
Jennie turun ke bawah tetapi tak langsung masuk ke dalam mobil. Dia lebih memilih bersembunyi di dekat tangga darurat untuk menumpahkan tangisnya.
Suasana sunyi itu mendadak terisi isak pilu. Jantung Jennie seperti diremas oleh tangan tak kasat mata, hingga menyisakan lara yang begitu hebat.
"Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dariku, An? Kenapa dia ada di sana?" tanya Jennie, dia meremass ujung dress dengan sangat kuat sementara bibirnya tak berhenti bergetar.
"Andai dia benar-benar bukan wanita simpananmu, kenapa kamu tidak pernah bercerita padaku? Kenapa kamu harus bohong?" tanya Jennie lagi, nafasnya sedikit tersengal dengan ludah yang semakin tercekat.
Jennie mencoba menerka-nerka, tetapi hanya ada praduga yang tak berkesudahan. Dia malah semakin dibuat curiga dan kesal pada Aneeq. Dia sangat benci, benci akan ketidaktahuannya.
Cukup lama dia berada di sana, menumpahkan segala sesak yang mengikat dadanya. Tak ingin membuat Zoya curiga karena menunggu terlalu lama, akhirnya pelan-pelan ia menghapus jejak basah yang sedari tadi tak mau berhenti mengalir.
Wanita itu ingin berusaha bersikap biasa saja meski hatinya teramat sakit, dia tidak mau membuat Zoya tahu apa yang baru saja terjadi, biar ini menjadi masalahnya dengan Aneeq. Dia akan menyelesaikannya berdua. Tanpa campur tangan pihak lain.
"Aku tidak mungkin membuat Mommy ikut stres karena masalah ini, Mommy sedang hamil, akan sangat beresiko bagi kandungannya."
__ADS_1
Jennie berusaha untuk tenang, dia menarik nafas dan beberapa kali menghembusnya secara perlahan. Dia melihat ke bawah, lalu tangan langsing itu bergerak untuk mengelus perutnya sendiri yang masih terlihat rata.
"Baby, percayalah apapun yang terjadi, Mommy akan melakukan yang terbaik untukmu," ucap Jennie lalu tersenyum getir. Setelah itu ia melangkah untuk kembali ke mobil.
Namun, di lobby apartemen dia malah melihat Zoya berada di pintu masuk. Sepertinya Zoya ingin menyusul sebab ia terlalu lama.
"Mommy," panggil Jennie, membuat Zoya yang ingin melangkah menjadi terurung. Dia melihat ke arah menantunya dengan senyum dan sebuah kernyitan.
"Sayang, apa kamu sudah mendapatkan barangmu? Mommy kira kamu masih lama, makanya Mommy ingin naik ke atas," ujar Zoya sambil memperhatikan wajah Jennie yang terlihat sedikit berbeda.
"Benarkah? Bagaimana kalau Mommy membantumu mencari sekali lagi?"
"Oh no! Tidak perlu, Mom. Lagi pula tidak terlalu penting, lebih baik kita langsung pulang saja, Jennie sudah sangat lelah dan ingin beristirahat," tolak wanita berdada besar itu. Dia melirik ke atas dan meyakinkan Zoya dengan senyumnya.
"Are you sure? Tidak ada yang kamu sembunyikan dari Mommy?"
__ADS_1
"No, Mommy jangan khawatirkan apapun."
Akhirnya Zoya mengangguk dan mereka kembali ke mobil. Walaupun sebenarnya Zoya merasa ada yang disembunyikan oleh menantunya, tetapi ia tidak bisa memaksa, sebab Jennie terlihat enggan menceritakannya.
Di atas.
Cyara berkali-kali mengambil lembaran tisu. Dia tidak mengerti kenapa hidupnya semenyedihkan ini. Di saat ia dan keluarganya sedang ada dalam masalah besar, ia tanpa sengaja membuat masalah lain.
Dia sudah seperti wanita simpanan, karena ternyata pria yang selama ini berada di sampingnya sudah memiliki seorang istri, bahkan istrinya sedang hamil.
Lalu bagaimana nasibnya sekarang?
"Apa aku harus pergi diam-diam?" tanya Cyara pada dirinya sendiri, tetapi andai itu terjadi dia tidak tahu berapa lama akan bertahan di luar sana sementara orang-orang Austin ada di mana-mana.
Cepat atau lambat, pria iblis itu pasti akan menangkapnya. Dan pada saat itu, Cyara tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya. Menjadi budak dengan penuh siksaan, entah itu batin maupun fisiknya.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana? Apa aku harus menunggu penjelasannya? Tapi aku bukan siapa-siapa. Aku hanya orang lain."