Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Moo&Poo #9


__ADS_3

De sudah memakai pakaian lengkap, pakaian khas rumahan yang sudah dia bawa beberapa ke rumah Cyara. Dia turun ke lantai dasar sendirian, sebab ia dan Cyara memutuskan untuk sarapan di dalam kamar.


Sampai di anak tangga terakhir, De yang hendak menuju dapur sedikit terkejut dengan kedatangan Andrew. Pria berjambang lebat itu pun tersenyum penuh hormat pada ayah mertuanya.


"Selamat pagi, Dad," sapa De, yang mana membuat Andrew langsung mengangkat kedua alisnya.


Pria paruh baya itu melirik jam dinding yang berada tak jauh darinya. Kini waktu menunjukkan pukul 11 siang lewat beberapa menit. Diam-diam Andrew menahan senyum.


Maklumlah sedikit, Ndrew. Mereka itu pengantin baru. Batin pria itu.


"Ah, iya selamat pagi, De. Kamu mau ke mana, apa ada sesuatu yang kamu butuhkan?" tanya Andrew.


"Aku ingin mengambil sarapan, Dad. Aku akan membawanya ke kamar, karena Cyara sedang malas turun," jelas De dengan alibinya. Namun, sang mertua tidak akan mungkin sebodoh itu. Sebab dia jauh lebih berpengalaman dari pada pria yang ada di hadapannya.


Lagi, Andrew sedikit menggigit bibir bawahnya, menahan senyum. Merasa lucu dengan tingkah pengantin baru ini.


"Ya sudah kalau begitu, biar pelayan saja yang antar, kamu tinggal bilang ingin apa, nanti salah satu dari mereka pasti naik," timpal Andrew seraya menepuk bahu De.

__ADS_1


Dia yakin, saat ini para asisten rumah tangga pasti sedang menyiapkan makan siang. Namun, De sepertinya belum menyadari pukul berapa sekarang.


"Iya, Dad. Kalau begitu aku pamit ke dapur dulu."


"Ya, silahkan!" jawab Andrew seraya mengulurkan tangannya.


De membuang nafas, entah kenapa perasaannya tak enak. Apalagi saat dia melihat banyak orang di dapur. Sebagai orang baru, dia sedikit merasa sungkan untuk meminta bantuan, tetapi salah satu dari mereka ternyata langsung sigap, begitu melihat menantu pertama di keluarga Ramsey.


"Tuan, apakah anda membutuhkan sesuatu?" tanyanya dengan sopan.


Satu pelayan itu mengangkat kepala, menatap rekannya yang lain. Sementara De celingukan, melihat makanan yang tertata di meja, hanya ada beberapa karena belum matang semua.


Ketika De melirik ke atas, tepat pada jam dinding yang berdentum. Pria itu langsung terbelalak lebar. Sebab sekarang hampir jam makan siang. Pantas saja sang mertua terlihat tersenyum-senyum, seperti menahan sesuatu.


Sial, kenapa juga aku tidak melihat jam tadi. Rutuk De dalam batinnya.


"Tuan—"

__ADS_1


"Bawakan saja kami makan siang, karena kami tidak akan turun," tukas De cepat, sebelum sang pelayan melanjutkan kalimatnya. Dia membuang wajah, bahkan untuk menghindari rasa malunya, De buru-buru pamit dari sana. "Kalau begitu saya permisi."


Pria berjambang lebat itu segera melangkah meninggalkan dapur. Menyisakan kekehan dari para pelayan.


Sumpah demi apapun, pasti telinganya tengah memerah sekarang.


"Cih, ada-ada saja! Untuk pertama kalinya, aku terlambat bangun." De merutuk sambil melangkah, menapaki anak tangga. Sementara dari arah lain, Andrew geleng-geleng kepala sambil terkekeh melihat kelakuan menantunya.


Sampai di kamar, dia melihat Cyara yang kembali tertidur. De duduk di sisi ranjang, hendak menggoyangkan bahu Cyara, tetapi melihat wajah damai itu, De merasa tak tega.


Kelopak mata Cyara terpejam sempurna, sementara bibir mungilnya sedikit terbuka dengan dengkuran halus yang sesekali mengudara.


"Kamu terlihat sangat lelah, Moo," ucap De sambil membelai rambut Cyara. Tak ingin mengganggu sang istri yang sedang istirahat, De hanya mengecup puncak kepala Cyara, lalu duduk di samping gadis itu sampai makanan datang.


***


Nggak inget waktu ya, Poo😌😌😌

__ADS_1


__ADS_2