Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Bukan Mimpi


__ADS_3

Mendengar kabar bahwa Andrew telah sadar, membuat Cyara tertegun sekaligus merasa sangat bahagia. Akhirnya semua doa yang dia panjatkan terkabul, dia yakin sebentar lagi Andrew akan kembali seperti semula.


"Ada apa, Ci?" tanya Clarissa melihat Cyara yang berkaca-kaca. Cyara mematikan panggilannya bersama De, lalu menatap ke arah Clarissa dengan air mata yang sudah mengalir deras.


"Lho, lho, kenapa kamu menangis?"


"Daddy, Cla."


"Ada apa dengan Daddy?" tanya Clarissa dengan cemas. Dia langsung memegang kedua bahu Cyara menuntut sebuah jawaban. Tidak, dia tidak ingin mendengar kabar buruk, jangan sampai Andrew kenapa-kenapa.


"Daddy sudah sadar, kita harus cepat ke rumah sakit," jawab Cyara, kelopak mata Clarissa langsung membesar. Dia ikut merasa bahagia, bahkan kini gadis cantik itu sudah menangis. Dia menarik tubuh Cyara, dan memeluk saudara tirinya itu.


"Syukurlah, aku sangat senang mendengarnya, semoga Daddy bisa cepat sembuh."


Cyara mengangguk dalam pelukan Clarissa, lalu mereka meminta supir taksi agar menaikkan kecepatan. Hingga kurang lebih 20 menit, akhirnya mereka sampai. Setelah membayar kedua gadis itu langsung berlari menuju ruangan Andrew.


Bahkan karena saking senangnya, Cyara sampai tidak mengetuk pintu. Langkah gadis itu terhenti, saat melihat Andrew dan De sedang berbincang, disusul oleh Clarissa yang ikut terdiam di belakang tubuh gadis itu.


Cyara semakin menangis, dia tergugu sementara Andrew sudah tersenyum ke arahnya. Dia mencubit anggota tubuhnya dengan cukup keras, meyakinkan diri bahwa semua ini bukanlah mimpi.


"Daddy," panggil Cyara, lalu berlari ke arah brankar. Dia langsung menghambur memeluk Andrew bersama dengan Clarissa.

__ADS_1


Keduanya menangis sesenggukan, membuat hati Andrew ikut merasa ngilu. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan sang anak, jika dia tidak bisa bangun kembali, akankah ada yang menyayangi Cyara setulus dia?


"Anak Daddy kenapa menangis? Lihatlah Daddy sudah sehat," tanya Andrew setelah mengecup puncak kepala Cyara dan Clarissa bergantian.


"Kenapa Daddy lama sekali bangunnya? Cia takut tahu," ujar Cyara dengan suaranya yang bergetar. "Cia takut Daddy menemui Mommy. Nanti Cia sama siapa?"


"Kan ada Clarissa dan Bunda. Lagi pula Daddy sudah tidak apa-apa."


"Daddy bisa bicara seperti itu, karena Daddy tidak tahu apa yang Cia lalui. Cia benar-benar takut."


"Kalau begitu sini peluk Daddy lagi." Andrew semakin mengeratkan pelukannya, dia mengusap punggung Cyara naik turun, berharap putri semata wayangnya itu lekas tenang.


Sementara tangis Clarissa semakin pecah. Dia merasa sangat berdosa pada keluarga Andrew. "Maafin Bunda dan Ara, Daddy. Kami lalai dalam menjaga Cia. Maafin Ara."


Di tempatnya berdiri De hanya bisa melihat pemandangan manis itu. Dia turut bahagia, karena pada akhirnya Cyara telah kembali pada keluarganya. Namun, entahlah dia malah merasa akan ada sesuatu yang hilang darinya.


Sebab setelah ini dia akan kembali pada kehidupannya yang monoton, yaitu bekerja, bekerja dan bekerja.


"Pokoknya Daddy harus cepat sembuh," ucap Cyara sambil mengelap sisa-sisa air matanya.


"Iya, anak cerewet."

__ADS_1


"Biar saja aku cerewet yang penting kan Daddy cepat pulang ke rumah."


"Benar, Daddy, saat masa pemulihan Daddy harus rajin minum obat dan berolahraga, nanti kita akan sering-sering datang ke mari untuk menjenguk," timpal Clarissa.


Andrew mengangguk kecil, patuh pada kedua putri kesayangannya. "Iya, Daddy pasti akan menuruti semua ucapan kalian. Daddy juga tidak ingin berlama-lama di sini—oh ya, Dokter. Terima kasih karena sudah memberitahu Cyara agar cepat datang."


Sebenarnya Andrew heran kenapa bisa seorang Dokter menghubungi keluarga pasien dengan ponsel pribadi, bahkan pria berjambang lebat itu beberapa kali memberitahunya tentang kehidupan seputar Cyara selama dia koma.


Dia ingin bertanya lebih jauh, tetapi rasanya tidak sopan.


"Sama-sama, Tuan, kalau begitu saya permisi," jawab De dengan tersenyum ramah, dia langsung pamit undur diri untuk kembali ke ruangannya. Namun, langkah pria itu malah dicekal oleh Cyara.


"Om Dokter, tunggu!"


De sedikit menoleh, mendengar suara Cyara entah kenapa jantungnya serasa ingin copot. Berbeda sekali dari biasanya.


"Ada apa, Nona?"


Mendengar panggilan De, Cyara mengulum senyum, merasa lucu, dia segera menghampiri pria itu dan bergelayut manja. "Ada sesuatu yang tertinggal di apartemen. Bisa antar aku mengambilnya?"


De menelan ludah, dia pikir Cyara ingin bicara apa. "Ya, baiklah. Aku akan mengantarmu."

__ADS_1


Cyara langsung tersenyum sumringah, dia pamit pada ayahnya, lalu menarik lengan De untuk melangkah bersama.


__ADS_2