
"Siapa?" tanya De saat Cyara sudah duduk di hadapannya. Sementara dua gadis itu kembali memesan burger, mereka berpisah dengan tawa di bibir masing-masing, entah menertawakan hal konyol apa.
"Temanku."
"Temanmu? Teman yang ingin kamu hubungi itu?
"Itu bukan teman yang Cia maksud, Om. Dia teman waktu aku masuk sekolah dasar."
Mendengar itu, De hanya menjawab dengan kata oh. Lalu dia meminta Cyara agar lekas makan. Sebentar lagi waktunya habis, dia harus cepat-cepat kembali ke rumah sakit.
Patuh, Cyara segera menghabiskan makanan yang dipesan oleh De. Tak ada yang bersuara kecuali bunyi dentingan sendok yang beradu dengan piring.
Setelah makan siang. Akhirnya mereka pulang. Cyara yang terlihat kelelahan karena berkeliling mall akhirnya tertidur di dalam mobil. Sementara De hanya fokus menyetir.
De menatap jalanan dan sesekali memerhatikan tiang-tiang yang ia lewati, hingga ia sedikit membaca selebaran tentang orang hilang. De mengurangi kecepatan, hingga ia dapat melihat brosur itu lebih jelas.
Deg! Jantung pria itu langsung mencelos.
Dia melirik Cyara, lalu kembali menatap lurus ke depan. "Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menyelidikinya? Oh astaga, De, kamu benar-benar akan semakin terjerat dengan gadis ini."
Pria berjambang lebat itu terlihat gusar. Dia benar-benar bingung, bagaimana tindakan selanjutnya untuk mengembalikan Cyara pada keluarganya. Sebab dia tidak akan mungkin menyembunyikan gadis itu terus-menerus.
Lama menimang akhirnya mereka sampai di basemen apartemen. Cyara sudah terbangun, dia keluar dan membawa beberapa barang belanjaannya dengan sempoyongan.
De menghela nafas berat. Merasa tak tega, dia meraih beberapa paper bag dari tangan Cyara, lalu menggendong gadis itu di pundaknya.
__ADS_1
"Om?" panggil Cyara sedikit tersentak, tak ingin jatuh dia langsung memeluk erat leher De dan meletakkan kepalanya di bahu kekar pria itu.
"Kenapa Om gendong Cia?"
"Jangan banyak tanya, kalau kamu tidak ingin aku lempar!"
Bibir Cyara mencebik, pria ini memang perhatian, tetapi sayang De tidak pernah bisa berbicara dengan pelan.
"Om juga jangan marah-marah, aku hanya ingin minta maaf."
"Sudah aku maafkan."
"Dengarkan Cia dulu, Om."
De memutar bola matanya, padahal gadis ini baru saja bangun, tetapi sudah banyak bicara.
"Apa?!"
Mendengar itu, De menarik sudut bibirnya ke atas, tersenyum sinis. "Sadar diri juga kamu."
"Iya aku sudah terlalu banyak menghabiskan uang dan waktumu, Om. Sekarang aku harus apa? Apa aku harus membayarnya dengan uang juga?" tanya Cyara, menatap De dengan tatapan polos, dia menelisik garis wajah pria itu, garis yang terlihat begitu tegas dengan bola mata yang sedikit biru.
De tak menjawab hingga mereka sampai di dalam apartemen. Pria itu menurunkan Cyara yang sedari menuntut jawaban, Cyara merasa kesal sebab De tak pernah bisa dia tebak suasana hatinya.
"Ayo dong jawab, Om. Kenapa diam saja?"
__ADS_1
De lebih memilih untuk membereskan barang-barang. Dia hulu-hilir memasukkannya ke dalam kulkas, sementara Cyara senantiasa mengekor.
"Bisa diam tidak?"
Cyara menggeleng. "Cia tidak akan diam sebelum Om jawab."
"Aku memiliki hak untuk tidak menjawabnya, Cia. Jadi jangan menuntutku!"
"Tapi aku harus tahu jawabannya. Karena aku sudah terlalu banyak hutang budi pada, Om. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku takut menjadi orang yang tidak tahu diri, dan aku—"
De mendesah kecil, dia menurunkan pandangannya untuk menatap Cyara. "Cukup, jangan bicara lagi! Hanya satu yang aku minta dan perlu kamu lakukan."
"Apa?!"
"Jangan buat aku kesal dan marah."
Mendengar itu, Cyara langsung mematung. Dia menengadah untuk menatap mimik wajah De yang terlihat tak bercanda. Tangan Cyara terkepal, dia berusaha mengumpulkan keberaniannya.
Sementara detingan waktu terus terdengar. Dan secepat itu Cyara berjinjit untuk mengecup bibir De sekilas.
Deg!
"Aku akan melakukannya, jadi jangan marah-marah."
***
__ADS_1