Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Mengecek CCTV


__ADS_3

De memberikan Cyara waktu untuk sendiri. Agar gadis itu kembali tenang. Dia memilih untuk mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi, sebab ia sadar Cyara tidak akan mungkin semudah itu ia bujuk dalam keadaan seperti ini.


Akhirnya De meninggalkan apartemen, dia meletakkan makanan Cyara di meja depan kamar gadis itu. De tidak memberikan pesan apapun, sebab ia langsung mengayunkan kaki untuk keluar menuju cafe yang sempat Cyara kunjungi.


Sambil mengemudi, De mengetik pesan pada Aneeq, mengenai orang yang harus dia selidiki. De juga memberikan gambar selebaran yang sempat ia foto di pinggir jalan. Tentang informasi orang hilang.


De menjalankan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Hingga dalam beberapa saat ia sudah sampai di tempat yang dituju. Sebab cafe itupun sudah sangat familiar, ia juga pernah ke mari untuk sekedar makan siang.


Pria itu menghela nafas lega, karena cafe tersebut sudah lumayan sepi pengunjung. Semua orang telah selesai makan siang, maka dari itu dia tidak terlalu segan untuk masuk ke dalam.


De langsung memanggil satu pelayan. Selama di perjalanan dia sudah memikirkan satu alasan agar ia bisa mengecek CCTV dengan mudah.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" ucap satu pelayan pria yang memakai seragam khas cafe tersebut.


"Eum begini." De terlihat sedikit ragu. "Tadi istri saya dan temannya makan di cafe ini sekitar satu jam yang lalu dan katanya dompet dia hilang. Saya ingin mengecek kamera CCTV untuk memastikannya siapa tahu ketinggalan, apakah bisa?" jelas De, sedari tadi hanya itu yang ada di otaknya. Sebab ia tidak selicik Aneeq untuk urusan berbohong.


Mendengar itu, sang pelayan tidak langsung mengiyakan. "Saya tanya bagian keamanan dulu ya, Tuan."


De langsung mengangguk sebagai jawaban. Ia menunggu untuk beberapa saat, hingga akhirnya pelayan itu kembali dan mengizinkan De untuk masuk ke ruangan CCTV.


Akhirnya. Batin pria itu lega.

__ADS_1


Di sana De mengecek waktu di mana Cyara singgah di cafe ini. Hingga ia bisa melihat dengan jelas, bahwa ada perdebatan di antara Cyara dan seorang gadis yang seusianya.


Bahkan saat itu Cyara terlihat sangat marah. De belum bisa menyimpulkan mengapa terjadi perdebatan itu. Namun, satu yang ia tahu, ada titik masalah yang menjadi pemicu.


Dia harus mengecek kegiatan Cyara di hari sebelumnya. Ya, dia harus tahu ke mana sebelumnya gadis itu pergi sebelum ke tempat ini. Dari sana, De akan tahu apa yang menyebabkan Cyara bisa semarah tadi.


"Bagaimana, Tuan? Apakah CCTV ini bisa membantu?" tanya petugas keamanan pada De.


Dan lamunan pria itu langsung buyar. Dia menggeleng pelan. "Maaf, Pak. Sepertinya dompet istriku tidak jatuh di sini, mungkin di tempat lain."


"Coba diingat-ingat lagi, Tuan."


De pamit dengan uluman senyum tipis. Lalu dia mulai membuka ponsel. Mencari riwayat perjalanan Cyara, dia begitu penasaran apa yang membuat kucing dekil itu berubah menjadi singa dalam waktu sekejap mata.


Pria berjambang lebat itu sudah ada di dalam mobil, tetapi ia tak lekas menyalakan mesin. Dia senantiasa mengotak-atik ponsel, hingga satu titik kembali ia temukan. "Rumah Sakit Sastra Medika. Dia diam-diam menemui ayahnya?"


De tak habis pikir, Cyara ternyata mulai berani untuk menampakkan dirinya. Namun, sungguh dia khawatir Cyara tertangkap oleh Austin, apalagi sekarang dia dinyatakan sebagai orang hilang.


Untung saja, otak Cyara masih waras. Sebab saat keluar gadis itu menutup penampilannya dengan pakaian serba hitam.


"Kucing Dekil itu tidak bisa dianggap remeh, dengan dia keluar artinya dia sudah berani mengambil resiko. Andai dia ditangkap, aku juga pasti yang akan merasa bersalah," gumam De dengan mendesah. "Aku harus amankan dia."

__ADS_1


Baru saja De ingin menjalankan mesin mobil, ponselnya malah berdering, panggilan dari Aneeq.


De langsung menggeser icon hijau untuk menerima panggilan dari saudara kembarnya.


"Halo, An, ada apa? Aku sudah mengirimkan beberapa pesan padamu untuk memudahkan penyelidikan. Sekarang aku mau kembali ke rumah sakit," ketus De, belum ada satu jam ia mengirimi pesan, Aneeq malah menghubunginya. Mau apa dia?


"Heh, kenapa malah bicara ketus begitu? Kamu itu sedang meminta bantuan padaku, dan ingat walau bagaimanapun aku tetap kakakmu! Jadi sopanlah sedikit."


"Iya-iya maaf, apa yang ingin kamu tanyakan? Aku sedang dalam perjalanan."


"Tidak ada, aku hanya ingin memberitahumu tentang orang yang sedang kamu selidiki."


Mendengar itu, De langsung terperangah. "Hah, secepat itu?"


"Tentu saja. Karena itu sangat mudah bagiku," ujar Aneeq membanggakan dirinya, membuat De langsung mendengus kasar.


"Iya aku tahu kamu hebat, sekarang katakan apa yang ingin kamu sampaikan."


Aneeq terkekeh kecil. "Baiklah, satu clue dariku. Dia dari keluarga Ramsey."


"Keluarga Ramsey?"

__ADS_1


__ADS_2