Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Moo&Poo #23


__ADS_3

Sret!


"Aw, kepalaku, kepalaku!" jerit De, saat Cyara baru saja berhasil menaikkan resleting celananya. Gadis itu mengerjap, kemudian menatap De yang terlihat kesakitan.


"Ada apa dengan kepalamu, Poo?" tanya Cyara cemas, lalu menengadah melihat kepala De yang sepertinya baik-baik saja.


De mengerang. "Bukan kepala itu, Sayang. Tapi kepala ular!"


Mendengar kata ular, sontak saja Cyara langsung membola, dia berjengit sambil melompat-lompat. Takut kakinya kena patuk. "Di mana ada ular, Poo?"


Sial! Kenapa istrinya malah mencari ular sungguhan. Padahal ular berbisa miliknya yang sedang butuh pertolongan karena kulitnya terjepit resleting. De menggigit bibir, dengan mata yang sesekali terpejam.


"Moo, bukan ular itu yang kumaksud!" cetus De, membuat Cyara yang masih celingukan, langsung menatap cengo ke arahnya.


"Hah, terus ular apa, Poo? Jangan buat aku takut deh!"


De berdecak keras, dia mencoba menurunkan resleting, tetapi sungguh rasa sakitnya luar biasa. Lagi pula kenapa bisa aset berharga miliknya malah terjepit. "Yang di bawah ini lho!" Rengek De, hampir mengeluarkan air mata.


"Yang mana sih?" Cyara masih tak paham dengan apa yang dimaksud oleh suaminya. "Bicara yang jelas, Poo!"


Aaa! De berteriak kencang, dan menggelengkan kepalanya tidak karuan. "Ini, Moo, ini!" Tegasnya.


Cyara melirik ke bawah, tangan De tampak memegangi celananya. Gadis cantik itu melongo, "ularmu? Ularmu kenapa?"


De mendesis tertahan, bisa tidak sih Cyara tidak usah banyak bertanya. Tolong dia!

__ADS_1


"Asetku terjepit, Sayang, kamu tidak hati-hati tadi," rengek De, menatap Cyara yang terlihat kebingungan.


"Kok malah salahin aku sih, Poo? Kan kamu yang tidak mau pakai dalamaan. Padahal aku sudah bilang—"


"Haish, jangan banyak bicara, Moo, tolong aku!"


De menundukkan tubuhnya di atas ranjang. Berharap sang istri segera membantunya. Gara-gara si gondal-gandul tidak pakai sarung, sekarang jadi kena tulah.


"Iya-iya, tapi kamu tenang, Poo. Kalau kamu marah-marah yang ada aku gugup!" Cyara pun berjongkok, berusaha untuk membantu De, tetapi baru saja dia menggerakkan tangannya, sang suami sudah menjerit, membuat dia reflek menaikkan kembali resleting itu.


"Moo, kenapa malah tambah sakit?!"


"Aku kaget, makanya jangan teriak-teriak dong, Poo!"


"Aku tidak akan teriak kalau rasanya tidak sakit!"


Hah, De membuang nafasnya kasar. Dia frustasi sekali dengan apa yang sedang menimpanya sekarang. Dia memang seorang dokter, tetapi kalau sakit ya harus ada yang mengobatinya, tidak serta merta dia yang melakukan pemeriksaan sendiri, begitu pun dengan kejadian ini.


"Aku tidak marah, Moo, aku hanya kesakitan. Ayo bantu aku lagi," ujar De dengan suara yang lebih pelan.


Sementara di luar sana, satu petugas bergegas mengetuk pintu penginapan De dan Cyara saat mendengar sedikit keributan.


Tok Tok Tok ...


"Tuan, Nyonya, apa ada yang bisa kami bantu?"

__ADS_1


Mendengar itu, Cyara langsung menengadah. "Bagaimana kalau kita minta bantuan mereka? Bukankah pulau ini dilengkapi ruang kesehatan?"


De sebenarnya malu sekali jika harus berhadapan dengan mereka. Hingga dia menolak keras. "Tidak! Aku mau kamu saja yang membantuku!"


"Lho katanya kamu kesakitan, kalau aku tidak bisa bagaimana? Masa kamu terus-terusan begini sih, Poo?"


Wajah De tampak merah padam. Menahan sakit dan juga kesal.


"Sayang, aku aku malu! Bagaimana jika yang membantuku seorang wanita memangnya kamu mau ularku dilihat oleh mereka?"


Cyara mendelik tak terima.


"Tidak boleh! Apa-apaan sih kamu ini pakai mengancam begitu segala?! Baiklah ke mari biar aku yang membantumu."


Gadis itu tampak mendengus, lalu kembali fokus pada ular suaminya yang terjepit. De tampak gusar, dia sebenarnya tidak yakin Cyara bisa melakukannya. Namun, sumpah demi apapun dia tidak ingin sampai orang tahu kejadian ini, terlebih keluarganya.


"Tahan yah." Cyara memberi aba-aba, yang malah membuat De semakin bertambah gelisah dan berdebar kencang.


Gadis itu mengambil ancang-ancang, dua jarinya sudah siap menarik ke bawah, hingga dalam hitungan ketiga, Cyara menggerakkan tangannya.


"Aaa ...." De menjerit, sementara Cyara menganga.


"Yah, Poo, berdarah."


****

__ADS_1


Untung ga copot🤣🤣🤣 Absurd banget ini bedua, apa ada yang pernah ngalamin?


__ADS_2