Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Kamu Lebih Menyeramkan


__ADS_3

"Om, kita mau ke mana?" Satu kalimat itu senantiasa berdengung di telinga De. Sepanjang perjalanan, Cyara benar-benar tak mau diam. Ada saja yang gadis itu bicarakan.


"Om, kalo orang nanya dijawab dong," ujar Cyara, melirik De yang fokus ke jalanan. Pria itu terlihat menghembuskan nafas, lalu memutar stir ke arah kanan.


"Apa mulutmu tidak memiliki rem?" tanya De tanpa memalingkan wajahnya. Pandangan mata pria itu lurus ke depan, sambil mengingat-ingat bahwa jalur yang dia tempuh adalah benar.


"Abisnya Om nggak mau jawab, aku jadi ngomong terus."


"Kamu akan tahu setelah kita sampai."


Cyara menghembuskan nafas kasar. "Kalo gitu aku nggak perlu nanya dong, Om."


Mendengar itu, De tak berniat untuk menimpali ucapan Cyara. Dia hanya menarik sudut bibirnya dan sedikit melihat plang yang ada di sisi jalan. Hingga tak berapa lama kemudian, mereka akhirnya sampai di kawasan apartemen elite dengan keamanan dan kenyamanan super wah.


Cyara hanya melongo sambil menatap takjub gedung pencakar langit tersebut. Benarkah De akan membawanya tinggal di sini? Hanya berdua?


Cyara melamun dan sibuk dengan pikirannya. Gadis itu sampai tak sadar kalau De sudah memberhentikan kendaraan roda empatnya di basemen. Ini adalah basemen apartemen Aneeq. Sebelumnya De sudah meminta password apartemen, sebab hanya tempat ini yang aman untuk Cyara.


"Ayo turun!" ajak De, melihat Cyara yang masih mematung dan menelaah suasana sekitar.


Dia melihat De yang sudah ada di luar. Akhirnya Cyara menurut, dia ikut keluar dari mobil dan mengekor pada De yang sudah lebih dulu melangkah.


"Om!" panggil Cyara, sedangkan matanya tak berhenti untuk melirik ke sana ke mari. Sepertinya De memang benar-benar pria kaya. Sebab penghuni apartemen ini pasti membayar sangat mahal.

__ADS_1


"Hem."


De tak menghentikan langkah, hingga sebab hari sudah semakin malam. Dia tak punya waktu untuk meladeni Cyara yang pasti akan banyak melontarkan pertanyaan.


"Kita akan tinggal di sini?" tanya Cyara, mereka berhenti di depan lift. De memencet tombol, hingga pintu lift terbuka. Mereka masuk dan naik ke unit apartemen milik Aneeq.


"Tidak!"


Cyara langsung menengadah. Apa maksudnya tidak? Lalu untuk apa mereka ke mari kalau tidak untuk tinggal bersama? Apa sebenarnya rencana De?


Cyara mundur beberapa langkah, sementara De sedikit menyeringai, tetapi Cyara tidak akan bisa melihatnya, sebab gadis itu berdiri di belakang tubuhnya.


"Hanya kamu yang akan tinggal di sini. Aku akan tetap pulang," sambung De, membuat Cyara menghela nafas lega. Namun, detik selanjutnya Cyara langsung menegakkan tubuhnya dan berdiri di depan De.


"Aku sendirian dong, Om?"


Wajah Cyara berubah pias dan kembali gelisah. Sebab dia masih sangat takut. Andai Austin dapat menemukannya. "Kalau ada penjahat gimana, Om?"


"Tidak akan ada, Kudek. Keamanan di sini cukup bagus, jadi kamu tidak usah khawatir," ujar De dengan tenang.


Meyakinkan Cyara, bahwa tidak akan terjadi apapun. Sebab kawasan ini cukup jauh dari rumah sakit, dan lebih dekat dengan perusahaan Aneeq.


"Tapi tetep aja, Om. Kalo seandainya ada hantu? Cia minta tolong sama siapa?" Raut wajah gadis itu sudah kembali tertekuk dengan dahi yang berlipat-lipat. Dia kembali memohon pada De agar tidak meninggalkannya.

__ADS_1


Ting!


Sebelum De menjawab, pintu lift sudah terbuka. De melangkah keluar tanpa memedulikan Cyara. Hingga akhirnya Cyara kembali pasrah, dia mengikuti langkah De hingga mereka sampai di unit yang dituju.


"Ingat, tidak akan hantu yang mengganggumu, sebab kamu lebih menyeramkan dari pada hantu," ucap De, membuat Cyara menghentak-hentakkan kakinya.


"Om!!!"


De masuk ke dalam apartemen, dia melangkah dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celana. Tak ingin berlama-lama, dia langsung menuju kamar tempat di mana Cyara akan berisitirahat.


"Di sini kamarmu, untuk urusan baju dan bahan makanan nanti kita beli bersama. Sekarang pakai saja yang ada," ujar De menunjuk ranjang, lalu membuka lemari pakaian di mana beberapa baju milik Jennie berjajar.


"Tapi Cia tidak bisa memasak," timpal gadis itu, untuk seumur hidupnya, dia memang tidak pernah memegang alat-alat dapur. Apalagi sampai menyalakan kompor. Sudah dipastikan, kalau itu terjadi rumah akan kebakaran.


"Aku tahu, dan aku akan mengajarimu. Makanya menurut, sekarang naik ke atas ranjangmu dan berisitirahat. Kamu masih sedikit demam, tanganmu panas."


De bicara seperti itu, sebab dia merasakan telapak tangan Cyara yang hangat saat ada dalam genggamannya.


Melihat De yang sudah bicara seserius itu, akhirnya Cyara mengangguk patuh. Cyara tak melepas jaket yang melekat di tubuhnya, dia langsung berbaring dan menarik selimut hingga ujung kepala saja yang tersisa.


"Tidurlah, aku akan di sini sampai kamu benar-benar nyenyak."


Cyara hendak menjawab ucapan De, tetapi pria itu lebih dulu mematikan lampu utama. Membuat Cyara tak bisa berkutik, dan akhirnya memilih untuk memejamkan mata.

__ADS_1


***


Coba kasih taburan kembang sama siraman kopi gitu lho guys 🥴🥴🥴


__ADS_2