
"Moo, aku bawakan wedang jahe untukmu, ini supaya tubuhmu hangat," ucap De seraya menyerahkan satu gelas kecil rebusan jahe yang dicampur dengan madu.
Cyara meraihnya dengan pelan-pelan, sehabis mereka bercinta di air terjun dia sedikit menggigil, mungkin karena terlalu lama di dalam air.
"Terima kasih, Poo."
De mengecup kening Cyara yang kini duduk di atas ranjang. Tidak ada bosan-bosannya pria itu menatap wajah sang istri yang terlihat cantik meskipun kelelahan.
"Maaf yah membuatmu lelah," ujar De seraya merapihkan anak rambut Cyara. Gadis cantik itu tersipu, dia menyesap wedang jahe pemberian suaminya dengan pelan-pelan sambil menatap De malu-malu.
"Tidak apa-apa, Poo. Aku tahu kamu sedang bersemangat, jadi tidak masalah."
Mendengar itu, De pun mengulum senyum. "Benarkah?"
"Ya, asal jangan sampai membuatku pingsan saja." Nada bicara Cyara mulai sedikit ketus, karena baru satu hari mereka di sana, tulangnya seperti akan remuk.
Senyum di bibir pria itu berganti dengan kekehan. De mengecup dua pipi Cyara bergantian, lalu mengusak puncak kepala gadis itu.
"Berbaringlah, aku akan memijatmu."
Cyara langsung menghentikan sesapannya. Dia menatap De dengan picingan mata curiga.
"Jangan macam-macam ya, Poo. Kita sudah melakukannya lebih dari 5 kali."
"Apa sih, Sayang? Aku hanya ingin memijatmu, janji hanya memijat."
De berusaha meyakinkan Cyara, sebab dia tidak akan mungkin setega itu, menggagahi Cyara yang sudah tidak memiliki tenaga sedikitpun.
"Tapi kenapa aku tidak bisa percaya dengan ucapanmu."
De menghembuskan nafas kasar.
"Kalau aku macam-macam, aku akan tidur di luar."
__ADS_1
"Seriously?"
"Hem," jawab De singkat. Cyara mencoba percaya, dia menyerahkan gelas kecil di tangannya pada De, lalu mulai berbaring.
De mengambil minyak zaitun, lalu mengoleskannya pada kaki Cyara. Kali ini pria itu benar-benar memijat istrinya.
Cyara memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan tangan De, ia mulai merasa termanjakan hingga membuat tubuhnya terasa lebih ringan.
"Bagaimana, Sayang?" tanya De.
"Enak, Poo," jawab Cyara dengan jujur. Dia sangat suka dengan pijatan suaminya. Hingga tangan itu semakin naik, mulai memijat punggung. Dia menyingkap dress yang Cyara kenakan, hingga gadis itu kembali polos seperti bayi yang baru dilahirkan.
Kali ini De benar-benar mengerjakan tugasnya dengan baik. Pada pukul 9 malam, dia sudah selesai memijat Cyara. Hingga gadis itu terlelap.
Cup!
De melandaskan kecupan singkat di puncak kepala Cyara. Lalu berbaring di samping gadis cantik itu. Namun, baru saja De merengkuh pinggang ramping Cyara, Cyara malah membuka matanya.
De mengangguk.
"Sudah, Sayang. Sekarang lebih baik kita istirahat."
Cyara pun patuh, dia mengeratkan pelukannya pada pinggang De, dan sebelum memejamkan mata, dia menyempatkan diri untuk menghadiahkan kecupan kecil untuk suaminya.
"Selamat malam, Suamiku."
***
Pagi datang.
De mencoba untuk membangunkan Cyara.
"Moo, bangunlah! Kita sarapan dulu," ucap De, seraya menggoyangkan bahu istrinya.
__ADS_1
Hingga membuat Cyara menggeliat. Gadis cantik itu mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam indera penglihatannya.
"Aku mengantuk, Poo!"
"Makan dulu, setelah itu kita istirahat lagi. Nanti sore aku akan membawamu melihat sunset."
Mendengar tawaran pria itu, Cyara langsung terduduk. Mata gadis itu terasa segar karena De akan mengajaknya melakukan sesuatu yang lain, yang pastinya romantis.
"Ayo kita sarapan!" kata Cyara seraya menarik lengan De, menuju meja kecil yang ada di kamar mereka. Namun, tidak ada apa-apa di sana.
"Lho, mana makannya, Poo?"
De tersenyum, dia memberikan kecupan selamat pagi, lalu menggendong tubuh Cyara untuk pergi ke belakang.
"Kita makan sambil berenang, Sayang."
"Hah, memangnya ada yang seperti itu?"
"Tentu saja, aku sudah menyiapkan semuanya."
Cyara melihat ke arah kolam renang, di mana ada makanan yang mengapung di sana. Sementara pemandangan laut menjadi satu-satunya objek yang memanjakan matanya.
"This is wonderful!"
De mengajak Cyara turun ke air. Selama bulan madu, De benar-benar memanjakan gadis itu. Cyara langsung bersemangat melihat makanan yang sudah tersaji, dia melepaskan pegangannya pada tubuh De, lalu mulai berjalan sendiri.
Akhirnya mereka pun menikmati floating breakfast. Kebahagiaan terpancar jelas dari wajah keduanya, apalagi saat De kembali menyatukan bibir mereka.
***
Gambar hanya ilustrasi 🥴
__ADS_1