
Pagi menjelang.
Bias cahaya sudah memenuhi ruangan di mana dua makhluk berbeda jenis tidur dengan posisi saling memeluk.
Karena tertidur pulas De sampai tak sadar kalau dirinya membalas pelukan Cyara, sepanjang malam tangan kekar De melingkar penuh di pinggang ramping itu.
Di dada bidang milik De, Cyara menenggelamkan wajahnya dan memeluk pinggang De erat. Seperti sebuah kenyamanan yang tak ada tandingannya, Cyara terus mengusak dan menggesek kakinya mencari kehangatan dalam raga perkasa di sampingnya.
Sebuah gerakan yang membuat De mengerjapkan kelopak mata. Dia sedikit menyipit, mencoba menerima cahaya yang masuk pertama kali ke dalam indera penglihatannya.
Pendingin udara menyala dengan baik, De sedikit melirik ke bawah. Di mana gadis manis yang kerap dia panggil Kucing Dekil, benar-benar telah menjadi kucing sungguhan. Sebab Cyara meringkuk dalam dekapannya karena kedinginan.
Menyadari posisi mereka, De langsung menarik tangannya yang memeluk pinggang Cyara. Dia hendak melepaskan diri, tetapi Cyara malah semakin mengusak, memberikan sentuhan yang membuat sesuatu dalam dirinya bangkit seketika.
__ADS_1
Apalagi di pagi hari seperti ini, suasana benar-benar sangat mendukung. De meneguk ludahnya, dia seperti tersengat saat benda itu tak sengaja bergesekan dengan anggota tubuh Cyara.
De kembali melirik ke bawah. "Astaga, bisa-bisanya dia bangun di saat-saat seperti ini!" Rutuk pria tampan itu, tetapi tak bisa bohong. Mata De tak lepas memandangi wajah Cyara yang cantik alami tanpa polesan make up.
Pria itu mulai tersihir, sepertinya dia baru menyadari satu hal. Bahwa Cyara adalah sebuah berlian yang jatuh di antara kotoran. Sebab setelah dibersihkan, gadis itu terlihat sangat cantik nan menggemaskan.
Apalagi saat sorot mata De turun ke bibir mungil yang banyak mengoceh itu. Benda kenyal itu terbuka sedikit, seolah memberikan akses dan menarik dirinya untuk melakukan sesuatu yang cukup mendebarkan.
Dia lupa, bahwa apa yang dia lakukan malah semakin membuat adik kecilnya bangkit dengan hasrat yang memuncak naik ke atas kepala. Lama semakin lama, De terbuai oleh permainannya sendiri, tangan kekar pria itu merayapi tubuh Cyara, sementara sesapannya terasa lebih kuat hingga lidah gadis itu dia tarik keluar.
Deg!
Jantung De berdetak lebih kencang. Bola mata pria itu terbelalak lebar karena tersadar. Dia langsung menarik diri begitu menyadari tindakannya yang terlalu jauh. Bahkan sampai membuat tubuhnya menegang.
__ADS_1
"Sial, apa yang aku lakukan?" gumam De, lalu menatap Cyara yang menggerakkan mulutnya. Gadis itu mengerjap, dan De langsung bangkit dari ranjang sebelum Cyara menyadari semuanya.
Dengan gerakan tergesa, De langsung melangkah ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri, juga menurunkan hasratnya yang hampir saja membuncah di tempat yang salah.
Sejurus dengan itu, Cyara membuka kelopak matanya. Dia menatap ke samping dengan tatapan mata kosong, sementara kantuk masih sedikit mendera. Namun, ia merasakan ada yang aneh dengan mulutnya.
"Kenapa bibirku terasa kebas? Apa ada hewan yang menggigitku semalam?" gumam Cyara sambil memegang bibirnya yang mungil dan merah seperti buah ceri. Dia mencoba mengingat-ingat, apa yang terjadi semalam.
Namun, nihil dia tidak mengingat apapun selain De yang menemani dirinya dengan duduk di sisi ranjang. Eh, tapi ke mana pria itu sekarang?
Cyara menegakkan tubuhnya, dengan netra yang menatap sekeliling. Hingga ia mendengar sayup-sayup suara gemericik air dari kamar mandi. Dan dia bisa menebak, bahwa De memutuskan untuk bermalam di sini.
Cyara mengulum senyum. "Ternyata dia tidak pulang? Lalu di mana dia tidur semalam?"
__ADS_1