
"Kalau serius pun tidak apa-apa. Kan kita tidak tahu ke depannya bagaimana."
Ucapan Clarissa membuat Choco sedikit tercengang, dia menatap gadis itu dengan sebuah kernyitan di dahi, apa maksudnya?
Lidah pria itu kelu, dia seperti tak sanggup bicara untuk sekedar menimpali ucapan Clarissa. Sementara gadis itu hanya tersenyum, dia menoleh ke arah Choco yang tampak kebingungan.
"Apa aku salah bicara?" tanya Clarissa, membuyarkan lamunan Choco, pria itu pun mengangkat wajah hingga mereka kembali bersitatap dengan netra yang dipenuhi tanda tanya.
"Ah, tidak. Kita kan memang tidak tahu takdir apa yang akan kita jalani. Jadi, aku juga tidak bisa mengatakan tidak mungkin," jawab Choco.
"Benar, tapi untuk saat ini aku belum memikirkan hal itu. Ada banyak cita-cita yang belum bisa aku gapai, termasuk membahagiakan Bunda. Aku tidak tahu kapan aku bisa memikirkan diriku sendiri, yang ada di otakku hanya ada belajar, agar aku bisa membuat mereka semua bangga memilikiku," jelas Clarissa, membuat sebuah harapan itu tiba-tiba patah.
Choco tak bisa langsung menjawab, dia bergeming untuk mencerna semua perkataan Clarissa. Dia jarang sekali dekat dengan seorang wanita, tetapi dia pun tidak terlalu kaku seperti De.
Dari cara Clarissa menanggapi ucapan Zoya. Dia tahu bahwa gadis itu menolaknya dengan cara sehalus mungkin. Meski diawal gadis itu membangkitkan sebuah harapan yang begitu tinggi untuknya. Namun, ada satu yang perlu kita percaya, terkadang sebuah harapan tak seindah dengan kenyataan.
Choco menghela nafas panjang, dan mencoba tersenyum meski getir. Tak bisa bohong, dia sedikit memiliki ketertarikan pada Clarissa. Dari cara gadis itu bicara, tersenyum dan menatap matanya. Dia menyukainya.
"Itu wajar. Umurmu masih sangat muda, masih ada banyak fase yang belum kamu lalui, jadi nikmati saja apa yang sekarang kamu miliki. Kejar cita-citamu sampai dapat, tiba waktunya jodoh pasti akan datang meski tidak kamu cari," timpal Choco berusaha untuk sebijak mungkin.
__ADS_1
Mendengar itu, Clarissa pun tersenyum, dia merasa cukup nyaman mengobrol dengan Choco. Hingga sebuah tangan tiba-tiba terangkat dan mengusak puncak kepalanya.
"Semangat Adik Kecil," ucap Choco, berusaha untuk menutupi rasa kecewa yang tiba-tiba menyapa. Sekali lagi, dia ingin melihat senyum Clarissa.
"Iya, Kakak Besar," jawab Clarissa yang membuat keduanya terkekeh secara bersamaan.
*****
"Ziel, kenapa sih setiap pulang mintanya tidur dengan Grandma? Kan Mommy juga mau tidur dengan Ziel," keluh Jennie, karena lagi-lagi Ziel menolak untuk diajak tidur bersama. Putra kesayangannya itu lebih memilih untuk tidur bersama Zoya.
"Itu karena Ziel rindu dengan Grandma, Mom," jawab Ziel dengan tatapan polos.
Wajah Jennie sendu, dia menggenggam kedua tangan Ziel, hingga bocah tampan itu menghadap ke arahnya. "Memangnya Ziel tidak merindukan Mommy?"
"Tentu saja rindu. Tapi rindu Grandma juga."
Haish, Aneeq hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar jawaban putranya. Sementara manik mata pria itu fokus ke depan televisi, sebab dia dan Bee sedang menonton acara liga sepak bola.
"Malam ini saja, tidur dengan Mommy yah, Mommy rindu tidur dengan Ziel," rengek ibu hamil itu sambil meletakkan kepalanya di atas kepala Ziel.
__ADS_1
Bocah tampan itu tak langsung menjawab, dia mencoba berpikir untuk mencari cara. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepalanya. "Bagaimana kalau kita tidur bertiga." Ujar Ziel, yang mana membuat Jennie langsung mengangkat kepala.
"Maksudnya?"
"Mommy, Grandma dan Ziel."
"Hei, lalu Daddy bagaimana?" timpal Aneeq memprotes ide putranya.
"Daddy tidur sama Grandpa saja. Kan kalian sama-sama pria dewasa."
Hah?
***
Siapa nih yang ngeship² Clarissa sama Choco? 🤣🤣🤣
Wkwk, mangap ye sepertinya ngothor tidak bisa merestui, sebab udah ada edi buat dia. Nantikan di buku barunya anak uler-uleran 😂😂
Salam anu👑
__ADS_1