Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Moo&Poo #15


__ADS_3

De menurunkan Cyara setelah mereka sampai di air terjun yang dituju. Gadis cantik itu langsung berlari kegirangan, lalu mulai bermain air yang terlihat sangat jernih itu.


"Jika anda butuh sesuatu, anda bisa memencet bel yang ada di pohon besar itu, Tuan," ucap satu petugas yang sedari tadi menemani perjalanan De dan Cyara.


De melayangkan tatapannya pada pohon yang dimaksud, di sana ada serangkaian alat komunikasi yang dibuat untuk memudahkan para pengunjung menghubungi petugas jika mereka membutuhkan sesuatu, atau ada kejadian yang tak terduga.


"Baiklah, terima kasih. Saya akan menikmati waktu berdua dengannya, jadi jangan sampai anda menyesal," balas De dengan sedikit cengiran di ujung kalimatnya.


Petugas itu tersenyum kikuk. Dia pun akhirnya menyingkir setelah De pergi meninggalkannya. Pria itu menyusul Cyara yang sudah masuk ke dalam air dan membuat tubuhnya setengah basah.


"Moo, kenapa tidak menungguku?" seru De, membuat Cyara menoleh dengan tawa riang di bibirnya.


"Aku sudah tidak sabar, Poo, airnya sangat jernih dan segar. Aku jadi ingin mandi," balas Cyara. Dia mengambil air menggunakan kedua tangan, lalu melemparkannya ke atas hingga turun seperti hujan.


Melihat itu, De pun mengulum senyum. Dia segera menyusul Cyara untuk masuk ke dalam air yang memiliki ketinggian tak seberapa.


"Kamu menyukainya?" tanya De, kini dia sudah merengkuh pinggang Cyara.


Gadis cantik itu mengangguk. "Aku ingin ke sana!" Tunjuk Cyara pada air yang turun dari tebing.


"Ayo kita ke sana!"


De pun menuruti keinginan istrinya, mereka bergandengan tangan dan melangkah bersama. Di setiap gerak kaki keduanya, selalu ada tawa yang membahana. Seolah memberitahu pada semua makhluk di bumi,, bahwa dunia hanya milik mereka berdua.


Cyara langsung melepaskan genggaman tangan De, dia melangkah tergesa seraya merentangkan tangan untuk menikmati air yang jatuh membasahi tubuhnya.


"Ah, benar-benar segar," ungkap Cyara dengan terkekeh pelan.


Sementara De hanya menikmati setiap gelak tawa itu. Dia memerhatikan Cyara yang sudah mulai basah. Hingga lekuk tubuh gadis itu kentara dari balik pakaiannya.

__ADS_1


Tiba-tiba De membuka kaosnya, menyisakan celana pendek sebatas paha.


"Sayang, ke mari!"


"Ada apa, Poo?"


"Buka bajumu, kita mandi bersama."


Cyara sedikit menganga, dia celingukan takut masih ada petugas yang tadi mengikuti mereka.


"Tapi bagaimana kalau ada yang melihat?"


"Tidak akan ada! Aku jamin, kalau sampai mereka melihat tubuhmu sedikit saja, kuambil bola matanya untuk bahan operasi!" De meraih jari-jari lentik Cyara.


Gadis itu pun akhirnya patuh. Dia melepaskan semua yang melekat di tubuhnya, menyisakan bikinii berwarna pink dengan tali kecil.


De meletakkan pakaian mereka di batu besar dekat dengan air terjun. Lalu selanjutnya, dia menarik tubuh mungil itu menggendongnya seperti bayi koala.


Cyara langsung melingkarkan tangan dan juga kakinya di tubuh De. Sementara kedua pucuk hidung itu beradu.


"Hanya mandi!" ujar Cyara, memperingati De yang sudah menunjukkan aura berbeda.


Pria tampan itu terkekeh, dia mengangguk kecil sementara kakinya tak berhenti melangkah, hingga akhirnya mereka sama-sama basah.


"Tidak janji!"


Dan biarkanlah De memulai semuanya. Dia menengadah dan meraih bibir Cyara. Di bawah guyuran air yang deras, dua raga itu kembali berpagut mesra.


Sesekali Cyara melepaskannya untuk mengambil nafas, lalu kembali mengulumm bibir De yang sudah terasa candu untuknya.

__ADS_1


Kepala Cyara sedikit menenggak, sementara bibir De sudah turun untuk menikmati leher jenjangnya. Sayang, tangan pria itu tidak bisa digunakan untuk menjamah, sebab tengah digunakan untuk menahan bobot tubuh Cyara.


"Poo, geli!" rengekan Cyara dilengkapi remaasan di kepala membuat De semakin menggila.


Dia menarik tali bikiini Cyara menggunakan gigi hingga benar-benar terlepas. Menyisakan dua bongkahan imut yang menantangnya.


De tersenyum mesyum. Sementara Cyara hanya bisa menggigit bibirnya.


"Ught!" Gadis itu kembali merasakan benda tak bertulang itu bermain di pucuk dadanya. Cyara meremass kepalanya sendiri, dan semakin membusung, ingin lebih dari sekedar dijilati.


"Do you want me?" tanya De, menatap wajah Cyara yang sudah dipenuhi dengan semburat merah.


Cyara mencebik.


Dan De tahu apa jawabannya. "Katakan kamu menginginkanku!" Titah pria itu.


Cyara mendengus, tetapi tetap patuh. "I want you."


Detik selanjutnya, tubuh mungil itu sudah terbaring di bebatuan halus, sebuah tempat yang sepertinya memang disediakan untuk bercocok tanam.


Cyara langsung mengerang, menikmati sensasi bercinta di alam terbuka. Sungguh rasanya semakin menantang, apalagi pria yang berada di atas tubuhnya sangat bersemangat untuk menyerang.


Mereka tak peduli, pada seseorang yang ada di balik pohon. Padahal dari awal dia sudah diperingati, tetapi ternyata dia tidak patuh pada ucapan De, sehingga dia menyesal sendiri.


"Sial, sial, sial!"


***


Gue juga ngintip di balik batu🙄🙄

__ADS_1



__ADS_2