Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Masih Salah Paham


__ADS_3

Sepanjang kakinya melangkah De terus menggelengkan kepala, mencari kewarasannya. Dia tidak ingin terus-menerus terjebak dalam rasa yang baru pernah dia rasakan. Tentang ciuman.


Sedari tadi sebenarnya De tidak bisa fokus, sebab dia terus membayangkan bibir mungil Cyara yang tadi pagi dia sergap tanpa diketahui oleh pemiliknya. Rasanya sungguh menggelitik dan juga mendebarkan jiwa.


Bahkan degub jantung De terasa lebih kencang, hanya dengan memikirkannya saja.


"Haish, kamu memikirkan hal yang tidak penting De," gumam pria yang sudah ada di balik kemudi. Dia memegang stir dengan tatapan mata lurus. Dia mencoba untuk menarik nafas dan menghembuskannya beberapa kali, berharap dengan cara itu dia dapat melupakan kelakukan nakalnya tadi pagi.


Akhirnya De menyalakan mesin mobil, keluar dari area basemen dan melaju ke arah rumah sakit. Meninggalkan Cyara yang masih mematung di tempat duduknya. Gadis cantik itu terlihat melamun, lalu tak berapa lama kemudian Cyara mengacak-acak rambutnya.


"Kenapa aku jadi kepikiran benda itu?" Cyara frustasi sendiri, sebab setelah melihat benda yang menggantung di tubuh De, pikirannya tak lagi jernih.


"Dan kenapa malah aku yang merasa malu? Sedangkan Om Dokter terlihat biasa saja, apa karena dia sering mengumbarnya?"


Cyara mulai cemberut, membayangkan De yang membanggakan senjatanya di depan para wanita. Tiba-tiba gadis itu mendesah. "Ish, pasti karena miliknya besar, dia jadi suka pamer! Ah, Cia ... ayolah, jangan berpikir yang tidak-tidak. Kamu ini masih kecil. Dia juga menyuruhmu melupakannya."


Cyara memeriksa pipinya yang memanas. Bukan karena demam, itu semua karena dia masih merasakan malu yang luar biasa. Sebab ia melihat sesuatu yang belum semestinya.


"Ah, Cia tidak bisa! Cia tidak melupakannya begitu saja."


Cyara menghentak-hentakan kakinya di kolong meja. Lalu menangkup kedua sisi wajahnya yang memerah. Tidak boleh dibiarkan! Kalau begini ceritanya yang ada De akan mencibirnya sebagai gadis mesum.


Demi mengusir pikiran negatif yang ada di otaknya. Akhirnya Cyara memutuskan untuk melakukan perintah De, yakni membereskan sisa makanan dan meminum obat. Baru setelah itu dia akan berisitirahat.


***


Rumah Sakit Puri Medika.

__ADS_1


De sedikit berlari menuju ruangannya. Baru saja sampai di ambang pintu, Candra sudah menghadang dengan kain pel di tangannya.


"Dokter De!" panggil pria muda itu dengan sedikit keras, juga tatapan mata yang tak begitu ramah. Pagi tadi dia telah kelimpungan mencari Cyara, tetapi ada salah satu perawat yang bilang bahwa gadis itu dibawa oleh Dokter De, entah ke mana.


De yang kala itu sudah memegang gagang pintu segera menoleh. Dia menatap Candra seperti biasanya. Sebab ia benar-benar tak merasa curiga.


"Ada apa, Can?"


Candra menyandarkan kain pel tersebut di dinding. Lalu tangannya bertolak pinggang, seolah tak takut pada pimpinan tertinggi di rumah sakit ini.


"Dokter harus jujur pada saya. Dokter membawa Cyara ke mana? Saya tahu hubungan di antara kalian itu seperti apa, tapi saya mohon, Dok. Jangan berlaku semena-mena, karena saya sudah menganggap Cyara sebagai adik saya," jelas Candra dengan suara penuh penekanan.


De sedikit mengernyit, tingkah Candra ini mulai sedikit aneh semenjak berteman dengan Cyara. De merasa bahwa Candra telah mengintimidasinya dengan pemikiran yang begitu buruk.


"Aku telah memindahkannya."


"Apa maksudmu, Can?"


Candra menghela nafas, dengan kepala yang sedikit berdenyut. Dia tidak bisa membayangkan, buasnya De saat menghajar tubuh Cyara yang begitu mungil, hingga gadis itu tidak berdaya.


"Begini, Dok. Saya minta maaf, karena ikut campur. Tapi saya mohon dengan sangat, jangan lakukan lebih dari dua kali."


Mendengar itu, De semakin mengernyit tak mengerti. Ke mana arah pembicaraan pria muda ini? De sampai melongo dengan mulut yang tak berhenti terbuka, sementara pikirannya terus melalang buana. Menebak pikiran Candra.


Namun, De benar-benar tidak dapat menemukan apapun. Dia malah teringat ciumannya dengan Cyara.


Cih!

__ADS_1


"Maaf, Can. Bisa jelaskan padaku maksud ucapanmu? Aku benar-benar tidak paham, memangnya aku melakukan apa?" Akhirnya De menyerah. Dia menatap Candra yang mendengus kecil, seolah menganggap bahwa dia pura-pura bodoh.


Candra sedikit memajukan wajahnya, dengan tatapan sinis dia berkata. "Dokter sudah melakukan itu-itu 'kan dengan Cia?"


Blash!


Amblas sudah pikiran De. Dia langsung memicing tajam ke arah Candra dengan bibir yang mengatup, siap untuk mengumpat. Dia paham sekarang, apa maksud Candra selama ini. Jadi Candra menganggap bahwa dirinya telah melakukan hubungan terlarang dengan Cyara.


"Sepertinya aku harus memeriksa otakmu!" cetus De, membuat Candra menarik diri dan menautkan kedua alisnya.


"Dok—"


"Aku tidak melakukannya, Candra. Dan perlu kamu ingat, aku bukan maniak seperti yang ada di pikiranmu!" tukas pria berjambang lebat itu. Dia memotong ucapan Candra, baru kemudian dia membuka pintu.


Brak!


Candra langsung berjengit, karena merasa terkejut.


***


Deterjen : Thor, kenapa judulnya diganti?


Ngothor : Sepertinya aku tidak perlu menjelaskan 🥴🥴🥴


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE 💋💋💋


SENIN OEY🐍🐍🐍

__ADS_1


__ADS_2