
Sudah dua hari Austin mengambil alih perusahaan. Dia hendak menguasai apapun yang Andrew punya, hingga ia turun tangan, menangani semua proyek yang sedang berjalan, dia ingin semua orang tahu bahwa dia layak dan berkuasa di RY Group.
Namun, tidak dengan tingkah lakunya, selama di sana dia selalu bersikap semena-mena. Bahkan dia kerap menggoda sang sekretaris, dengan perilaku bejat yang mencoreng nama baik perusahaan.
Wanita itu tidak bisa berkutik, saat Austin bermain-main di beberapa anggota tubuhnya. Dia ingin berontak tetapi ancaman Austin lebih dulu menyapa indera pendengarannya.
Membuat siapa saja memilih bungkam, dari pada harus berurusan dengan pria berkedok manusia, tetapi hatinya sudah seperti iblis jahanam.
"Heuh, asal kamu tahu, aku bisa melakukan apa saja terhadap keluargamu. Bahkan dalam waktu semalam, aku jamin mereka hanya tinggal nama," ucap Austin pada sekretaris Andrew yang terlihat masih cukup muda. Dia sudah seperti seorang budak yang hanya boleh tunduk pada tuannya.
Austin menyeringai saat melihat ketakutan di wajah wanita itu. Merasa senang, karena semua orang akhirnya tidak ada yang bisa melawannya. Gerakan tangan Austin semakin tak terkondisikan, karena secepat itu dia masuk ke dalam rok mini yang wanita itu kenakan.
"Tuanโ" tahan Windaโdia menggeleng dengan wajah yang sudah pias, takut Austin melakukan lebih dari sebuah sapuan yang merayap di atas pahanya.
"Kenapa?" tanya Austin dengan wajah tanpa dosa, kedua alis pria itu terangkat dan terus menatap lawan bicaranya.
Winda mengatupkan bibirnya yang bergetar, sementara tangan pria itu semakin menjalar ke mana-mana. Austin tidak ada puas-puasnya menggoda wanita itu hingga Winda mengeluarkan bunyi desaah.
"Cih, dasar murahan!" maki Austin seraya menarik tangannya dari balik rok Winda, dia menggerutu untuk mencibir wanita itu dan beralih meraih tisu.
Sementara di belakang tubuh Austin, Winda sudah ingin menangis. Rasanya sangat sakit, saat harga dirinya diinjak-injak, tetapi dia tidak bisa melawan. Ini sangat mengerikan.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu mau menangis?"
Austin masih mengelap jarinya yang tadi basah. Dia tidak berbalik untuk menatap Winda dan berbicara dengan begitu santai. "Begitu saja kamu tangisi, tenanglah aku akan memberi bonus di akhir bulan asal kamu patuh pada perintahku."
Ingin rasanya Winda berteriak tidak di depan wajah Austin, atau kalau bisa dia ingin meludahi pria itu sebagai bentuk rasa kesalnya. Dia benar-benar jijik pada pria yang ada di hadapannya, Austin adalah manusia paling keji yang pernah dia temui untuk seumur hidup.
"Buatkan aku stempel khusus yang mirip dengan milik Andrew, dan setelah itu kamu kumpulkan para kepala divisi, kita akan rapat sekarang," jelas Austin lalu memutar badan.
Pada saat itu Winda langsung menunduk, dia benci sekali melihat wajah Austin yang tersenyum penuh ejekan.
"Tapi, Tuan, itu tidak mungkin bisa dilakukan sebelum masa peralihan jabatan. Semua dokumen akan sah jika memakai stempel milik Tuan Andrew selagi beliau belum sadar," jawab Winda, wanita itu semakin menunduk kala Austin mendekat ke arahnya.
"Siapa yang menyuruhmu mengajariku?" tanya Austin, dia meraih dagu Winda dan mencengkeramnya dengan kuat hingga wanita itu meringis. Namun, sekuat tenaga dia tidak ingin menangis, karena pasti Austin akan menertawakannya.
"Saya bukannya mengajari, Tuan. Tapi itulah kenyataannya, stempel anda tidak akan mungkin diterima."
"AKU TIDAK PEDULI!" sentak Austin sambil melepas cengkramannya. Dia mendorong wanita itu hingga Winda sedikit menabrak pintu. "Keluar dan cepat lakukan apa yang aku minta, atau kamu kupecat sekarang juga!"
Mendengar itu, Winda langsung mengangkat kepalanya. "Pecat saya saja, Tuan." Ujarnya berani, sementara Austin semakin mendelik.
"Dan setelah itu kamu akan tahu akibatnya!" teriak pria tempramental itu, membuat Winda lagi-lagi merasa kalah. Akhirnya wanita itu pasrah, dia cepat-cepat meninggalkan ruangan Austin sebelum pria itu mengamuk lagi, yang perlu dia lakukan hanyalah berdoa semoga Austin cepat mendapat karma, sehingga dia dapat bebas dari perilaku bejat pria itu.
__ADS_1
Di tempatnya Austin menyeringai penuh, seringai itu baru sirna saat ia mendapat telepon kantor, "ada apa?" Tanyanya tanpa basa-basi.
"Maaf, Tuan, mengganggu waktu anda. Di bawah ada Tuan Aneeq, CEO dari Tan Group ingin bertemu dengan anda."
Austin mematung, sepertinya dia pernah mendengar nama perusahaan itu. "Tan Group? Aneeq? Mau apa dia?" Batin Austin bertanya-tanya.
***
Makasih ye yang udeh selalu dukung, lope-lope sepeternakan uler dah pokoknya ๐๐๐ Gue cuma ga habis tingking aja, Om De seganteng itu dibilangnya satpam rumah sakit dan ga cocok jadi dokter ๐ฉ๐ฉ๐ฉ
Nih kalo tanpa bewok, apa ga bikin lu klepek-klepek ๐๐๐
Deterjen : Yang bawah gimana, Thor?
Ngothor : Apaan itu maksudnya yang bawah?
Deterjen : Itu tuh, ehek! kayak punya Daddy๐
Ngothor : Oh, kagak gue ubah-ubah tetep kandel, bisa dikepang malah ๐
__ADS_1