Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Mengalihkan Perhatian


__ADS_3

Brak!


Cyara membanting pintu mobil dengan keras karena kesal dengan De, pria itu tidak pernah bisa mengerti apa yang dia rasakan. Selalu saja menuntut jawaban, harusnya De tahu tanpa harus bertanya.


"Cih, Om-om menyebalkan! Dasar tua!" maki Cyara sambil melangkah dengan menghentak-hentakkan kakinya.


Siapa yang tidak gemas melihat itu? De sampai tertawa sendiri di dalam mobil sambil memperhatikan Cyara. Di matanya, Cyara seperti kucing kecil yang sedang merajuk meminta makanan pada sang majikan.


"Ah, kenapa dia berubah jadi kucing manis sekarang?" gumam De dengan senyum yang terus mengembang.


Ingin menikmati wajah kesal Cyara dari dekat, De langsung membuka pintu dan menyusul gadis cantik itu.


Cyara dan De langsung menuju ke meja administrasi, sebagai seorang dokter dan kepala rumah sakit, De benar-benar disegani. Ada beberapa orang yang mengenalnya di sana, setiap De melangkah ada saja yang menyapa.


Dan beberapa di antaranya adalah suster-suster cantik. Saat De lewat pasti mereka langsung menunjukkan senyum terbaik, hal tersebut tentu saja membuat Cyara cemberut, karena merasa tersaingi.


"Om, jalannya cepatan!"


Hanya kalimat itu yang selalu keluar dari mulut Cyara. Namun, De malah menggoda Cyara dengan berjalan santai, akhirnya Cyara yang geram menyeret lengan De, membuat pria berjambang lebat itu sedikit tergelak.


Tawa De mereda begitu mereka sudah sampai di tempat tujuan. Pipinya terasa kaku karena meladeni tingkah Cyara yang tidak ada habisnya.


"Maaf, Tuan, Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu staf administrasi lengkap dengan senyum ramah.

__ADS_1


Cyara menengadah untuk melihat wajah De, pria itu langsung mengambil kartu identitas dan memperlihatkannya pada wanita yang bertanya pada mereka. "Saya adalah dokter dari rumah sakit Puri Medika, saya ke mari karena ada pasien yang ingin dipindahkan oleh keluarganya."


Setelah itu, dia menyerahkan surat yang sedari tadi dia bawa. Salah satu staf itu membacanya dan melirik ke arah Cyara.


"Apa Nona ini adalah putri dari Tuan Andrew?"


"Ya, aku putrinya."


"Baik, tunggu sebentar ya, Dok. Kami akan bantu untuk mengurusnya."


De hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu menyuruh Cyara untuk duduk sambil menunggu semuanya selesai. Namun, Cyara menolak dia ingin menemui Andrew terlebih dahulu, dia ingin melihat dengan jelas wajah sang ayah yang selalu hadir dalam mimpinya.


"Aku ingin ke ruangan Daddy, Om," ucap Cyara, De paham dengan kerinduan Cyara yang sudah sangat menggunung. Akhirnya pria itu pun hanya bisa pasrah.


Cyara langsung menggandeng tangan De untuk melangkah ke ruangan Andrew. Dia tidak ingin seperti tadi, di mana semua wanita tebar pesona.


"Jangan membantah!" ucap Cyara mengikuti cara bicara De, melihat pria itu ingin buka suara. De yang sudah sangat gemas hanya bisa menarik hidung Cyara yang tertutup masker, lalu mereka melangkah bersama.


Sementara di sisi lain, yakni di rumah keluarga Ramsey. Clarissa sedang mengetuk kamar sang ibu, dia baru saja mendapat pesan dari Cyara bahwa adik tirinya itu sampai di rumah sakit, dan sekarang tugasnya adalah mengalihkan perhatian Riana.


"Bunda!" panggil Clarissa dengan sedikit keras. Tadi pagi dia izin untuk tidak masuk kuliah, beralasan pada Riana bahwa dosennya sedang sakit, jadi hari ini dia bebas.


Riana yang mendengar ketukan pintu dan juga teriakan sang anak pun langsung membuka pintu. Wajah yang pertama dia lihat adalah wajah Clarissa yang tersenyum, membuat dia nyaris terkejut, karena semenjak Cyara hilang Clarissa tidak pernah seceria ini.

__ADS_1


"Ada apa, Sayang?"


Clarissa lebih dulu bergelayut manja di lengan ibunya, kebiasaan jika dia menginginkan sesuatu. "Bunda, ayo kita keluar jalan-jalan. Kita sudah sangat lama tidak pergi berdua untuk bersenang-senang."


Riana memasang wajah terperangah. Dia tidak salah dengar?


"Jalan-jalan?"


"Iya, Bun. Ara tahu Bunda selalu sibuk mengurus Daddy, dan semenjak Cyara hilang, aku juga jadi jarang bicara dengan Bunda, aku tahu Bunda stres dan tidak ada yang bisa Bunda ajak bicara untuk berbagi keluh kesah ... sekarang, Ara mau kita pergi berdua, untuk hari ini saja," jelas Clarissa membujuk ibunya.


Dia bahkan tersenyum setulus mungkin, supaya Riana tidak curiga dengan niatnya.


"Ayolah, Bunda. Mumpung Ara tidak masuk kuliah."


Menyadari itu akhirnya Riana pun mengangguk, dia menyetujui ide Clarissa untuk pergi. "Baiklah, kalau begitu Bunda bersiap-siap dulu."


Clarissa tersenyum senang, dia langsung memeluk ibunya. Sebenarnya dia sangat menyayangi Riana, karena walau bagaimanapun sebelum menikah dengan Andrew mereka hanya hidup berdua, dan dia selalu dibuat terenyuh dengan usaha Riana untuk membesarkannya.


Maafkan Ara, Bunda. Ara lakukan ini semua supaya Bunda sadar, bahwa apa yang Bunda lakukan adalah salah besar.


***


Udah jadi KuMan sekarang 🐈🐈🐈

__ADS_1



__ADS_2