Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Harapan


__ADS_3

Tengah malam Riana baru saja tiba di rumah, dia tetap pulang sebab tak ingin membuat Clarissa khawatir padanya. Meski sempat berdebat dengan Austin, akhirnya pria itu mau melepaskannya dengan alasan tak ingin sampai membuat sang anak curiga.


Dan pagi ini, Riana menyambangi kamar Clarissa. Dia sudah berpikir tentang semua yang dia bicarakan dengan Austin, semalam dia tidak bisa tidur sedikitpun. Sekarang dia ingin membicarakan hal tersebut dengan anak semata wayangnya.


Tok Tok Tok


"Ra, apa kamu sudah bangun?" tanya Riana seraya menggerakkan tangan untuk mengetuk pintu. Dia terdiam sejenak untuk menunggu Clarissa bersuara, tetapi tidak ada jawaban apapun dari dalam sana.


Riana berulang kali melakukan hal tersebut, hingga akhirnya dia menyerah. Tidak biasanya Clarissa seperti ini, pasti ada yang tidak beres. Akhirnya Riana memutuskan untuk masuk, dia memutar kenop dan ternyata tidak dikunci sama sekali.


"Ara?" Riana sedikit terperangah, dia segera masuk ke dalam dan mencari keberadaan putrinya. Dia melihat ke arah ranjang, tetapi kosong. Dan semua itu tentu saja membuat pikiran Riana bertambah kalut.


"Ara, kamu di mana, Nak?" teriak Riana, dia berlari ke arah kamar mandi, awalnya hanya mengetuk, tetapi hasilnya sama saja, tidak ada sahutan apapun dari dalam.


Tiba-tiba Riana menangis, tidak mungkin kan Austin menculik Clarissa sementara mereka sudah sepakat untuk kerja sama. Riana tergugu dan semakin mondar-mandir, mencoba berpikir ke mana putrinya itu pergi. "Kamu ke mana sih, Ra?"


Riana mencoba mengingat-ingat, takut Clarissa memiliki janji dengan teman atau dosennya pagi ini, tetapi nihil. Clarissa tidak meminta izin apapun.


Wanita itu hendak keluar dari kamar Clarissa. Namun, kedua netranya tak sengaja melihat ke arah meja rias, hingga dia menemukan sesuatu di sana. Sebuah catatan kecil yang di tempel di kaca.

__ADS_1


Riana mendekat dan langsung meraih kertas kecil itu dengan kasar. Dengan bola matanya yang berkaca-kaca dia membaca tulisan sang anak, sebuah pesan untuk dirinya.


Bunda, Ara pamit. Terima kasih sudah menemani Ara seharian ini, Bunda pasti tahu kenapa Ara pergi. Ya, karena Ara tidak mau tinggal dengan orang jahat. Maafkan Ara, Bunda. Jaga diri Bunda baik-baik, dan sampaikan salamku pada Paman Austin, pria jahat yang ingin menghancurkan keluarganya sendiri.


Ara.


Setelah membaca itu, tangis Riana semakin pecah. Dia tergugu dan terkulai lemah di lantai. "Kamu salah, Ra." Lirih Riana, dia tidak bisa membayangkan bagaimana kecewanya Clarissa saat gadis itu mengetahui bahwa dia bekerja sama dengan Austin.


Namun, sungguh dia sama sekali tidak berniat untuk itu. Andai dia tidak diancam atas nama Clarissa, dia tidak akan mungkin sudi menjadi sekutu pria bejatt itu. Apalagi sampai mengkhianati Andrew.


"Bunda hanya ingin melindungi kamu, Bunda melakukan ini semua karena takut dia akan menjahatimu, Bunda tahu Bunda salah, tapi Bunda benar-benar tidak memiliki pilihan. Antara kamu dan Cyara—"


Riana memeluk kertas kecil itu dengan sangat erat. Dia bukan sedih karena Clarissa pergi, itu malah bagus. Dia yakin bahwa sang anak telah bertemu dengan Cyara dan bekerja sama. Namun, dia benar-benar kecewa karena disebut sebagai orang jahat oleh darah dagingnya sendiri.


"Di manapun kamu berada, Bunda akan selalu mendoakan kamu, Nak. Bunda yakin, kamu berada di tempat yang aman, biar Bunda yang menghadapi semua ini sendiri. Semoga kelak, kamu, Cyara dan Daddy bisa hidup dengan bahagia."


***


Pagi di tempat yang berbeda, yakni di rumah sakit Puri Medika. Cyara sama sekali tidak pulang, dia terus menemani Andrew. Sementara saudaranya—Clarissa, sudah ada di apartemen.

__ADS_1


Cyara tidak sendirian di ruangan itu, dia bersama dengan De yang ikut-ikutan menginap. Bahkan mereka tidur di atas brankar yang sama. Cyara yang kedinginan selalu mengusak ke dalam dada bidang De, sedangkan tangan pria itu tanpa sadar sudah menjalar ke mana-mana.


De mengerjap beberapa kali saat merasakan sesuatu yang bergerak-gerak. Kelopak mata itu menyipit menyesuaikan cahaya, hingga wajah Cyara adalah objek yang pertama kali dia lihat.


Pria itu tersenyum.


"Wajah menyebalkan ini lagi," ucapnya memungkiri, lalu dia melihat ke bawah. "Hei, apa ini?" Merasa terkejut sendiri dengan tangannya yang bertengger sembarangan, menggenggam kue mochie.


De panik bukan main, takut Cyara melihat kelakuannya. Namun, entah setan apa yang sedang merasuki pria itu hingga dengan sengaja dia malah meremassnya.


Grep!


"Ini apa?" gumam Cyara sambil memegang pergelangan tangan De.


***


Panik ga panik ga? 🤣🤣🤣


__ADS_1


__ADS_2