
Di sebuah restoran, tepatnya di ruang VVIP yang sebelumnya sudah Caka reservasi. Aneeq bertemu dengan Winda. Beralasan ingin membahas tentang pekerjaan, membuat wanita berambut sebahu itu tidak curiga sama sekali.
Bahkan dengan santai mereka memesan makanan terlebih dahulu, membuat suasana tidak begitu canggung. Winda merasa lebih lega, karena akhirnya ada waktu untuk terlepas dari Austin.
Pria itu sedang pergi entah ke mana, dan dia tidak peduli dengan itu. Toh, selama tidak ada Austin perusahaan berjalan dengan baik, berbeda dengan sekarang, semuanya terasa kacau-balau.
"Maaf, Tuan, ini semua berkas yang anda bawa tadi pagi. Saya sudah mempelajarinya," ucap Winda seraya mengeluarkan map yang sama, seperti yang dibawa Caka.
Dia meletakkan map tersebut di atas meja, sambil menunggu pesanan datang. Aneeq menunjukkan wajah serius, dia menatap Winda dengan sedikit lekat. "Kita lupakan pekerjaan ini!"
Aneeq menggeser map tersebut membuat Winda tercengang. Dia membalas tatapan mata Aneeq, pria penuh karisma itu seolah mengetahui sesuatu yang lain, hingga Winda meneguk ludahnya.
"Apa maksud anda, Tuan?"
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Nona. Ini mengenai Tuan Austin."
Deg! Jantung Winda seperti berhenti berdetak saat mendengar nama pria yang paling dia benci itu disebut. Bola mata wanita itu bergerak gelisah, dengan lidah yang mendadak kelu.
Winda menundukkan kepala.
__ADS_1
Aneeq melihat ke arah Caka, pria itu meminta pendapat pada sang asisten dan Caka langsung mengangguk. Meski tanpa bicara mereka seperti sudah paham bahasa tubuh masing-masing.
"Aku tahu apa yang Tuan Austin lakukan."
Makin gemetar saja tubuh Winda saat mendengar itu. Apa yang Aneeq tahu tentang Austin, apakah pria di hadapannya ini juga tahu kalau pria itu telah melecehkannya.
"Saya tidak mengerti apa yang anda bicarakan, Tuan," ujar Winda dengan gelengan kepala. Dan hal tersebut membuat Aneeq yakin, bahwa Winda telah mendapatkan sesuatu dari Austin, entah itu ancaman atau apapun.
"Aku tidak ingin berbasa-basi, aku hanya ingin membantu menyelamatkan perusahaan tempatmu bekerja dari orang yang serakah. Nona Cyara, putri dari Tuan Andrew telah menceritakan semuanya padaku."
Deg! Winda langsung terpaku saat mendengar nama Cyara. Bukankah gadis cantik itu dinyatakan hilang sampai sekarang.
"Dia ada di apartemenku. Kamu tahu penyebab dia menghilang selama ini?"
Winda langsung menggeleng dengan tatapan tak percaya.
"Tuan Austin yang menculiknya, bahkan gadis itu hampir diperkosaa. Tapi dia berhasil kabur. Dan pria itu mengambil kesempatan ini untuk menguasai harta keluarganya. Aku yakin kamu tahu akan hal itu."
Aneeq berbicara begitu santai, sementara Winda tidak dapat duduk dengan tenang. Fakta apa ini? Kenapa bisa seorang anggota keluarga menculik anggota keluarganya yang lain. Bahkan sampai bertindak sekeji itu. Austin benar-benar menjijikkan.
__ADS_1
"Aku—" Winda ingin bicara, tetapi lidahnya seolah tak bisa diajak berkonstribusi. Dia meremat pinggiran sofa dan beberapa kali menarik nafas dalam-dalam.
"Katakan saja sejujurnya. Kalau kamu ingin membantu Tuan Andrew, aku yakin kamu tidak akan bertindak selicik Tuan Austin. Dan perlu kamu ingat, aku akan menjamin keselamatanmu dari pria bejatt itu. Aku ingin kita kerja sama untuk melawan dia."
Winda mematung sejenak. Memikirkan tawaran Aneeq. Andai dia terima maka semua pelecahann itu tidak akan lagi dia dapatkan. Dia tidak perlu bermimpi buruk tentang masa depannya yang hancur di tangan bosnya sendiri.
Winda tiba-tiba terisak-isak. Membuat Aneeq dan Caka saling pandang.
Wanita itu terus menunduk dalam, merasa malu karena tidak bisa melawan sedikitpun pada Austin. "Tuan Austin melecehkann saya, Tuan. Dia juga meminta jabatan tertinggi perusahaan segera dialihkan, padahal tidak ada surat kuasa apapun dari Tuan Andrew mengenai itu semua."
Aneeq langsung geleng-geleng kepala. Ya, walaupun tak dipungkiri sikapnya tidak jauh dari Austin yang kerap bermain dengan para sekretarisnya. Namun, berbeda dengan Aneeq yang menjadikan mereka seorang teman kencan.
Mereka saling menyenangkan dan sama-sama puas. Lain dengan Winda yang merasa begitu tersiksa dengan tindakan tersebut.
"Kalau begitu, bisakah kamu membantuku untuk mencari bukti? Kita lawan pria bejatt itu sama-sama. Sebisa mungkin aku akan membuat perusahaan itu bertahan atas nama Tuan Andrew, ataupun Nona Cyara."
Dengan sesenggukan Winda mengangkat kepalanya. Pancaran ketakutan dan kesedihan itu sangat jelas. Wanita itu segera mengangguk, menyetujui ide Aneeq.
"Baik, Tuan, saya akan bekerja sama dengan anda."
__ADS_1