Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Takut


__ADS_3

Tubuh Cyara seolah menggigil, dia terus mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sementara dalam hati dia terus berdoa, agar Tuhan senantiasa menjaganya. Ketakutan itu semakin menjadi saat Cyara melihat bayangan tubuh seseorang di sekitarnya.


Bayangan itu berhenti dengan kepala yang bergerak ke sana ke mari. Cyara semakin merapatkan tubuhnya ke dinding, dengan tarikan nafas yang tertahan.


Takut sekali dia akan ketahuan. Perlahan Cyara melangkahkan kakinya ke arah kiri untuk semakin menjauh dari bayangan itu. Namun, sebuah tarikan tangan berhasil membuatnya terkejut.


Hampir saja Cyara berteriak, tetapi detik selanjutnya dia terdiam dengan air matanya yang sudah meluncur deras. Dia menatap De dengan tatapan memohon, sementara mulutnya sudah dibungkam oleh pria berjambang lebat itu.


"Diam dan ikut denganku," bisik De dengan pelan. Cyara tak bisa apa-apa selain mengangguk patuh. Tubuhnya yang bergetar, mengikuti langkah kaki De menuju salah satu sudut rumah sakit.


Sementara kedua orang itu berdecak keras, karena gagal menjalankan misi. Sebab orang yang mereka cari berhasil kabur. Namun, mereka sangat yakin. Cyara masih berada tak jauh dari sini, akhirnya mereka memutuskan untuk berpencar dan mencari keberadaan Cyara lagi.


De baru saja melepaskan tangannya dari tangan Cyara saat mereka berhenti di depan sebuah ruangan yang jarang dikunjungi, tepat pada saat itu Cyara langsung bernafas dengan lega. Dan detik selanjutnya dia menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


Dia menumpahkan ketakutannya di depan De. Sebab ia tidak tahu sampai kapan dia harus seperti ini, keluar dengan kucing-kucingan dan selalu merasa was-was. Sedangkan ia tidak bertemu dengan sang ayah. Jangankan bertemu, untuk menanyakan kabarnya saja dia sangat takut.


De memerhatikan Cyara yang menangis tersedu-sedu di depannya. Bahu gadis itu naik turun dengan kepala yang menunduk dalam. De melihat ke bawah, lalu kembali menatap Cyara yang terlihat sangat menyedihkan.


"Hei, kenapa menangis? Bukankah aku tidak menginjak kakimu?" tanya De, mencoba mencairkan suasana. Sebab kini dia bisa melihat ketakutan yang meliputi hati gadis manis itu. Perlahan De percaya bahwa ada seseorang yang mengejar-ngejar Cyara.


Mendengar itu, Cyara membuka maskernya dan menatap De sekilas. Dia terus sesenggukan dengan air mata yang tak berhenti untuk turun. "Ini beda, Om. Cia takut." Ujarnya lalu memeluk tubuhnya sendiri, dia tergugu lalu kembali menatap jalan raya yang masih sedikit terlihat. Meski orang-orang itu sudah pergi, tidak bisa dipungkiri bahwa mereka pasti akan kembali lagi.


"Memangnya siapa mereka?" Tanya De dengan suara memelan. Dia mulai menunjukkan rasa simpatinya. Entah itu karena dia melihat langsung kejadian tersebut, atau karena dia melihat Cyara yang begitu ketakutan.


De menarik tangan Cyara dan membawa gadis itu ke ruangannya. Dan hal tersebut membuat Alana memicing tak suka, dia yang baru saja melihat keduanya berada di tempat sepi hendak menguping pembicaraan mereka. Namun, sepertinya De menyadari keberadaannya.


Ck, sial! umpat wanita itu dengan memasang wajah masam.

__ADS_1


Sementara De tidak sadar, di sepanjang lorong ia berjalan sambil menggandeng tangan Cyara hingga masuk ke dalam ruangannya. Di sana De memilih sofa untuk menjadi tempat mereka bicara.


De menghela nafas dengan berat. "Sekarang katakan, siapa mereka."


Cyara sedikit mengangkat kepalanya, mata gadis itu senantiasa berkaca-kaca, hingga wajah De terlihat buram. "Kali ini Om benar-benar akan percaya padaku?"


De menghindari tatapan mata Cyara, dengan gerakan sedikit ragu akhirnya dia mengangguk. "Hem. Bicaralah."


"Aku sudah bercerita sebelumnya, bahwa itu semua ulah pamanku. Aku yakin mereka orang-orang suruhan Paman, tapi sepertinya mereka orang baru. Paman tidak akan mengampuni para pekerjanya yang melakukan kesalahan. Mereka akan langsung mendapatkan hukuman. Maka dari itu, Kakek tidak pernah percaya padanya. Sebagian besar aset yang kakek punya jatuh ke tangan Daddy Cia. Makanya setelah Kakek meninggal, Paman mulai membalaskan dendamnya. Bukan hanya pada Daddy, tapi juga pada Cia, " jelas Cyara lalu dia kembali tergugu, air matanya mengucur deras dengan kepala yang terus menunduk dalam.


"Cia, takut," adu gadis itu dengan bibir yang terus bergetar hebat.


Melihat itu, batin pria yang ada di hadapannya kembali terusik. De menggerakkan tangan dengan perlahan. Hingga jemari pria itu menyentuh ujung topi yang Cyara kenakan.

__ADS_1


Cyara terus terdiam. Dia hanya fokus dengan rasa takut yang mendera hatinya. Sementara De dengan pelan membuka topi Cyara, lalu mengusap puncak kepala gadis itu dengan lembut.


"Jangan takut, ada aku di sini."


__ADS_2