Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Pertemuan Dengan Austin


__ADS_3

Aneeq naik ke atas ruangan Austin setelah diberi izin, dia melangkah dengan gagah, wajah tegasnya menunjukkan bahwa dialah sang penguasa bisnis di negeri ini, sebab siapa yang tak kenal dengan putra sulung seorang Kendrick Davino Tan?


Pria tampan dengan segudang prestasinya, pengusaha sukses yang mampu mengendalikan perusahaan besar sang ayah di usianya yang terbilang masih sangat muda.


Beberapa karyawan yang melewatinya menundukkan kepala, sementara ia hanya menyapa dengan senyum kecil, tetapi tidak kepada karyawan wanita. Sebab Aneeq selalu teringat dengan semangkanya di rumah.


Aneeq dan Caka diantar oleh salah satu staf hingga mereka sampai di ruangan CEO RY Group. Setelah pintu diketuk beberapa kali, mereka semua bisa mendengar bahwa Austin memberi izin untuk masuk.


Tanpa menunggu lama pintu ruangan dibuka, hingga Aneeq bisa melihat wajah bastard Austin yang selalu memandang remeh pada orang lain, padahal ia tidak memiliki kemampuan apa-apa. Aneeq yakin, di bawah kepemimpinan pria gila itu RY Group akan hancur dalam beberapa waktu saja.


"Selamat pagi, Tuan," sapa Aneeq sambil mengangkat dagu, memberi kesan bahwa dia bukanlah orang yang bisa diremehkan begitu saja.


Austin bangkit dari kursi kebesarannya dan melihat ke arah Aneeq dan Caka. Dia menelisik penampilan Aneeq dari atas sampai bawah, dia sama sekali tak menunjukkan sikap ramah, apalagi melihat Aneeq yang begitu angkuh.


"Pagi," jawab Austin, lalu mempersilahkan pria tampan itu dengan tangannya, dia sama sekali tidak bicara. Sementara satu stafnya sudah berlalu, baginya ruangan yang dihuni oleh Austin adalah neraka, berani masuk ke sana berarti berani menanggung resikonya.


Aneeq menarik kursi dengan kakinya, lalu duduk dengan kaki kanan yang bertumpu di kaki kiri sementara kedua tangannya senantiasa melipat di depan dada.


Hal itu tentu membuat seorang Austin merasa jengah. Andai bukan seorang pengusaha yang cukup ternama, mungkin Austin sudah menyuruh Aneeq untuk keluar saat itu juga.

__ADS_1


"Apa tujuan anda datang ke mari, Tuan?" tanya Austin, ingin cepat-cepat mengakhiri pertemuan ini, sebab dia memiliki rencana lain.


Yaitu mengumpulkan para kepala divisi untuk membahas masalah peralihan jabatan. Karena Andrew tak lekas sadar dari koma, akhirnya Austin memutuskan untuk membuat beberapa perubahan. Dia tidak butuh lagi tanda tangan Andrew, sebab ia bisa menggantinya dengan mudah.


Hanya perlu keluarkan uang, maka semuanya akan beres.


Aneeq menghela nafas, sementara bola matanya mengelilingi ruangan, entah sedang mengecek apa. "Saya sebenarnya ingin bertemu dengan Tuan Andrew, tapi dengar-dengar beliau telah koma. Benarkah?"


"Itu benar, Tuan. Masa anda tidak melihat beritanya di televisi? Dia sudah koma hampir dua Minggu dan sampai sekarang belum juga sadar. Jadi untuk itu perusahaan saya yang pegang, jika anda ingin melakukan proyek kerja sama, saya yang akan menandatanganinya," jelas Austin tak peduli sopan santun, apalagi memikirkan nama baik perusahaan.


Bagi Austin pria di hadapannya ini terlalu bertele-tele. Masa tentang berita Andrew yang koma saja tidak tahu.


Mendengar itu, tangan Austin terkepal kuat di bawah sana. Sorot mata pria itu semakin memicing dengan rasa geram yang menggunung. "Tuan Andrew adalah Kakak saya, jadi saya berhak atas perusahaan ini!" Tegas Austin.


Namun, semua itu ditanggapi dengan begitu santai oleh Aneeq, bahkan pria licik ini malah terkekeh membuat harga diri Austin semakin terinjak-injak.


"Maaf, Tuan. Saya bukannya meremahkan anda, tapi di dunia perusahaan tidak ada yang namanya adik kakak, kalau anda tidak memiliki kuasa ya tidak bisa."


"Asal anda tahu, Kak Andrew telah menyerahkan perusahaan ini pada saya andai terjadi sesuatu padanya." Austin semakin terpancing emosi, membuat Aneeq begitu mudah melihat kebohongan yang pria itu buat.

__ADS_1


"Anda tidak perlu emosi seperti itu, Tuan. Saya kan tidak tahu," ujar Aneeq dengan nada meledek, bahkan sedikit cengiran di bibirnya.


Dia menggerakkan tangan untuk meminta Caka mendekat. Di tangan asisten sekaligus saudara iparnya itu ada map berisi tentang perencanaan kerja sama yang sengaja Aneeq buat. "Saya tadinya ingin membuat rumah sakit jiwa, karena mengingat populasi orang gila makin meningkat. Tapi sayang, istri saya tidak setuju. Jadi, kami berencana untuk membuat panti asuhan yang memiliki 20 lantai."


"Baik, nanti kita atur saja. Anda tidak perlu datang ke mari lagi, cukup hubungi sekretaris saya saja."


Austin mulai terlihat sangat bodoh. Dan Aneeq suka meladeninya.


"Lho kenapa?" tanya Aneeq dengan wajah terbengong-bengong.


"Saya sangat sibuk, karena ada banyak proyek juga yang harus saya tangani, jadi nanti anda saya alihkan ke sekretaris saya."


Aneeq manggut-manggut, dia menoleh ke belakang untuk melihat Caka. Pria itu terlihat mengangkat bahu, tanda tak tahu.


"Baiklah kalau begitu saya rasa cukup, terima kasih atas waktunya, Tuan—"


"Austin."


"Ya, Tuan Austin." Aneeq menjawab tangan pria itu dan sedikit memberinya tekanan hingga Austin meringis. Tak ingin terlihat memalukan, pria itu hanya bisa menahan dan pura-pura tersenyum, lalu cepat-cepat menarik tangannya dari genggaman tangan Aneeq.

__ADS_1


Dasar, Sialan!


__ADS_2