
"Aku sudah siap bertemu dengannya."
De meneguk salivanya, sementara rasa panas semakin menjalar ke mana-mana, darah dalam tubuhnya seolah mendidih. Hingga dengan secepat kilat dia menarik tubuh mungil Cyara dan langsung menyesap bibir ranum itu.
De tidak pernah merasa terbakar seperti ini, sumpah demi apapun rasanya dia ingin meledak. Pria itu tidak peduli lagi pada sekitar, dia membawa tubuh Cyara naik ke atas meja rias yang ada di dekatnya.
Kelopak bunga mawar yang bertebaran mengusak berantakan, bersamaan dengan barang-barang Cyara yang berjatuhan. Namun, sungguh keduanya tidak menghiraukan hal itu.
Mereka sama-sama saling mencari kepuasan, dengan menyesap dan menguluum satu sama lain. Cyara sedikit kewalahan, sebab De terlihat begitu bergairah malam ini. Dia tidak menyangka, dipancing sedikit ternyata sang suami langsung memakan umpannya.
"Ught!" Lenguhan kecil terdengar di telinga De, dia semakin menekan tubuh Cyara. Tangan besarnya merayap, mengelus perut rata gadis cantik itu.
Suara decak penuh hasrat itu semakin terdengar memburu. Cyara mengeratkan pelukannya pada leher De, sementara jemarinya berkali-kali menjambak rambut pria itu, dia semakin membusung, kala tangan hangat itu berhasil meraih dua buah bongkahan mungil miliknya.
De meremassnya dengan manja, memberi gerakan memutar dan memilin hingga membuat Cyara mendesaah keras.
"Aku akan membuatnya berubah," ucap De, yang mana membuat Cyara menatap dengan penuh tanda tanya. Nafas gadis itu terengah, dengan kedua dada yang naik turun.
"Apa?"
De menyeringai tipis, kedua tangan itu semakin meremat benda kesukaannya hingga Cyara sedikit mengangkat wajah.
__ADS_1
"Sebentar lagi dia akan tumbuh lebih besar."
Pipi Cyara memerah, dia tahu ukuran dadanya terlalu kecil untuk pria dewasa seperti De. Rasanya tidak adil jika dia mendapatkan raga yang begitu perkasa, sementara De hanya mendapatkan dadanya yang tak seberapa.
Maka dia pun pasrah, saat De membuka piyama merah itu dari tubuhnya. Membuat dia terlihat polos seperti bayi yang baru saja dilahirkan.
Pipi Cyara semakin memerah, kala melihat De yang menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Bergairah dan penuh damba. Tidak ingin mengecewakan suaminya di malam yang indah ini, Cyara berusaha menghilangkan rasa malunya dengan menuntun tangan De memegang dua buah kesukaan pria itu.
"Aku milikmu malam ini. Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan. Let's play, My Husband."
Sudah tidak ada alasan lagi untuk De tidak menyerang Cyara. Dia segera mendorong gadis itu hingga menempel di kaca, sementara dirinya menyesap bulatan kecil yang mampu membuat Cyara menjerit-jerit.
Gelora sukma pria itu semakin membara. Cyara benar-benar berbeda. Rasanya dia sudah tak tahan untuk berlama-lama, membiarkan tubuh itu kedinginan, dia ingin segera mengajak Cyara berkeringat bersama.
Mengecap hingga pinggirannya menyisakan bekas kemerahan yang begitu kentara. Cyara menengadah, dia secara reflek mengalungkan kedua kakinya di pinggang De saat pria itu membawanya ke tempat peraduan.
Tubuh Cyara terbanting, dia melihat tatapan mata suaminya semakin menggelap, tertutup oleh kabut hasrat. De merangkak naik, setelah melepaskan semua yang melekat di tubuhnya hingga Cyara bisa melihat benda yang selama ini menghantui pikirannya.
Hah, benar-benar besar dan mengerikan!
Tubuh Cyara sedikit gemetar, karena dia sedikit terkejut saat melihat benda tersebut. Namun, karena tak ingin mengecewakan suaminya. Cyara segera menghilangkan rasa takut itu, dia harus bisa mengimbangi De yang selalu berusaha menyenangkannya.
__ADS_1
Tidak apa-apa, Cia. Rileks, benda itu tidak akan membunuhmu.
Cyara semakin meringsekkan tubuhnya, saat De sudah berhasil mengungkungnya. Dia tidak dapat berkata apa-apa, sebab De seperti telah menyihirnya hingga dia hanya bisa meneguk ludah.
"Kamu takut, Moo?" tanya De, melihat wajah Cyara yang terlihat berbeda.
Mendengar itu, Cyara terbelalak, kenapa De bisa mengetahuinya?
"Tidak, Poo. Aku sedikit hanya terkejut," jawab gadis itu dengan terbata.
"Kenapa? Bahkan kamu sudah pernah melihatnya." De mengusap dahi Cyara yang mulai berpeluh, mengecupnya berulang kali hingga membuat Cyara tak sanggup berkata-kata.
Akhirnya dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya.
"Pegang!"
Cyara mengerjap, apa? Apa yang harus dia pegang? Melihat Cyara yang kebingungan, De menggapai satu tangan lentik itu, Cyara bergeming hingga dia merasakan tangannya penuh oleh sesuatu.
"Awalnya memang sakit, tapi aku pastikan setelah itu tidak lagi. So, are you ready to play with me?"
***
__ADS_1
Masih pemanasan, goyanginn jari dulu😌😌😌