Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Pasien Om Dokter


__ADS_3

Pencarian orang hilang.


Sudah ada selembaran itu di mana-mana. Gadis manis bernama Cyara dengan tinggi 155 cm dan juga berat badan yang ideal, terpampang di sepanjang jalan dan juga beberapa titik tertentu.


Berharap dengan begitu, Cyara bisa secepatnya ditemukan dan pulang ke rumah dengan keadaan baik-baik saja.


Namun, bersamaan dengan itu, Clarissa mulai merasa ada kejanggalan, sebab sang paman kerap menghubungi ibunya dan menanyakan kabar Cyara. Akan tetapi bukan itu poinnya. Clarissa terkadang samar-samar mendengar Austin yang marah-marah seperti tengah mengancam.


Seperti saat ini, Riana baru saja masuk ke dapur setelah keluar ke taman belakang. Clarissa yang kala itu hendak mengambil minum, segera membiasakan dirinya seolah tak mendengar apapun.


"Ra? Kamu di sini?" tanya Riana, melihat putri semata wayangnya tiba-tiba berada di dapur.


Clarissa tersenyum tipis, lalu mengangguk. "Iya, Bun, aku haus." Jawabnya sambil mengangkat gelas yang sudah terisi oleh air putih. "Bunda habis terima telepon dari siapa tadi?"


Riana langsung mengangkat kepalanya. Menatap Clarissa yang sepertinya menaruh curiga. "Eum, pihak rumah sakit, mereka bilang ada sedikit kemajuan pada Daddy. Nanti sore Bunda akan pergi dan bermalam di sana."


"Are you serious?" tanya Clarissa sambil mendekat ke arah Riana. Wajah gadis itu terlihat sangat sumringah mendengar kabar baik ini. Meski dia tahu, sang ibu telah membohonginya. Itu bukan pihak rumah sakit.


Riana tampak manggut-manggut, tak ingin Clarissa bertanya lebih banyak. "Benar, Sayang. Apa kamu mau ikut?"


Clarissa mengangguk antusias, dia juga ingin melihat perkembangan ayah tirinya. Semoga saja informasi yang dia dengar ini benar adanya. Andrew memiliki kemajuan, hingga bisa sembuh seperti sedia kala.


***


"Kamu kok bisa sakit begini sih, Ci? Kamu begadang yah semalam?" tanya Candra saat menjenguk Cyara yang sudah sadar. Gara-gara semalam Cyara bermimpi buruk, alhasil dia demam dan benar-benar menjadi pasien De, tanpa harus belajar pingsan.

__ADS_1


"Ya bisalah, kan Cia udah bilang mau jadi pasiennya Om Dokter," selorohnya dengan terkekeh kecil. Hingga mendapatkan jitakan dari Candra, ditanya benar-benar, Cyara malah menjawabnya dengan nyeleneh.


"Aduh, lagi sakit juga, malah disakitin," keluh Cyara dengan bibir mencebik, dia mengambil buah jeruk yang ada di atas nakas tetapi segera direbut oleh Candra. Pria itu sudah menganggap Cyara seperti adiknya sendiri yang selalu bersikap manja.


"Itu biar otak kamu bener sedikit, Ci. Cita-cita kok sakit. Kamu harus sehat, biar nanti bisa jaga ayah kamu," cerocos Candra, sambil mengupas buah jeruk yang diinginkan oleh Cyara.


Mendengar itu, Cyara tersenyum manis. Merasa senang karena ada yang perhatian padanya. Tak peduli dia siapa, Candra selalu membantunya. Padahal mereka baru saling mengenal dalam beberapa hari saja.


"Iya-iya, kok Kakak jadi cerewet sih, kayak ibu-ibu komplek kalo lagi nawar sayuran."


"Yeh mending aku cerewet tapi perhatian. Dari pada sok-sokan galak, tapi ternyata ada maunya."


"Nyindir siapa sih?" tanya Cyara, dia melirik De yang saat itu baru saja masuk ke dalam ruangan tanpa menimbulkan suara. De hendak mengecek keadaan Cyara. Tak disangka ternyata di sana juga ada Candra.


Cyara terkekeh semakin keras. Sebab Candra belum juga menyadari kehadiran De yang sudah berdiri di belakangnya. Melihat itu, Candra mengerutkan dahi, merasa aneh dengan tingkah Cyara.


Seperti bukan orang yang sedang sakit saja.


"Kenapa nggak ngomong depan orangnya? Nggak baik lho ngomong di belakang," ucap Cyara sambil menahan tawa. Dia terus memancing Candra. Namun, saat pria muda itu ingin buka suara. Sebuah deheman menghentikannya.


Candra memutar kepala, dia melihat De yang sudah memasang wajah tak ramah. Lalu Candra melirik Cyara yang sedang melipat bibir dengan melotot tajam. Kenapa tidak beritahu aku? Batin Candra berteriak.


"Dokter De—" panggil Candra seraya bangkit, tetapi De malah bersikap acuh dan mendatarkan mimik wajahnya.


"Saya akan memeriksa dia."

__ADS_1


"Tapi, Dok, saya tadi tidak sengaja—"


Ucapan Candra terputus-putus sebab De terlihat mengabaikannya. Dari balik punggung pria itu Candra membuat gerakan ingin mencakar, dan hal itu sukses membuat Cyara tertawa lepas.


De melirik ke belakang, Candra pura-pura tidak melakukan apapun. De menghembuskan nafas kasar, lalu kembali pada Cyara yang terlihat sudah kembali ceria.


"Om!"


De mengangkat pandangannya dengan bibir mengatup, sepertinya dia harus bersiap-siap untuk menghadapi ocehan Cyara yang tidak penting itu.


"Kenapa Om Dokter tidak tersenyum pada Cia?"


"Bicara yang jelas jangan setengah-setengah!" cetus De, mulai malas karena Cyara pasti kembali dengan sifat absurdnya.


Cyara tersenyum lebar dengan menggerakkan jarinya di atas pipi. "Kan Cia udah jadi pasien Om Dokter, harusnya disenyumin dong."


De sedikit mendengus, sepertinya bukan tubuh Cyara yang sakit, tetapi otak gadis itu. "Oh yah? Kamu ingin aku tersenyum sebab kamu sudah menjadi pasienku?"


Cyara mengangguk cepat.


"Kalau begitu bayar! Baru aku akan tersenyum," ketus De membuat Cyara kalah telak.


Gadis manis itu langsung memanyunkan bibir, lalu berbaring di atas brankar sebab De akan memeriksanya.


Melihat itu, sudut bibir De berkedut. Karena baru kali ini dia bisa membuat Cyara bungkam seketika.

__ADS_1


__ADS_2