
Pukul sepuluh malam lewat beberapa menit, Cyara dan Clarissa pulang ke rumah. Saat itu De menawarkan diri untuk mengantar kekasih dan kakak tirinya. Hingga kini di dalam mobil mewah itu ada mereka bertiga.
De duduk di kursi kemudi, sementara Cyara duduk di sampingnya. Jangan tanya Clarissa di mana, gadis manis itu sudah seperti obat nyamuk karena duduk di belakang tanpa ada siapapun yang menemaninya.
"Poo, mulai besok aku akan kembali berkuliah," ucap Cyara, memecahkan keheningan yang sedari tadi menyapa.
De yang sedari tadi fokus ke jalanan, kini sedikit menoleh ke arah kekasihnya. "Baguslah, Moo. Nanti biar aku minta beberapa perawat menjaga ayah kalian. Aku juga akan sering mengecek keadaannya, kalau beliau sudah cukup pulih, maka bisa dibawa pulang."
Cyara tersenyum, lalu mengelus pipi De dengan gerakan lembut. "Terima kasih ya, Poo. Aku pasti sering-sering datang."
Kedua alis De terangkat. "Walupun nanti Daddy sudah tidak ada di sana?"
"Kamu maunya bagaimana?"
"Aku mau kamu selalu di sampingku, apa bisa?"
Mendengar itu Cyara langsung menggigit bibir bawahnya, dia tersipu hingga kedua pipi itu terlihat merona. Bahkan dari belakang sana, Clarissa bisa melihatnya.
"Tentu saja bisa, aku akan menjagamu dari wanita-wanita yang suka menggoda seorang pria. Termasuk wanita yang ada di rumah sakit itu!" ketus Cyara, mengingat Alana yang suka mencari perhatian kekasihnya. Dia tidak boleh diam saja, atau wanita ber-make up tebal itu akan semakin menggoda De saat dia tidak ada.
"Kenapa? Kamu marah?"
"Tentu saja aku marah, siapa yang tidak marah kekasihnya didekati wanita lain? Makanya Poo contoh aku, kalau cemburu ya bilang cemburu, marah ya bilang marah. Jangan dipendam, meskipun itu Candra orangnya, aku pasti bisa jaga jarak," jelas Cyara dengan suara yang menggebu-gebu.
"Lho kenapa malah mengungkit masalah lain?"
__ADS_1
"Aku tidak mengungkitnya, aku hanya memberitahumu, Poo, kalau semua perasaan itu wajib diungkapkan, termasuk saat kamu cemburu!"
De terlihat menelan ludah, sementara Clarissa hanya senyum-senyum dan berpura-pura tidak mendengar apa-apa.
"Iya-iya maaf. Lain kali aku akan bicara, dan aku akui aku cemburu pada Candra. Puas?" ujar De mengalah.
Cyara tersenyum sumringah, dia mencondongkan tubuhnya hingga wajah mereka sangat dekat. "Sangat puas." Bisiknya.
Hingga tak terasa perjalanan itu pun usai, karena kini mobil De sudah masuk ke halaman rumah keluarga Ramsey. Clarissa keluar lebih dulu, dia tidak ingin lagi menjadi pengganggu bagi sepasang kekasih itu.
Kini di dalam mobil itu hanya ada De dan Cyara. Sebelum turun gadis itu membuka jas milik De untuk dikembalikan. "Terima kasih." ucap Cyara sambil mengulurkan jas tersebut.
De menerima uluran tangan Cyara lengkap dengan alis yang terangkat. "Hanya itu?"
Cup!
"Sudah, kalau lama-lama nanti kamu malah betah di sini dan tidak mau pulang," ledek Cyara. Yang mana membuat De terkekeh.
"Memangnya kenapa? Bahkan kalau boleh, aku ingin menginap di kamarmu. Kita lakukan sesuatu," bisik pria berjambang lebat itu dengan tatapan menggoda.
Cyara langsung mendelik dan reflek memukul dada De dengan keras. "Jangan merayuku!"
Bukannya menyerah De malah semakin bersemangat, dia mengusap pipi Cyara dan berakhir mengapit dagu gadis itu dengan kedua jarinya. De sedikit bangkit hingga lututnya bertumpu di kursi Cyara, sementara kedua wajah itu sudah beradu.
Cyara menahan nafas dan semakin meringsekkan tubuhnya saat De bergerak maju hingga tidak ada celah baginya untuk kabur.
__ADS_1
"Poo, kamu mau apa?" lirih Cyara, sementara De tidak menjawab dia malah mengunci Cyara dengan himpitan dada bidangnya. Tangan kekar pria itu membelai leher jenjang Cyara dengan begitu lembut, membuat bulu-bulu halus dalam tubuh gadis itu meremang seketika.
Cyara tampak cemas, dia mencengkram kursi dengan tangannya yang sudah berkeringat dingin. Sementara De terus mempermainkan dirinya, manik mata itu saling tatap, tetapi detik selanjutnya Cyara menutup kelopak indah miliknya, saat De hendak menyatukan bibir mereka.
Namun, bukan ciuman yang De diberikan, melainkan sebuah ledakan tawa yang membuat Cyara terperangah.
"Poo!!!" jerit gadis cantik itu.
"Maaf, Sayang, tapi wajahmu terlihat lucu."
Tawa De semakin membahana begitu Cyara menyerangnya dengan pukulan bertubi-tubi. Sedari awal, dia memang hanya ingin menggoda Cyara. Tak disangka reaksi gadis itu mampu membuat tawanya pecah.
"Ampun, Mooo ...."
*
*
*
Tapa yang mau liequest?
Mentang-mentang uler, sukanya maen di Padang rumput 🙄🙄🙄
__ADS_1