"Aku mau sarapan ini saja."
*
*
__ADS_1
*
Belum tiga bulan kemudian ygy🤣🤣🤣