
Seperti yang direncanakan Jessie dan Cyara. Sore itu, Jessie mengajak Clarissa untuk menjenguk Andrew. Namun, Clarissa beralasan tak bisa, sebab ia memiliki beberapa tugas yang harus diselesaikan hari ini juga.
Akhirnya Jessie pun memilih untuk datang sendiri ke rumah sakit di mana Andrew dirawat. Ini kesempatan bagus, sebab Jessie dapat menghubungi Cyara agar gadis itu bisa melihat keadaan ayahnya secara langsung.
Sesampainya di sana. Jessie tak bisa langsung masuk ke ruangan Andrew. Dia ditahan di meja administrasi. Sebab ia tidak datang dengan anggota keluarga pasien.
Demi kenyamanan dan keamanan, rumah sakit membuat peraturan tersebut dan meminta tanda pengenal, bagi siapa saja yang datang tanpa salah satu dari anggota keluarga.
"Anda bisa masuk, Nona. Tanda pengenal anda ditahan di sini untuk sementara sebagai jaminan," ucap salah seorang di antara kedua orang yang tengah berjaga.
Jessie pun mengangguk, lantas setelah itu ia langsung melangkah ke arah ruangan Andrew. Baru saja ia membuka pintu, suara alat pendeteksi jantung langsung berdengung memenuhi telinganya.
Dia menatap tubuh Andrew yang terbujur lemas di atas pembaringan dengan mata yang senantiasa tertutup.
Tanpa mengulur waktu, Jessie langsung menghubungi Cyara. Di ujung sana, Cyara yang telah menunggu dengan harap-harap cemas, langsung berbinar bahagia.
Bola mata gadis itu berubah berkaca-kaca saat ia melihat dinding rumah sakit di mana Jessie berada. Dia yakin, sahabatnya itu sudah berada di ruangan sang ayah.
"Halo, Cia. Aku sudah bertemu dengan Daddy-mu. Kamu mau melihatnya?" tanya Jessie saat menampakkan wajah. Cyara tak dapat menahan lagi air matanya saat wajah Andrew memenuhi layar ponselnya.
"Daddy."
Gadis itu tergugu, kerinduan yang selama ini membuncah semakin terasa menggunung. Dia belai wajah Andrew yang tak menampilkan ekspresi apapun.
"Daddy apa kabar?"
"Daddy, baik-baik saja 'kan? Di sini, Cia selalu mendoakan Daddy supaya Daddy cepat sembuh. Tunggu Cia yah, nanti Cia pasti dateng."
Suara penuh getar itu terus memenuhi gendang telinga Andrew. Sementara Jessie sudah ikut terisak. Hingga tanpa mereka ketahui, Andrew meneteskan air matanya.
Sejurus dengan itu, pintu ruangan Andrew terbuka, menampilkan Riana yang baru saja datang dengan wajah terperangah. Jessie langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas dan menghapus air matanya dengan cepat.
__ADS_1
"Bunda Anna," panggilnya.
Riana sedikit menyipit, menebak apa yang baru saja terjadi.
"Sedang apa kamu, Jes?"
"Aku disuruh Mama buat jenguk Daddy Andrew. Tadi aku sempet ajak Clarissa, tapi katanya dia nggak bisa. Jadi aku dateng ke sini sendiri. Mama juga nitip salam buat Bunda."
Riana tampak manggut-manggut. Dan Jessie yang tak ingin membuat ibu sahabatnya itu semakin curiga, segera pamit untuk pulang.
Riana tak dapat bicara apa-apa, dia hanya bisa menatap kepergian Jessie yang terlihat menyembunyikan sesuatu darinya.
***
Hari sudah berganti malam. Karena matahari sudah beralih sift dengan bulan. Saat itu, Cyara hanya bisa berbaring di atas ranjang sambil memegangi perutnya.
Ia merasa sangat lapar. Namun, ia tidak bisa melakukan apapun sebab ia tidak bisa memasak. Percuma saja De membeli bahan makanan, kalau penghuni apartemen tersebut tidak bisa berkutat di dapur.
"Ah, bagaimana aku mau pesan makanan, kalau uang saja aku tidak punya. Sepertinya aku memang harus menghubungi Om Dokter," gumam Cyara, cacing dalam perutnya semakin berdemo, meminta segera diisi. Hingga dengan terpaksa ia meraih ponsel dan menghubungi De.
"Yah, nggak diangkat lagi. Mungkin Om Dokter lagi sibuk kali yah, aku kirim pesan sajalah."
Cyara beralih mengetik, mengatakan bahwa dirinya kelaparan. Tidak lama lagi, De pasti akan membacanya.
Cyara keluar dari kamar dan duduk di sofa sambil memakan beberapa camilan untuk mengganjal rasa laparnya. Namun, lama semakin lama rasa kantuk malah menyerang dirinya. Hingga tanpa sadar ia tertidur di sofa.
Pukul 9.40 menit. De sampai di apartemen. Dia pulang terlambat sebab ada pasien dadakan yang membutuhkan dirinya.
Pria itu melihat lampu masih menyala, dengan satu bungkus nasi goreng di tangannya De melangkah masuk. Namun, tubuh pria itu berhenti di dekat sofa, karena melihat Cyara yang meringkuk di sana.
Ada tiga bungkus plastik kosong dengan ukuran besar di meja. Menandakan bahwa Cyara telah memakan semua isinya.
__ADS_1
"Dasar gadis ini!" gumam De sambil geleng-geleng kepala.
"Kudek, bangunlah. Kamu bilang lapar."
De berusaha untuk membangunkan Cyara. Hingga pelan-pelan bola mata itu mengerjap.
"Aku ngantuk, Om."
"Tapi kamu belum makan malam."
"Aku mau tidur saja."
Cyara menolak, dia kembali menutup mata, tetapi De segera menarik tubuhnya hingga Cyara terduduk.
"Aku suapi, cepat makan. Jangan membantah atau kamu akan aku beri hukuman."
Cyara berdecak, sebab ia benar-benar mengantuk. Sementara De sudah menyendokan makanan sambil menjaga keseimbangan tubuh Cyara.
"Buka mulutmu!"
"Hem."
"Cepat buka, atau aku yang akan membukanya!"
Akhirnya Cyara patuh, dia membuka mulut dan mengunyah dengan mata tertutup. Sementara De hanya bisa memperhatikan wajah Cyara dalam diam.
***
Esok paginya. Cyara terbangun dan langsung tercengang, sebab ia tiba-tiba berada di dalam kamar.
"Hah, apa ada Jin yang memindahkanku semalam?"
__ADS_1
***
Jin ulerrrr😝😝😝