Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Moo&Poo #24


__ADS_3

Akibat tragedi ular kejepit resleting, akhirnya De dan Cyara memutuskan untuk menyudahi bulan madu mereka. De terpaksa berisitirahat, karena senjatanya tak dapat digunakan dalam waktu dekat.


"Sial, baru saja aku merasakan indahnya surga dunia," gerutu De, benar-benar merasa kesal dengan tragedi yang menimpanya.


Selama perjalanan De hanya memakai celana kolor, agar ularnya bergerak leluasa. Tak peduli meski terasa gondal-gandul minta dipukul.


"Kita langsung pulang saja," ucap Cyara, rencana mereka untuk berbelanja oleh-oleh pun gagal total, karena dia ingin sang suami langsung beristirahat di rumah.


"Iya, Moo," jawab De patuh, dia pun menyandarkan kepalanya di bahu Cyara, kemudian meraih telapak tangan gadis itu agar mengusap-usap pipinya.


Waktu mereka di dalam pesawat dihabiskan untuk tidur. Karena Cyara pun merasa sangat lelah, hingga tak terasa keduanya telah sampai di salah satu pusat penerbangan.


Saat itu, De dan Cyara langsung mendapat jemputan, sehingga tanpa menunggu lagi keduanya sudah melanjutkan perjalanan untuk pulang ke mansion keluarga Tan.


"Kita pulang ke rumah setelah aku sembuh ya, Sayang," ujar De, menatap Cyara yang terlihat lesu, karena masih cukup mengantuk.


Pria itu pun meraih kepala Cyara dan menyandarkannya di dada.


"Iya, Poo, aku ikut kamu saja. Nanti aku akan bilang pada Daddy dan Clarissa," jawab gadis itu dengan suara lemah.


Baru saja De akan menjawab, tiba-tiba Cyara mengerjap dan mengangkat wajahnya. "Sayang, aku mau mangga muda."


De langsung melongo. Apa dia tidak salah dengar? Cyara menginginkan mangga muda?


"Kenapa tiba-tiba kamu menginginkannya?"

__ADS_1


"Tidak tahu, aku baru saja membayangkannya, sepertinya enak."


De mengerutkan wajahnya, merasa ada yang tak wajar, hingga dia menyeletuk. "Kamu tidak sedang mengidam 'kan, Sayang?"


"Hah, mengidam? Apa itu artinya aku hamil? Memangnya dalam waktu dekat bisa langsung jadi?" tanya Cyara bertubi dengan wajah terperangah.


De tampak terdiam sesaat. Sebagai dokter, dia sudah tidak kaget dengan kondisi seperti ini, meskipun usia pernikahan mereka baru seminggu, ada kemungkinan Cyara sudah bisa hamil.


"Nanti kita periksa saja untuk lebih jelasnya yah," ucap De seraya mengelus surai kecoklatan milik istrinya.


Cyara pun mengangguk.


"Tapi beneran ada yang seperti itu, Poo? Kita baru menikah satu Minggu."


"Ya ada, Sayang. Dokter kandungan biasanya menghitung dengan rumus Hari Pertama Haid Terakhir. Usia kandunganmu bisa saja sudah satu bulan," jelas De, yang membuat Cyara langsung membulatkan matanya. Dengan gerakan reflek dia mengelus perut.


De pun tersenyum, dia menggerakkan kepala kemudian mengecup bibir Cyara.


"Besok kita lakukan pemeriksaan, sebelum itu kita pakai alat tes kehamilan dulu."


Senyum di bibir Cyara tiba-tiba mengembang. Dia mengangguk antusias dan langsung memeluk tubuh suaminya dengan erat.


"Baiklah, ayo kita beli alatnya."


"Iya nanti suruh supir beli saja."

__ADS_1


"Tapi beli mangga dulu," rengek Cyara, membuat De berubah gemas. Tangan besarnya terangkat untuk mengelus perut rata gadis itu, tempat di mana calon anaknya akan tumbuh.


Meskipun tidak ada rencana untuk mendapatkan anak secepat ini, tetapi apapun yang diberikan Tuhan kepada mereka, De akan selalu bersyukur menerimanya.


"Iya, Sayang. Nanti kita cari sama-sama."


***


Sesampainya di mansion, kedua orang itu langsung disambut oleh Ken dan Zoya. Bahkan wanita dengan perut buncit itu langsung memeluk tubuh Cyara.


"Wajahmu terlihat sangat ceria, pasti happy banget ya di sana?" goda Zoya sambil menggandeng tangan sang menantu masuk ke dalam mansion.


"Sangat, Mom, pemandangannya indah, Cia suka."


Sementara dua orang pria di belakang sana hanya senantiasa mengekor tanpa menciptakan pembicaraan apapun.


"Syukurlah kalau begitu, kapan-kapan Mommy dan Daddy juga mau ke sana. Untuk melakukan Babymoon."


"Cia sarankan jangan mau diajak ke air terjun, Mom."


"Lho kenapa? Bukankah katamu indah."


"Pulang-pulang badan sakit semua."


Zoya langsung mengangkat kedua alisnya, lalu menoleh ke arah De yang sepertinya menjadi tersangka.

__ADS_1


Sementara Ken hanya terkekeh. Kemudian menepuk bahu putra keempatnya.


"Itulah resiko menikahi daun muda."


__ADS_2