Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Moo&Poo #14


__ADS_3

Seperti ucapan De beberapa saat lalu, bahwa dia akan mengajak sang istri untuk melihat air terjun. Tanpa membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, De langsung memakai pakaiannya kembali.


"Sayang, ayo pakai bajumu, katanya mau lihat air terjun," ucap De, melihat Cyara masih bergelung di bawah selimut.


Sial! Apa De tidak pernah berpikir sedikitpun bahwa mendapatkan pelepasan itu rasanya sangat lemas. Tubuhnya seperti tidak memiliki tulang, hingga membuatnya tak dapat bangun dengan normal.


Bahkan jika boleh memilih, Cyara ingin beristirahat saja, tanpa diganggu oleh suaminya.


"Poo, tidak bisakah kita beristirahat sebentar? Kamu telah mengambil tenaga yang sudah aku siapkan untuk jalan-jalan, jadi biarkan aku memulihkannya," balas Cyara dengan suara lemah.


Tangannya yang gemulai menarik selimut, agar tidak ada celah yang dapat De lihat.


Pria itu terkekeh. Karena merasa kasihan pada Cyara, akhirnya dia mengalah. Kini De hanya memakai celana kolor dan juga kaos hitam polos, dia memutuskan menemani sang istri untuk beristirahat barang sebentar.


"Janji hanya sebentar, kalau tidak, kita tidak akan jadi pergi," bisik De, seraya merengkuh pinggang Cyara. Mengunci gadis cantik itu menggunakan kaki jenjangnya yang dipenuhi bulu-bulu.


"Kenapa harus janji segala?" protes Cyara.


"Kalau lama-lama yang ada ularmu keluar lagi dari kandang, dan kamu akan kembali dimakan."


Cyara mendelik, De ini berbahaya sekali, "kamu makan apa sih? Perasaan sama saja denganku, tapi kenapa kekuatanmu seperti manusia super?"


De tergelak kencang.


"Apa kamu pernah bercinta dengan manusia super?"


"Ya, dan kamu lah manusia supernya!" ketus Cyara. Sementara De kembali terkekeh keras, merasa gemas dengan tingkah istri kecilnya.


"Ya sudah, beristirahat lah, Sayang. Nanti aku pesankan jus supaya kamu lebih segar."

__ADS_1


De membalik tubuh Cyara dan memeluknya erat.


Cup!


Cyara merasakan sebuah kecupan di puncak kepalanya. Dia semakin mengusak ke dalam dada bidang De, mencari kenyamanan hingga akhirnya dia benar-benar terlelap.


***


Pukul 2 siang.


De terbangun, dia meminta pelayan mengantar beberapa makanan. Hingga kini meja di depan sofa itu penuh dengan berbagai macam masakan yang menggugah selera.


Cyara menggeliat dengan meregangkan otot-otot tubuhnya. Mata gadis itu menyipit menyesuaikan cahaya. Lalu melirik ke arah De yang sedang menyiapkan makan siang untuk mereka.


"Poo, kamu sedang apa?"


"Kamu sudah bangun? Kebetulan aku sudah memesan banyak makanan, kita makan sama-sama."


Patuh, Cyara langsung meminum air berwarna orens itu hingga tandas. Kemudian mereka makan siang bersama.


Cyara sudah lebih bugar sekarang, dia kembali ceria sebab De benar-benar akan membawanya ke salah satu objek wisata.


"Pegang tanganku!" titah De seraya mengulurkan telapak tangannya. Cyara meraih tangan besar nan hangat itu sambil tersenyum.


"Apa kita akan mandi di sana, Poo?"


"Hem, lebih dari mandi juga tidak masalah."


"Poo!" rengek Cyara, sudah paham ke mana arah pembicaraan suaminya.

__ADS_1


"Apa sih, Sayang? Memangnya ada yang salah dengan ucapanku?"


"Cih, tidak tahu ah!"


Bibir Cyara mencebik, tetapi kakinya terus mengikuti langkah De. Ada satu penjaga pulau yang menjadi pemandu mereka menuju air terjun yang cukup jauh dari penginapan.


"Memangnya kita tidak bisa pakai kendaraan apa?"


"Jalan kaki lebih romantis, Moo. Supaya lebih sehat juga."


Nafas Cyara terengah, karena jalanan yang naik. De melihat itu, hingga dia berjongkok untuk menyerahkan punggungnya. "Naiklah, Sayang."


Cyara mengerjap, lalu menengadah. "Tapi nanti Poo kelelahan bagaimana?"


"Lebih baik aku kelelahan dari pada merasa tidak berguna!" De meraih pergelangan tangan Cyara. Hingga melingkar sempurna di lehernya.


Pipi Cyara bersemu merah, merasa begitu dimanjakan, sebab kini dia sudah sukses menempel pada punggung suaminya. Cih, dia mirip sekali dengan benalu, bisanya hanya merepotkan!


"Jangan berpikir ini gratis," bisik De, membuat senyum di bibir Cyara langsung sirna.


De meneruskan langkah dengan terkekeh pelan, menginjak rumput-rumput hijau hingga tak berapa lama kemudian sampai lah mereka di salah satu air terjun yang memiliki keindahan alam yang menakjubkan.



"Wah indah ya, Poo."


"Benar, Moo. Benar-benar cocok untuk bercocok tanam."


Plak!

__ADS_1


***


Poooo pikiranee🙄🙄


__ADS_2