
De memutuskan untuk tidak menemani Cyara hari ini, pada sidang putusan Austin dan Riana, biarlah diwakilkan oleh saudara kembarnya. Dia tinggal menunggu kabar baiknya saja.
Sebab dia pun sedang menyiapkan sesuatu untuk Cyara. Malam ini De akan membawa kedua orang tuanya datang ke rumah keluarga Ramsey untuk meminang gadis cantik itu.
Dia dan Andrew sudah sepakat tidak memberitahu Cyara. De ingin membuat sedikit kejutan, agar kekasihnya itu merasa haru. Sekaligus membuktikan bahwa dia pun bisa bersikap romantis, meskipun dia tipe pria kaku.
"Sayang, kamu sudah menyiapkan cincinnya?" tanya Zoya, yang kala itu tengah membungkus tas dan juga sepatu untuk Cyara.
Wanita hamil itu tengah menyiapkan barang-barang yang akan dibawa ke kediaman mempelai wanita, bersama dengan El dan Jennie. Di antara mereka, hanya El yang belum hamil sampai saat ini, tetapi Caka selalu meyakinkan istrinya, bahwa mereka akan dikaruniai bayi di waktu yang tepat, sekarang mereka hanya bisa berdoa dan berusaha. Karena tidak akan ada perjuangan yang sia-sia.
"Sudah, Mom. Aku dapat rekomendasi toko dari An untuk mendesign cincin yang bagus," jawab De, dia memang sempat mendiskusikannya dengan Aneeq, dan ternyata sang kakak memiliki beberapa teman yang membuka toko perhiasan.
"Baguslah kalau begitu, nanti soal dress biar jadi urusan El, iya 'kan, Sayang?"
"Of course, Mom. Pokoknya beres, nanti kita buat couple dress di acara pernikahan Kak De. Aku akan mendesign untuk kita sekeluarga," jawab El antusias, belum memiliki kesibukan apapun sebagai ibu rumah tangga, memang membuat El kerap merasa jenuh.
Jadi, dia memutuskan untuk tetap bekerja dan membuat design yang begitu banyak.
"Jangan hijau lagi, El. Pakai warna lain," timpal Jennie, sambil memegang benda berbentuk kacamata yang memiliki ukuran imut-imut. Dia sampai tersenyum-senyum, merasa malu sendiri karena mengingat ukuran miliknya yang jauh lebih besar dari Cyara.
Apalagi dia tengah hamil, maka kian besar pula semangkanya. Dan tentunya hal tersebut sang menguntungkan bagi si calon ayah.
"Pakai warna pink saja!" tukas De, padahal saat itu Zoya hendak bicara.
__ADS_1
"Kenapa pink?" tanya El.
"Sudah pokoknya aku mau warna itu!" tegas De, sebab yang ada di pikiran pria itu sekarang adalah kue mochie berwarna pink.
Ketiga wanita berbeda generasi itu saling pandang, dan memilih untuk tidak berkomentar. El hanya mengiyakan saja keinginan sang kakak, lalu kembali membungkus barang-barang yang tersisa.
Malam datang, saat itu di rumah Cyara sedikit ramai seperti akan diadakan sebuah jamuan. Cyara sendiri tak mengerti, kenapa sang ayah tiba-tiba menyuruh para asisten rumah tangga memasak banyak makanan.
"Dad, memangnya kita akan kedatangan tamu?" tanya Cyara.
"Daddy ingin membuat syukuran karena akhirnya Daddy sudah sembuh," jawab Andrew, dia mengelus puncak kepala Cyara secara tiba-tiba, membuat gadis itu semakin merasa aneh. "Ganti baju sana, dandan yang cantik sama Ara."
"Kenapa mesti dandan, Dad?"
"Sudah sana! Daddy ingin melihat dua putri Daddy terlihat cantik malam ini." Andrew sedikit mendorong bahu Cyara, hingga akhirnya gadis itu pun patuh, dia menaiki anak tangga untuk masuk ke dalam kamarnya.
Wanita itu pun ikut tersenyum, seperti mengulas tanda terima kasih pada Andrew, karena telah membesarkan anak mereka dengan baik.
Hingga tak terasa sudut mata Andrew pun berair, dia mengusapnya pelan lalu melangkah ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap menyambut kedatangan keluarga Tan.
"Putri kita sudah besar, Brigitta."
Satu kalimat itu lepas, sebelum Andrew menutup pintu.
__ADS_1
Di kamar atas.
Cyara didandani oleh Clarissa, dia sedikit memoles wajahnya dengan make up agar terlihat lebih fresh. Itu semua dia lakukan karena ingin membuat Andrew senang, dia sama sekali tidak berpikir bahwa malam ini De dan keluarganya akan datang.
"Kamu memang selalu terlihat cantik, Ci. Dia pria yang beruntung karena memiliki kekasih sepertimu."
Cyara terkekeh.
"Aku yang beruntung memilikinya, Cla. Kamu kapan punya kekasih? Jomblo itu tidak enak tahu."
"Itu bagimu, bagiku memiliki pacar lebih tidak enak."
"Kata siapa? Bagiku enak, karena setiap kita bertemu, kita bisa berciuman."
Clarissa sontak menoyor kepala Cyara. "Itu karena otakmu mesyum!"
Kekehan Cyara semakin keras.
"Dia yang mengajariku, Cla. Pria dewasa cara berpacarannya memang beda."
"Sudah-sudah, aku tidak mau membahasnya. Lebih baik sekarang kita turun, pasti Daddy sudah menunggu lama."
Cyara pun patuh pada saran Clarissa, mereka turun setelah selesai berdandan. Namun, di tengah tangga, jantung Cyara seperti berhenti berdetak saat melihat banyak mobil di halaman rumahnya.
__ADS_1
Gadis cantik itu tak ingin menduga-duga. Namun, ternyata sosok tegap dengan jambang lebat itu berhasil membuat tubuhnya membeku seketika.
Deg!