
Austin mendengus kasar sebab gagal untuk membawa Cyara pulang. Padahal dia sudah sangat yakin, bahwa sang keponakan berada di rumah sakit itu.
Austin mengamuk dengan melempar semua benda yang ada di meja. Tak lupa sebagai teman rasa kesalnya dia menenggak beberapa botol minuman dan juga benda bernikotin yang terselip di antara jari telunjuk dan jari tengah.
"Benar-benar sial, apa dia tahu kalau aku datang? Cih, pasti ada seseorang yang membantunya!"
Mata Austin menyalak tajam, dia benar-benar merasa geram. Dia merogoh ponsel dengan tidak sabaran, dan mencari nomor seseorang. Hah, rasanya dia ingin sedikit bersenang-senang untuk melampiaskan kekesalannya.
"Cepat datang ke tempatku malam ini!" ucap Austin to the poin saat panggilan itu sudah terhubung. Lantas setelah itu, dia langsung melempar ponsel dengan asal.
Sementara di sisi lain, Riana langsung menggerakkan bola matanya gelisah. Dia menurunkan tangannya yang menggenggam ponsel dengan lemah. Kemudian tanpa ingin mengulur waktu ia masuk kembali ke ruangan suaminya dan menemui Clarissa.
"Ra, Bunda pergi sebentar yah," pamitnya sambil meraih tas dan menyampirkannya di bahu.
Kening Clarissa mengernyit. "Bunda mau ke mana, ini sudah cukup malam."
"Bunda ada urusan sebentar, Bunda pasti akan secepatnya kembali," jawab wanita itu dengan tersenyum. Tak memiliki alasan lagi untuk menahan Riana, akhirnya Clarissa membiarkan sang ibu pergi meninggalkannya berdua dengan sang ayah.
***
__ADS_1
Sudah beberapa saat, tetapi Cyara tak dapat terlelap juga, dia seolah trauma dengan ruangan yang gelap, dada gadis itu senantiasa diliputi rasa was-was, dia membolak-balikkan badan, tetapi nyatanya tetap tak dapat menenangkan pikirannya.
Wajah Austin dengan seringai menyeramkan selalu memghantui, seolah tak memberikan Cyara izin agar hidup dengan tenang.
Dan pergerakan itu membuat seseorang yang duduk di sofa mengangkat wajah. Perlahan-lahan De membuka matanya. De mendengar suara gesekan tubuh Cyara yang tak mau diam, akhirnya pria tampan itu kembali mendudukan tubuhnya dengan tegak dan menyalakan lampu.
Trap!
Kedua pasang mata itu langsung saling tatap. Di atas ranjang, Cyara menoleh ke arah kanan, dan menatap De dengan kening yang berkerut, sebelum De bertanya Cyara lebih dulu merengek. "Aku nggak bisa tidur, Om."
De mendesah kecil dan memejamkan mata sejenak.
"Aku takut ruangan gelap, karena semalam aku mimpi buruk. Aku jadi takut," terang Cyara dengan helaan nafas yang terdengar gundah. Dia bicara apa adanya.
Tak ingin membuat Cyara merengek dan terus mengoceh, akhirnya De membiarkan lampu utama tetap hidup. Dia bangkit dan mendudukkan diri di sisi ranjang. Tepatnya di samping kepala Cyara.
"Jangan banyak bicara lagi, sekarang tidurlah. Aku di sini, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan lagi," ujar De dengan sorot mata yang mulai melayu, sebab dia pun sudah ingin beristirahat.
Akhirnya Cyara mengangguk patuh, dia menarik selimut hingga ke leher. Satu tangannya berputar mencari muara penyanggah, sebab dia pun tidak akan merasa nyaman jika pengait itu masih menyatu.
__ADS_1
De hanya memerhatikan Cyara yang bergerak-gerak sementara mata gadis itu terpejam. Tak ingin berkomentar akhirnya dia hanya diam.
Suasana malam semakin berkelebat. Di luar sana beberapa kali angin menampar jendela. Beradu dengan dengkuran halus yang Cyara ciptakan. Gadis cantik itu menggeliat mencari kehangatan, dingin malam seolah membawanya hanyut, hingga tanpa terasa tangan langsing itu meraih pinggang seseorang yang berada di sampingnya.
De yang kala itu sudah meluruskan kaki dan bersandar di kepala ranjang, mengerjap menatap Cyara yang tiba-tiba memeluk anggota tubuhnya.
Dia ingin memberontak, tetapi melihat Cyara yang sudah terlelap nyenyak, membuat De merasa tak tega. Dia malah terus memperhatikan wajah cantik gadis itu yang terasa begitu tenang saat tidur. Tidak absurd apalagi pecicilan.
Menciptakan sebuah kedutan di sisi bibir pria bak kulkas dua pintu itu. Tanpa sadar tangannya terangkat, jari-jemari De sudah ingin bermuara di puncak kepala Cyara, tetapi seketika De langsung membuang wajah.
Dia hanya anak kecil, De.
Tangan De beralih untuk membetulkan selimut Cyara. Hingga tanpa terasa dia pun ikut tertidur di ranjang yang sama. Dia tidak khawatir Zoya akan mencarinya, sebab setelah menghubungi Aneeq, dia pun menghubungi sang ibu bahwa kemungkinan dia akan tidur di rumah sakit.
***
Akankah sang kulkas akhirnya rusak dan dituker tambah 🙄🙄🙄
__ADS_1