Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Jambu Air


__ADS_3

Cyara masih memeluk De dengan erat, dan tepat pada saat itu Clarissa datang dengan tergopoh-gopoh. Sayang sekali karena macet dia tidak dapat melihat pertunjukan Austin yang dipermalukan di depan banyak orang.


"Cia!" teriak Clarissa dengan nafas terengah-engah. Sebab dia terus berlari dari lantai satu sampai ke ruangan ini. Cyara yang mendengar suara saudara tirinya itu langsung menoleh, tanpa pikir panjang dia langsung melepaskan pelukan De dan berganti menghambur ke arah Clarissa.


"Kita berhasil Cla!" jeritnya kegirangan.


"Benarkah? Apa orang jahat itu sudah dibawa ke kantor polisi untuk dihukum?"


Cyara mengangguk cepat. "Benar. Aku sangat senang, akhirnya kita bebas."


Kedua gadis itu saling berpelukan, lalu berpegangan tangan dan melompat-lompat. Mereka persis seperti anak kecil yang menemukan mainan baru, dan tak peduli pada orang-orang yang ada di sekitar mereka.


De, Aneeq dan Caka hanya bisa menonton dengan kernyitan di wajah masing-masing. Aneeq yang tidak pernah berurusan dengan gadis remaja, merasa sangat aneh melihat tingkah Clarissa dan Cyara.


Sementara De sudah tidak heran lagi, kejadian seperti ini pernah dia lihat saat Cyara bertemu dengan teman lamanya. Yah, anggap saja dia sudah terbiasa.


"Jadi itu seleramu, De?" tanya Aneeq dengan sedikit meledek. Mendengar itu, Caka menahan senyum, sementara De sudah meneguk ludah. Dia tiba-tiba kesulitan bernafas karena pastinya Aneeq sudah tahu apa yang ia rasakan.


"Aku juga tidak tahu," jawab De sambil memalingkan wajah.


Aneeq terkekeh keras. "Seleramu dan Daddy ternyata sama, suka daun muda yang masih butuh pertumbuhan. Sering-seringlah meremassnya supaya besar sedikit." Ucapnya begitu ambigu.

__ADS_1


De langsung memicingkan matanya. Paham ke mana arah pembicaraan Aneeq. Pasti tidak jauh-jauh soal bokoong dan dadaa. Dasar otak mesum!


"Apa yang kamu bicarakan, An? Jangan lupa, aku bukan kamu yang menggilai ukuran tidak bermoral itu."


Bukannya marah Aneeq malah tergelak kencang, hingga membuat Clarissa dan Cyara mengalihkan perhatian mereka ke arah pria tampan itu. Aneeq sedikit meninju bahu De, merasa gemas dengan ucapan saudara kembarnya. "Itu standarku, De. Kalau untukmu ya tidak berlaku, apa kamu sudah pernah memegangnya? Pasti sangat imut. Mirip jambu air."


Aneeq semakin tergelak sampai memegangi perutnya, membayangkan De yang hanya mendapatkan buah dada sebesar jambu air. Berbanding terbalik dengan miliknya yang besar seperti buah semangka.


Bugh!


"Sialan, kau, An! Kurasa mulutmu perlu dirobek agar tidak bicara sembarangan!" ketus De setelah memukul dada Aneeq, dia segera berlalu dari sana dengan tampang kesal, dan semua itu tidak luput dari pandangan mata Cyara.


"Om, Om Dokter mau ke mana?" teriak Cyara, saat melihat De melewatinya begitu saja.


Mendengar itu, tak hanya Aneeq yang tertawa, tetapi Caka juga sudah tidak bisa menahan sesuatu yang sudah berada di ujung mulutnya. Suara kedua pria itu membahana. Sementara Cyara dan Clarissa hanya bisa menatap De penuh tanda tanya.


"Om Dokter kenapa?"


***


Di penjara.

__ADS_1


Austin sudah bersama dengan dua orang pengacaranya. Dia sengaja menyiapkan mereka, untuk membantah semua tuduhan itu. Pria itu masih saja berpikir bahwa dia tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh siapapun, karena otak piciknya membuat dia begitu angkuh. Yakin bahwa dengan uang dan kekuasaan dia bisa menang.


Aneeq menyusul bersama Caka, untuk melihat penyidikan pertama pria gila itu.


"Aku tidak mungkin melakukan itu semua terhadap Kakakku!" sentak Austin, membantah laporan bahwa dia yang telah mencelakai Andrew.


"Tapi dari beberapa bukti, semua menyudutkan bahwa andalah pelakunya, Tuan."


"Itu hanya omong kosong! Aku hanya dijebak, semua itu adalah rekayasa yang dibuat keponakanku. Apa kalian bodoh? Percaya begitu saja pada seorang gadis kecil yang tidak mengerti apa-apa?"


"Masih saja membantah," timpal Aneeq yang sudah ikut merasa geram.


Austin menatap nyalang, dia segera menggebrak meja, berdiri dan menunjuk Aneeq. "Jangan ikut campur urusanku!"


Aneeq malah memasang tampang menyebalkan membuat kemarahan Austin naik hingga ke atas kepala. Akhirnya pria itu berjalan ke arah Aneeq dengan sedikit terseok, tetapi segera ditahan oleh beberapa orang.


"Lepas! Aku ingin menghajarnya!"


"Tuan, mohon tenang."


"Tidak, pria ini adalah orang gila, dia harus diberi pelajaran! Lepaskan aku!"

__ADS_1


Sepertinya penyidikan tidak bisa dilanjutkan, karena Austin malah mengamuk, akhirnya dia ditarik kembali untuk masuk ke dalam sel. Untuk sementara waktu ia akan ditahan sampai ke persidangan. Karena pihak yang berwajib takut, Austin akan kabur jika dilepaskan.


__ADS_2