Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Moo&Poo #29


__ADS_3

Pesta pernikahan itu berlangsung meriah hingga malam. Dan Cyara terlihat sangat aktif, bahkan memakan banyak makanan, De sampai heran melihatnya, sebab tubuh Cyara pun bertambah semakin berisi sekarang.


Namun, di sini bukanlah tempatnya untuk membicarakan itu semua. Yang ada gadis cantik itu akan marah-marah.


"Moo, nanti kita menginap di mansion yah," ucap De, sambil menyuapi Cyara puding rasa mangga. Sementara gadis itu sedang berjoget ria, karena ada artis idolanya tengah membawakan lagu di atas panggung, untuk memeriahkan acara.


"Boleh, Poo. Tapi aku tidak bawa baju ganti lho."


"Nanti pinjam punya El, ukuran dia kan lebih pas denganmu."


"Haha iya, kalau punya Kak Jennie kan kedodoran." Cyara terbahak, teringat dengan dirinya saat memakai dress milik Jennie yang kebesaran di tubuhnya, terutama bagian dada. Jika dia yang memakainya, semua terlihat rata.


Bahkan saking kerasnya tertawa Cyara hampir tersedak. Membuat De langsung sigap mengambil air minum. "Hati-hati dong, Moo!" ucap pria itu cemas, bahkan sampai mengelus dada Cyara.


"Habis lucu, Poo."


"Kenapa? Kamu ingat kejadian dulu yah?"


"Hehe iya. Waktu itu kamu judes sekali, tidak disangka om-om ini menjadi suamiku," ujar Cyara kemudian terkekeh. Dia membuka mulut lagi, ingin De kembali menyuapinya.


"Kalau tidak judes, mungkin bukan kamu yang aku nikahi, Moo. Anggap saja sikapku seperti itu karena menunggu kamu hadir dalam hidupku," jawab De, dia pun tidak mengerti dengan sikapnya, kenapa berbeda sekali dengan keempat saudara kembarnya.


Cyara yang gemas menangkup kedua sisi wajah suaminya, kemudian menguyel-uyel. "Aaa Suamiku kiyowo sekali. Saranghae, Oppa."


"Aku belum jadi Opa-opa! Punya anak saja belum."

__ADS_1


"Ish, kamu tuh tidak melihat perkembangan jaman yah? Sekarang itu sedang demam Oppa-Oppa kiyopta. Aku mau nanti anak kita mirip mereka."


"Mana bisa! Aku yang membuatmu hamil, masa nanti miripnya mereka, aku tidak mau!"


"Ish, katanya kalau sedang hamil terus menonton mereka, nanti jadi mirip, Poo." Cyara merengek, hingga menundukkan wajah, ingin melihat raut wajah suaminya.


"Itu hanya mitos! Siapa sih yang mengajarimu mitos-mitos seperti itu?" Masih tidak terima, jika Cyara ingin anak mereka seperti orang lain. Enak saja, dia yang bersusah payah, berkeringat sampai pagi, malah ingin mirip dengan orang lain.


"Aaa itu ibu-ibu komplek sering bicara seperti itu."


"Sudah lupakan, lebih baik sekarang kamu habiskan makanan ini, lalu kita pulang, sebentar lagi pestanya selesai."


Cyara menghela nafas panjang. "Iya-iya, Poo." Gadis cantik itu membuka mulut dengan tatapan kesal, suaminya ini benar-benar menyebalkan.


Bahkan sampai di kamar, De masih senyum-senyum mengingat aksi mereka bertiga. Membuat Cyara menatap curiga.


"Kamu kenapa sih, Poo?" tanyanya, kini gadis cantik itu sudah membuka gaunnya, berganti dengan pakaian tidur milik El.


"Tidak, Sayang," jawab De, tapi masih mesam-mesem tidak jelas. Membuat wajah Cyara bertambah kesal.


"Ish, menyebalkan!"


Gadis itu duduk di depan meja rias, kemudian mengelap wajahnya menggunakan tisu. Sementara De menatap istrinya dari belakang, Cyara benar-benar terlihat semakin berisi sekarang, bahkan mochie kesukaannya bertambah semakin besar.


"Sayang, akhir-akhir ini kamu jadi doyan makan, kamu konsumsi obat?" tanya De menebak.

__ADS_1


Cyara melirik ke belakang dengan tatapan tajam. "Kamu mau bilang aku gendut? Enak saja, aku rajin olahraga tahu, lagi pula aku makan juga makanan sehat, sama seperti yang kamu makan. Aku tidak minum obat!" tegas Cyara malah mengomel. Membuat De menghela nafas kasar.


"Tidak, Sayang—"


"Tidak apa? Jelas-jelas tadi kamu bilang aku doyan makan, itu artinya kamu mau bilang aku gendut. Kenapa? Kamu tidak suka?"


"Sayang, aku—"


"Kalau tidak suka ya terserah, kita kan sudah menikah, mau tidak mau kamu harus suka!"


"Astaga! Kenapa suka sekali menyela ucapanku?" De bangkit, melangkah menuju Cyara, kemudian mencubit gemas pipi Cyara yang sudah seperti kue mochie. "Aku hanya bilang seperti itu, karena aku suka. Aku suka sekalipun kamu gendut dan sebagainya. Karena apa yang ada di tubuhmu, aku sangat menyukainya. Apalagi yang ini." Sudah menggenggam dan mulai meremass.


Pipi Cyara langsung memerah.


"Ih nakal!"


"Biar saja, mau nakal atau tidak, yang penting kita sudah menikah, jadi mau tidak mau harus nakal," ucap De membalikkan ucapan Cyara.


Mendengar itu, Cyara pun langsung terkekeh keras. Dan detik selanjutnya, pagelaran tanpa busana pun dimulai, De mengangkat tubuh Cyara, dan mendudukkannya di meja rias.


"Aku juga mau malam pertama."


Cup!


Satu kecupan, berhasil membuat mereka terbang ke nirwana, sebab dari sana sudah pasti akan merambat ke mana-mana.

__ADS_1


__ADS_2