
Setelah kepergian Aneeq, Austin langsung menggerutu. Dia pastikan pria itu tidak akan lagi datang ke mari dan banyak bertingkah seperti tadi.
"Sungguh sial, memangnya siapa dia? Baru jadi seperti itu saja sudah sombongnya minta ampun." Austin meninju udara untuk menguapkan kekesalannya. Dia menatap luar jendela dengan desah nafas yang memburu.
Hari ini terasa sangat kacau, dan dia tidak ingin membuatnya lebih kacau dengan perencanaannya yang gagal. Dia harus secepatnya membuat surat peralihan jabatan.
Namun, tiba-tiba dadanya terasa sakit. Nafasnya juga tersengal-sengal seperti dia kehabisan oksigen. "Haish, ada apalagi ini? Tidak mungkin kan aku punya penyakit asma."
Semakin dibiarkan ternyata semakin membuat dadanya terasa pengap. Austin segera berjalan menuju kursi kebesarannya dan meminum air yang ada di atas meja hingga tandas.
Dia berusaha untuk tenang dengan menyandarkan kepala di punggung kursi. Dia sudah beberapa kali merasakan sakit pada dadanya, tetapi sebagai seseorang yang keras kepala, Austin selalu mengabaikan itu semua.
"Ini hanya sakit biasa," gumam Austin meyakinkan dirinya sendiri, bahwa dia baik-baik saja. Lantas setelah itu Austin menyambar telepon dengan kasar hendak menelpon Winda.
"Cepat kumpulkan semua kepala divisi, kita akan rapat sekarang juga. Kalau aku datang dan mereka belum juga ada di sana, bilang bahwa aku akan memecat mereka semua!" tegas Austin setelah panggilan terhubung.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, dia langsung membanting telepon tersebut. Dia tidak akan mentolerir kesalahan sekecil apapun. Dan semua orang harus tahu, bahwa dia paling tidak suka menunggu. Karena yang wajib ditunggu itu adalah dirinya.
Semua orang yang diminta untuk berkumpul langsung menghentikan pekerjaan masing-masing dan berkumpul di ruang rapat. Mereka tidak mau mencari perkara, dan membuat sang pimpinan baru itu mengamuk.
Yang ada mereka akan habis semua di tangan Austin.
Winda melangkah ke ruangan Austin. Sebenarnya dia sangat enggan sekali kembali, tetapi dia bisa apa. Akhirnya Winda mengetuk pintu, untuk memberitahu pria itu kalau semua orang sudah menunggunya.
Austin keluar dengan senyum kecil karena kembali melihat Winda. Pria itu selalu saja bersikap kurang ajar dengan mengelus bokong Winda tanpa rasa canggung sedikitpun. "Baiklah, Win. Kita ke ruangan rapat sekarang." Ujarnya lalu sedikit memberi tabokan pada daging sintal itu.
Winda tak mampu menjawab ataupun melawan. Dia hanya terdiam dan melangkah di belakang Austin. Sementara di dalam hati wanita itu, dia terus merutuk tak habis-habis, memaki Austin agar cepat mati saja.
Austin langsung mengambil tempat di mana biasanya Andrew duduk. Dia mengedarkan pandangan untuk menatap semua orang, mereka semua menundukkan kepala, membuat Austin merasa paling berkuasa.
"Aku tidak ingin basa-basi, cepat buatkan aku surat pernyataan bahwa jabatan Tuan Andrew telah dialihkan padaku. Semua dokumen yang masuk, aku yang akan menandatangani, dan setiap ada laporan, kalian wajib melaporkannya padaku. Karena Tuan Andrew sepertinya tidak akan sadar lagi," jelas Austin tanpa tahu malu, bahkan terkesan memaksa.
__ADS_1
Padahal pihak rumah sakit pun belum memberi pernyataan apa-apa tentang kondisi Andrew, itu artinya ada kemungkinan Andrew akan sadar. Akan tetapi entah kapan.
"Tapi, Tuan, bagaimana jika seandainya Tuan Andrew tiba-tiba sadar?" tanya salah satu dari mereka.
"Itu akan menjadi urusanku, sebab dia sudah melimpahkan perusahaan ini padaku andai terjadi sesuatu padanya."
Mereka semua tampak kebingungan, karena Austin tidak memberikan bukti apapun tentang peralihan perusahaan tersebut. Setidaknya ada hitam di atas putih yang ditandatangani oleh Andrew.
"Kenapa kalian diam?!" sentak Austin yang sudah merasa geram, karena tidak ada satu orang pun yang menimpali ucapannya. Bahkan dia bisa melihat semua orang sepertinya tidak setuju. "Aku akan memberikan tunjangan pada kalian dengan jumlah yang lebih besar, asal kalian mau menuruti perintahku."
"Maaf, Tuan, tapi sepertinya itu sudah masuk ke ranah penyuapan. Kita bisa dituduh sebagai korupsi," timpal yang lain, dia tidak bisa membenarkan hal ini, sebab ia curiga sepertinya Austin sebenarnya hanya ingin menguasai harta kekayaan keluarganya.
"Apa katamu?! Jadi kamu tidak mau menuruti perintahku? Jika iya, kamu boleh angkat kaki dari perusahaan ini!" sentak Austin dengan suara yang menggema. Pria yang baru saja bicara itu langsung mengangguk, lebih baik dia keluar dari perusahaan jika memang seperti itu adanya. Dari pada nanti dia jadi narapidana.
"Baik, Tuan, saya akan melepas jabatan ini." Setelah mengatakan itu, dia langsung memutar langkah untuk meninggalkan ruangan rapat.
__ADS_1
Akan tetapi tiba-tiba Austin kembali buka suara. Membuat ia terpaksa menghentikan laju kakinya. "Lakukan saja sesukamu! Tapi ingat, ada harga yang harus kamu bayar karena membangkang ucapanku. Kamu akan habis malam ini juga!"
Glek! Pria itu hanya bisa menelan ludah. Austin benar-benar sudah gila.