Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Om Tua Menyebalkan


__ADS_3

Tepat pada hari itu juga, De datang ke apartemen. Dia dan Cyara sudah sepakat ingin memindahkan Andrew, di tangan De ada surat kuasa yang menyatakan bahwa Cyara sangat berhak menentukan di mana Andrew akan dirawat. Sebab dia adalah putri kandungnya.


Cyara juga sudah meminta bantuan pada Clarissa untuk mengalihkan perhatian Riana. Supaya wanita itu tidak datang ke rumah sakit, sampai ia menyelesaikan proses pemindahan.


"Sudah sarapan?" tanya De pada Cyara yang baru saja meletakkan topi di atas kepalanya. Gadis cantik dengan bibir tipis itu mengangguk.


"Sudah, Om."


"Baiklah, ayo kita pergi!" ucap De seraya mengambil tangan Cyara untuk digandengnya. Cyara sedikit terkejut, tetapi detik selanjutnya dia malah tersenyum sumringah. Merasa senang, karena De memperlakukannya dengan sangat manis.


Akhirnya mereka keluar dari apartemen. Sepanjang lorong yang mereka lewati, dan juga di dalam lift, De sama sekali tidak melepaskan genggaman tangan mereka.


Sampai di basemen, De langsung membuka pintu mobil dan menyuruh Cyara masuk. Baru setelah itu ia mengitari depan mobil dan duduk di belakang kemudi. Tidak ada pembicaraan apapun di antara mereka, hingga mobil mewah itu masuk ke jalan raya.


Sama seperti sebelum-sebelumnya, saat keluar dari apartemen Cyara selalu memakai pakaian tertutup. Sebab ia masih menjadi sosok yang dicari oleh banyak orang, dia tidak boleh muncul di permukaan dengan sembarangan.


"Om, tapi bagaimana kalau di sana ada para pengawal utusan Paman?" tanya Cyara, memecah keheningan di antara mereka. Di dalam mobil, dia melepas topi dan juga maskernya hingga De bisa melihat wajah cantik Cyara, termasuk bibir tipisnya.


"Tenang saja, aku sudah meminjam beberapa pengawal milik saudaraku."

__ADS_1


Cyara menatap De lagi, pria itu lebih bisa bersikap santai sekarang. Bahkan tak jarang De memberikan sentuhan fisik padanya, seperti saat ini, dengan gemas De mengusak puncak kepala Cyara hingga rambut gadis itu sedikit acak-acakan.


"Ish, Om. Nanti Cia jadi jelek," keluh gadis itu sambil menghalau tangan kekar De dari kepalanya.


"Kamu kan memang jelek, siapa yang menyebutmu cantik?"


"Daddy, Daddy selalu mengatakan kalau Cia itu cantik."


"Cih, hanya satu orang saja kamu sudah bangga."


"Biarkan saja, yang penting kan ada yang menyebutku cantik."


"Bagaimana denganku?"


"Hem—" Cyara langsung membalas tatapan mata De. Bola mata biru itu terlihat begitu indah, "apa maksudnya?" sambung gadis itu dengan melipat kening.


"Bagaimana kalau aku juga menyebutmu cantik? Apa kamu akan merasa senang?"


Blush! Tanpa sadar pipi Cyara langsung merona. Dia menurunkan pandangan dan membuang wajah dengan senyum kecil yang bertambah semakin lebar.

__ADS_1


Apa katanya? De juga menyebutnya cantik? Hanya karena pujian itu, Cyara bisa sesenang ini? Cih, bahkan jantungnya berdebar kencang, seperti seseorang yang sedang jatuh cinta.


"Hei, aku tanya bagaimana? Bukannya jawab malah senyum-senyum tidak jelas!" ketus De menyadarkan Cyara dari lamunannya. De kembali menarik pedal gas, lalu menjalankan mobilnya karena lampu sudah berubah hijau.


Cyara berubah salah tingkah, ternyata De memang selalu merusak ekspetasinya, dia kira pria itu ikhlas menyebutnya cantik. "Cih, tidak! Aku tidak senang!"


Kini giliran Cyara yang menjawab dengan ketus. Namun, bukannya merasa kesal, De malah bertambah semakin gemas. Ingin rasanya dia menggigit bibir Cyara, bila perlu sampai berdarah. Gadis itu memang selalu saja membuat hari-harinya jadi terasa berbeda.


"Kenapa? Apa ada pria lain yang kamu suka?"


"Suka apanya?! Lagi pula Om pakai tanya, harusnya peka sedikit dong!" Cyara malah semakin bertambah marah. Mendengar itu De langsung terkekeh keras sambil membelokan mobilnya untuk masuk ke gerbang rumah sakit.


Mereka sudah sampai. Saat mobil berhenti Cyara langsung meraih handle pintu, dan De malah menahannya. "Tunggu, aku ingin bertanya padamu."


"Apa?"


"Kenapa aku harus peka?"


Cyara langsung mengeratkan gigi depannya, dia menurunkan topi dan langsung membuka pintu. Sebelum menutupnya Cyara berteriak kesal pada De. "Pikir saja sendiri! Dasar Om Tua menyebalkan!"

__ADS_1


Brak!


__ADS_2