
Semua orang telah berkumpul di ruang rapat. Austin bahkan sudah duduk di kursi tertinggi yang ada di ruangan tersebut. Dia ingin mengumumkan pada semua orang, bahwa kini perusahaan ada dalam kendalinya.
Dia akan menggantikan sang kakak yang kini belum juga sadar, lebih tepatnya entah ada di mana. Dia tidak akan menundanya lebih lama lagi, atau dia tidak akan mendapatkan apa-apa.
Setelah semuanya beralih, baru dia akan kembali mencari keberadaan Cyara. Dia pasti akan mendapatkan gadis itu, dan membalaskan dendamnya terhadap Andrew yang telah menghancurkan hidupnya. Menjadikan dia tak berarti apa-apa di mata semua orang.
Winda sudah duduk di sampingnya, dia memegang beberapa berkas yang dibutuhkan oleh Austin. Dia berulang kali menarik nafas dan membuangnya, merasa nervous sendiri.
Dalam hati wanita itu terus berdoa, semoga apa yang mereka rencanakan berjalan dengan lancar. Dia tidak boleh takut lagi untuk melawan Austin, sebab ada Aneeq di belakangnya.
"Tuan, apa sudah bisa dimulai, semua orang sudah berkumpul," ucap Winda, membuat Austin menoleh ke arahnya. Pria dengan tatapan penuh intimidasi itu mengangguk tanpa bicara.
Winda mengulum senyum tipis. Akhirnya wanita itu membuka rapat tersebut, dia mengumumkan pada semua peserta tentang tujuan mereka. Bahwa hari ini akan ada peralihan jabatan.
Dikarenakan Andrew yang tak kunjung sadar, dengan terpaksa perusahaan memilih pemimpin baru, karena mereka tidak akan mungkin bisa bergerak sendiri-sendiri, mereka memerlukan kepala.
__ADS_1
"Tuan Austin akan menggantikan kepemimpinan Tuan Andrew, sesuai dengan surat wasiat yang telah ditulis oleh beliau. Di sana menjelaskan jikalau terjadi sesuatu pada Tuan Andrew, apapun itu maka jabatan tertinggi di perusahaan akan digantikan oleh Tuan Austin, selaku adik beliau, ada hitam di atas putih sebagai penguatnya, seperti yang tertera di layar ...."
Winda menunjuk bayangan proyektor yang tengah menyala. Sebuah surat yang dibuat atas perintah Austin, bahkan mereka membubuhi tanda tangan palsu, mereka hanya menirunya dan diberi cap stempel milik Andrew. Hingga semua kebohongan itu terlihat sangat nyata.
Semua orang tampak mengangguk, mereka membenarkan bahwa itu adalah tanda tangan Andrew karena tidak terlalu jelas. Winda melirik ke arah Austin yang menyeringai tipis, dia yakin pasti Austin sangat bangga dengan kebohongannya.
"Itu adalah surat wasiat yang dibuat Tuan Andrew sebelum beliau mengalami kecelakaan, untuk mengenai beberapa hal yang belum jelas mungkin bisa ditanyakan ...."
Tiba-tiba seseorang mengangkat tangan, Winda langsung mempersilahkan pria berkacamata itu bicara.
"Maaf, Nyonya Winda, tapi bagaimana jika suatu saat Tuan Andrew bangun kembali, karena keadaan beliau sedang koma, bukan sudah tiada."
Baru saja Winda akan menjawab, tetapi suara pintu yang terbuka mengagetkan semua orang. Menampilkan beberapa orang berbadan kekar, dan tak lupa juga Aneeq yang melangkah paling depan.
"Dia orangnya, Pak. Tolong tangkap dia," ucapnya seraya menunjuk Austin dengan tatapan yang begitu remeh.
__ADS_1
Melihat itu sontak saja membuat Austin terperangah. Dia langsung bangkit dan membalas tatapan mata Aneeq tak kalah tajam. "Apa maksudmu?!"
Dua orang menghampiri Austin, salah satu di antara mereka membeberkan surat penangkapan. "Maaf, Tuan, berdasarkan tuntutan yang diajukan anda terpaksa ditangkap untuk melakukan penyidikan."
Makin membulat saja kelopak mata Austin, dia mengeratkan gigi depannya. Dia yakin sekali Aneeq sedang bermain-main dengannya, pria kurang ajar itu benar-benar tidak bisa dianggap remeh.
"Tuntutan apa?! Aku tidak melakukan apapun. Jadi, jangan macam-macam, kalian pasti salah orang," sentak Austin dengan penuh penekanan. Bahkan urat-urat ditubuhnya sudah menonjol, membuktikan bahwa dia sangat geram.
Mendengar itu, Aneeq terkekeh sambil bertepuk tangan. Membuat dia menjadi pusat perhatian. "Tuan Austin, kamu benar-benar merasa suci? Kamu tidak merasa melakukan kesalahan apapun, sampai dengan percaya diri kamu bicara seperti itu."
"JAGA BICARAMU, SIAL—" Austin menghentikan umpatannya, sadar betul bahwa tidak hanya ada mereka berdua. Bahkan semua orang tak lepas memandangi dia dan Aneeq.
"Aku tidak memiliki urusan denganmu, jadi sekarang pergi dan bawa orang-orangmu!" sambung Austin sambil menunjuk pintu.
"Tapi Nona Cyara memiliki urusan denganmu," ucap Aneeq, sejurus dengan itu gadis cantik dengan bibir tipis muncul dari balik pintu, membuat semua orang bertanya-tanya.
__ADS_1
Sementara Austin malah semakin menganga. Tidak! Tidak mungkin Cyara bersama dengan orang seperti Aneeq.
"Bagaimana, Tuan Austin? Apa kamu masih berpikir bahwa kamu tidak memiliki masalah?"