
Hari itu De terlihat sangat sibuk, karena jumlah pasien yang tiba-tiba membludak. Dia sampai tidak dapat menghubungi Cyara, sebab setibanya di rumah sakit, dia langsung dipanggil untuk memeriksa pasien yang mengalami kecelakaan.
Di kala kesalahpahamannya dengan sang kekasih, dia seperti diuji dengan waktu yang tak kunjung ada. Bahkan jam makan siangnya sedikit terlambat, karena dia belum bisa beristirahat.
Hampir pukul 2 siang, akhirnya De bisa bernafas dengan lega. Pria itu segera meminta Candra untuk membelikannya makanan lalu masuk ke dalam ruangannya.
Baru saja De menutup pintu, dia langsung dikejutkan oleh sebuah suara. Ya, tiba-tiba Cyara memutar kursi kebesaran De, hingga kedua pasang netra itu saling tatap.
Cyara sengaja menunggu di dalam ruangan pria itu, karena memang tidak dikunci sama sekali. Mereka tak bicara, hanya ada sorot mata yang saling meminta kejelasan.
Namun, pada akhirnya Cyara lah yang bangkit dari kursi dan segera menghambur untuk memeluk tubuh De dengan erat. "Maaf ... maafkan aku, Poo."
De terdiam, tidak seharusnya dia kesal pada Cyara hanya karena hal seperti itu. Namun, egoisme mengalahkan akal pikirannya, membuat dia terlihat seperti anak kecil yang selalu ingin dimengerti.
"Aku tidak bermaksud berbicara ketus padamu. Aku minta maaf, tapi please ... jangan diami aku seperti ini, aku tidak bisa. Kalau kamu marah, ayo bicara! Maki aku sepuasmu, supaya hatimu lega," jelas Cyara, dia terus membenamkan wajah di dada bidang De, berharap pria itu akhirnya buka suara.
"Dari pagi aku menunggu kamu menghubungiku, aku selalu berpikir bahwa kamu memiliki waktu. Ternyata aku salah, aku yang tidak memahami pekerjaanmu, kamu sibuk sampai makan siang pun terlambat. Maafkan aku yah, ayo bicara seperti biasanya. Aku rindu suaramu, Poo ...."
Mendengar itu, nyatanya membuat De tak bisa untuk tidak tersenyum. Pria itu pelan-pelan mengangkat tangan, lalu membalas pelukan Cyara. Dia juga meninggalkan kecupan di puncak kepala gadis itu.
"Kamu tidak salah. Dan seharusnya aku yang minta maaf karena sudah membuatmu khawatir. Hari ini aku memang sangat sibuk, Sayang. Jadi maafkan aku, karena tidak sempat menghubungimu."
"Tapi Poo pergi begitu saja, tanpa pamit padaku. Dari sana, aku tahu aku salah karena membuat Poo marah."
__ADS_1
De mengembuskan napasnya kasar. Dia juga tidak tahu, kenapa dia bisa bersikap seperti itu. "Tidak, aku tidak marah padamu. Ke depannya, aku akan berhati-hati dengan tindakanku, aku tidak akan memaksamu jika memang kamu tidak menyukainya."
Mendengar ucapan De, Cyara pun mendongak. "Siapa bilang? Aku suka kok. Tapi—"
"Tapi apa?" tanya De sambil menyelipkan anak rambut Cyara, dia mengangkat tubuh gadis cantik itu, lalu membawanya duduk di sofa.
Cyara langsung menahan tubuhnya dengan meletakkan tangan di dada De. Dia kembali menggigit bibir, malu untuk mengatakannya.
"Kalau kamu tidak ingin bicara, ya sudah tidak apa-apa. Kali ini aku benar-benar tidak akan memaksa," ujar De, melihat kegelisahan di wajah kekasihnya.
Namun, Cyara malah menggeleng, yang dia tangkap dari pembicaraan De, dia harus mengatakan apa yang sebenarnya. Atau pria itu akan tetap marah. "Bukan seperti itu, aku hanya takut. Aku takut menginginkan yang lain, itu saja."
Setelah mengatakan itu pada De, Cyara langsung menundukkan wajah. Pipinya merona entah sebab apa. De menatap lekat wajah Cyara.
"Aku sudah sering bilang, kalau sedang bicara. Tatap lawan bicaramu! Kamu mengatakan apa tadi? Aku kurang mendengarnya." De sengaja menggoda Cyara, padahal telinganya masih berfungsi dengan sangat baik, dan mampu menangkap apa saja yang dikatakan oleh gadis cantik itu.
Mungkin dulu Cyara akan merasa takut, dan langsung patuh pada ucapan De. Akan tetapi tidak untuk sekarang, sebab Cyara malah memeluk leher De dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu.
"Poo, bohong! Aku tidak ingin mengulanginya."
De terkekeh.
"I am serious, Moo. Aku benar-benar tidak mendengarnya dengan jelas."
__ADS_1
Cyara mengusakkan wajahnya hingga menyisakan rasa geli, sebab bulu-bulu pria itu seperti sedang diusap-usap.
"Aku tidak peduli!"
"Kamu ingin bertemu ularku?"
"Poo!!!" jerit Cyara, sukses membuat pria tampan itu terkekeh semakin keras.
"Kenapa tidak bilang dari awal? Aku pasti akan memperlihatkannya kalau kamu mau. Tapi sedikit saja yah, dia masih malu padamu."
"Ish, tidak!"
"Sekarang?"
Cyara semakin mencebikkan bibirnya, menyesal bicara seperti itu pada De.
"Tidak mau! Jangan bicara lagi, atau aku akan—" Cyara menghentikan ucapannya, sebab dia merasakan sesuatu yang menggeliat di bawah sana. Gadis cantik itu menatap De yang tersenyum tipis.
"Ularmu bangun."
"Poo!!!"
***
__ADS_1
Dahlah 😪😪😪