
"Terima kasih, Ndrew, karena kamu, Ara sudah mau memaafkanmu. Tapi maaf, kalau untuk kembali bersama, rasanya aku tidak bisa. Aku terlalu menjijikkan untukmu, aku sudah tidak pantas lagi disebut sebagai seorang istri, karena aku sendiri telah menyerahkan kehormatan itu pada orang lain—" Riana menghela nafas dengan air matanya yang tak berhenti menderas.
"Hari ini juga aku akan menyerahkan diri ke penjara, sebagai hukuman atas apa yang kuperbuat. Aku akan menanggungnya, hanya satu yang kuminta padamu, Ndrew, aku ingin kamu menjaga Clarissa untukku."
"Anna, kamu ini bicara apa?"
Riana menggeleng. "Aku tidak bisa, Ndrew, maafkan aku, aku sangat senang kamu mau mendengarkan penjelasanku dan sekarang biarkan aku menebus semua kesalahanku."
"Bunda ...."
Hati Andrew memang terasa sakit saat mendengar pengakuan Riana, tetapi sungguh dia pun tidak bisa menyalahkan wanita itu. Sebab Riana telah mengorbankan dirinya. Mereka semua hanya korban dari kebejatann Austin.
"Baiklah, lakukan apa yang ingin kamu lakukan, Anna. Tapi ingat, saat kamu tidak terbukti bersalah ataupun keluar dari sana. Pulanglah padaku, karena aku akan selalu menjadi rumahmu," ucap Andrew, akhirnya melepaskan Riana.
Wanita itu mencoba untuk tersenyum, sementara Clarissa semakin sesenggukan sambil memeluk erat Riana.
"Terima kasih, Ndrew, aku pamit. Dan untuk putri Bunda—Bunda minta maaf, karena Bunda belum bisa jadi ibu yang baik untuk kamu. Jaga diri kalian ya, salam juga untuk Cia, Bunda menyayangi kalian." Riana mengecup puncak kepala anak semata wayangnya dengan penuh kasih sayang.
Membuat tangis Clarissa pecah tak tertahankan. Rasanya dia tidak akan rela untuk melepaskan Riana, tetapi sang ibu bersikeras untuk pergi. Sebab Riana akan menyerahkan dirinya pada polisi.
Tes! Ujung mata Andrew kembali mengeluarkan air mata. Menemani langkah Riana yang kini semakin menjauh dari pandangannya.
***
__ADS_1
Di tempat lain.
Cyara dan De baru saja sampai di apartemen. Selama di perjalanan mereka benar-benar tidak saling bicara. De yang tiba-tiba gugup membungkam mulutnya, sementara Cyara menikmati waktu bersama mereka dengan terus memperhatikan wajah tampan De dari dekat.
De hendak melangkah, tetapi Cyara segera melingkarkan tangan di sepanjang lengan De. "Takut ketinggalan." Ucap gadis itu dengan tersenyum kecil.
"Tapi ini bukan pusat perbelanjaan, untuk apa takut ketinggalan?" cetus De, tidak tahu apa jantungnya hampir copot karena sentuhan Cyara yang begitu tiba-tiba.
"Tidak apa-apa lah, Om, truk saja gandengan masa kita enggak."
"Aku tidak peduli."
De segera melangkah dan secara otomatis Cyara ikut tertarik. Bibir gadis itu mencebik karena De mulai menunjukkan sifat judesnya.
Tidak ada lagi obrolan hingga mereka sampai di unit apartemen. De melepaskan tangan Cyara dan sedikit mendorong gadis cantik itu untuk masuk ke dalam. "Sudah sana, cepat cari barang yang ingin kamu ambil. Mulai sekarang kan kamu tidak akan tinggal di sini."
De memutar bola matanya malas. Mulai deh mode ngeselinnya. "Kamu harus ingat, Kudek. Aku ini tidak punya banyak waktu!"
"Lalu kemarin apa? Kenapa kemarin masih bisa menemaniku membeli ponsel, berbelanja kebutuhan pokok, membawakanku makan siang. Bukankah itu buang-buang waktu?" tanya Cyara, dia mulai memberanikan diri untuk berhadapan dengan De. Membuat pria itu tak habis pikir, sebenarnya apa yang Cyara inginkan?
"Apa yang sedang kamu bicarakan, hah? Jangan menguji kesabaranku, sekarang ambil apa yang tertinggal dan kita akan kembali ke rumah sakit!" ketus De dengan tatapan yang sudah menajam.
Namun, Cyara tidak marah, dia masih bersikap santai meskipun De sudah berteriak di depan wajahnya. Gadis cantik itu malah menyentuh dada De, hingga pria itu tersentak.
__ADS_1
"Kamu—"
"Ini yang tertinggal, bisakah aku membawanya?"
Deg! Waktu seolah berhenti berputar. Dia menatap Cyara yang sedang menatapnya pula. Pria itu membeku seolah tak dapat bicara, sementara senyum Cyara meruntuhkan kewarasannya.
"Bagaimana? Bisakah aku secepat itu mengambil sesuatu yang tertinggal di sini?" Cyara menyentuh dada De semakin kuat, hingga dia bisa merasakan detak jantung pria itu. Berdebar kencang seperti miliknya. "Bisakah aku membawanya bersamaku? Tolong jawab, karena aku ingin mengambilnya segera. Aku ingin menjadikan dia satu-satunya di hidupku."
Cyara terus menatap manik mata De dengan begitu lekat. Berharap pria itu bisa merasakan perasaan tulusnya. Namun, yang dia dengar hanyalah ******* nafas kecil.
"Hah, konyol!"
Setelah mengatakan satu kata itu, De malah semakin tersentak, karena Cyara malah berjinjit dan mengecup bibirnya. Tubuh pria itu seperti tersengat dan tatapan mereka kembali bertemu.
"Itukah yang namanya konyol?"
De diam seribu bahasa. Dia terus menelisik tatapan mata Cyara. Tidak ada kata main-main di sana. Semuanya terlihat nyata. De menelan ludah dan detik selanjutnya dia tidak mengaku kalah. De mendorong Cyara hingga merapat ke dinding. Merampas bibir tipis itu dengan penuh damba.
***
Yang punya rumah sebelah fizzzzo, mampir ya ke cerita author di sana 🙏🙏🙏
Judulnya : Terjebak Gairah Cassanova
__ADS_1
Atau bisa tulis nama penanya Nita Amelia. Jangan lupa okey🤗🤗🤗
Salam anu 👑