Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Moo&Poo #28


__ADS_3

Akhirnya acara sakral pun selesai. Kini sepasang pengantin itu sudah sah menjadi suami istri. Ken dan Zoya kembali melepas putra mereka dengan haru, sebab satu persatu mereka memiliki keluarga masing-masing.


"Jaga istrimu dengan baik ya, Sayang," ucap Zoya sambil memeluk erat tubuh Bizard. Dia terus menangis sambil mengelus kepala putra keduanya itu.


"Pasti, Mom, aku akan menjaga dia seperti aku menjaga Mommy dan dua adik perempuanku," balas Bee sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh sang ibu.


Sementara di sampingnya, Ken terus mengusap bahu Zoya. Agar wanita itu lekas tenang. "Sudah, Sayang. Lagi pula anak kita tidak ke mana-mana." Ujar Ken membujuk istrinya.


Hingga akhirnya Zoya melepaskan pelukannya pada tubuh Bee, kemudian beralih pada menantu barunya. Joana tersenyum manis, kemudian menyalimi tangan Zoya.


Namun, Zoya malah menarik tubuh Joana untuk dipeluknya. Sama seperti dia memperlakukan Bizard. "Selamat ya, Sayang. Akhirnya penantian kalian berujung manis juga."


"Terima kasih, Mom. Aku sangat bahagia karena dapat menikah dengan anak Mommy."


"Harus, kalau tidak bahagia biar Mommy marahi Bizard."


Mendengar itu, Joana pun terkekeh kecil.. Kemudian pelukan itu terlepas karena Baby Fierce yang mulai rewel. Dia meminta lepas dari gendongan Choco, saat melihat ibunya yang memeluk orang lain.


"My, Emmy, Emmy ...." Bayi tampan itu terus menunjuk-nunjuk Zoya. Hingga akhirnya wanita itu pun mendekat, mengambil alih Baby Fierce dari gendongan Choco.


"Kenapa kamu mirip sekali dengan Kak An sih? Posesif terus pada Mommy," ujar Choco sambil mencubit pipi adiknya, karena merasa sangat gemas. Namun, cubitan itu malah membuat Baby Fierce menangis.


"Huaaa ... Emmy," rengek Baby Fierce.

__ADS_1


"Duh, Cho, jangan godain adikmu kenapa sih? Sana godain yang lain saja, cari pacar bila perlu," ucap Zoya sambil menenangkan sang anak yang terlihat sudah kepanasan dan juga kehausan.


Bibir Choco mencebik mendengar ucapan ibunya. Lantas dia memutar langkah, tetapi dia malah disuguhi wajah Aneeq yang tengah mengejeknya.


"Cari pacar sana!" ledek Aneeq yang kini tengah memegang stroller Baby Lee.


"Diam atau aku akan ganggu anakmu supaya dia bangun," ancam Choco dengan wajah tak main-main, malas sekali kalau sudah bicara tentang pacar, pacar dan pacar.


"Yeh kok marah-marah? Aku hanya mengikuti apa kata Mommy. Lagi pula, kan hanya kamu yang masih jomblo di sini."


Mendengar itu, Choco dengan langkah lebar mendekati Aneeq dan Baby Lee. Tanpa diduga dia benar-benar menggoyang-goyangkan kaki bayi tampan itu agar bangun.


"Hei, hei, hentikan, Sialan!" ketus Aneeq sambil mendorong bahu Choco, tetapi pria itu tak peduli dia menjahili Baby Lee supaya Aneeq kerepotan.


"Ayo keponakanku yang tampan, bangunlah, buat Daddy-mu ini mengurusmu, bukan mengurusi orang lain," ujarnya dengan mata yang menyipit.


"Biar saja, nanti kan kamu buat dia tidur lagi."


Sialan! Aneeq kini sudah melayangkan kaki untuk menendang bokong Choco karena bayinya mulai merengek.


"Pergi sana!" ketus Aneeq, kemudian melihat ke arah stroller, Baby Lee mulai menangis dan melepaskan dot yang sedari tadi menyumpal mulutnya.


"Huaaa ...."

__ADS_1


"Aduh, Sayang, jangan menangis dong, kan baru tidur." Aneeq menepuk-nepuk bokong Baby Lee, sementara matanya menatap tajam ke arah Choco.


Choco terkekeh puas, suruh siapa meledeknya terus. Dia pun akhirnya pergi dan tak sengaja bertemu dengan Clarissa, karena tidak ada siapapun yang bisa ia ajak bicara selain gadis itu, akhirnya Choco pun tidak memiliki pilihan lain. Dia mencoba menyapa gadis manis itu.


"Hai, Cla."


"Hai, Kak. Apa kabar?" balas Clarissa dengan bibir tersenyum manis. Senyum yang mampu membuat Choco berdebar.


"Aku, aku baik. Bagaimana denganmu?"


"Aku juga baik, sudah lama kita tidak bertemu, Kakak terlihat semakin tampan."


Astaga, ada apa dengan jantung Choco, kenapa dipuji seperti itu saja rasanya ingin copot. Namun, karena tak ingin gadis itu tahu, Choco menetralisirnya dengan tertawa.


"Haha. Kamu juga semakin cantik. Bagaimana dengan kuliahmu?"


"Aku sudah masuk semester 6, Kak. Oh iya, sepertinya lebih baik kita cari tempat duduk untuk mengobrol, supaya lebih enak."


"Boleh."


Akhirnya kedua orang itu mencari tempat untuk mengobrol, dan mereka memilih satu meja di sudut ruangan. Jika orang yang tidak tahu mungkin akan mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih, tetapi ternyata hubungan mereka tidak lebih dari itu.


"Satu anak kita sedang usaha," bisik Zoya pada Ken, sambil menatap ke arah Choco dan Clarissa.

__ADS_1


Ken mengikuti arah mata Zoya. "Biarkanlah, Sayang. Supaya cucu kita bertambah semakin banyak. Nanti aku akan buat silsilah keluarga."


Haha. Zoya langsung tertawa.


__ADS_2