
"Itu akibat banyak bicara!"
Setelah ciuman itu terputus, De langsung membalik badannya. Entah sudah semerah apa telinganya sekarang. Sebab ia sedang merasakan malu yang luar biasa. Bisa-bisanya dia terkontaminasi pada bibir Cyara yang terus terngiang-ngiang dalam otaknya.
"Apa aku harus diam?" tanya Cyara, dia terus menatap De yang seolah menghindarinya.
"Tentu saja!"
"Kalau Cia bicara lagi, apa Om akan melakukan hal yang sama?"
"Jangan memancingku!"
"Memangnya Om ikan? Pakai dipancing segala?"
"Cia!" teriak De yang sudah merasa sangat gemas. Cyara langsung diam, tetapi bibirnya senantiasa menahan senyum. Ini adalah kedua kalinya De menciumnya dengan alasan yang sama. Pria itu selalu saja menganggap semua itu adalah hukuman untuk Cyara.
"Baiklah, aku akan berhenti mengoceh, tapi sebagai gantinya, aku akan membantu Om memasak," ujar Cyara, dia menurunkan tubuhnya dari meja dan melangkah ke arah De.
"Aku bilang tidak perlu."
__ADS_1
"Kenapa sih? Aku juga bisa kok." Cyara mengambil sayuran dari tangan De dengan paksa dan mulai memotong. Namun, karena tidak hati-hati Cyara malah merasakan jarinya teriris.
"Aw!" Cyara langsung menjerit, dia mengangkat tangan dengan darah yang sudah mengalir.
Melihat itu De langsung berdecak. "Ck, aku sudah bilang tidak perlu! Dasar keras kepala!" Ketusnya lalu menarik dan mengulumm jari telunjuk Cyara yang berdarah. Dia beberapa kali melakukan hal tersebut hingga darah itu berhenti mengalir.
Sementara Cyara hanya memerhatikan apa yang De lakukan. Senyum gadis cantik itu bertambah mengembang. De memang tipe pria kaku tetapi penuh perhatian. Dan dia tidak bisa bohong, dia menyukainya. Ini adalah kali pertamanya dia menyukai seorang pria.
"Kenapa malah senyum-senyum?" cetus De dengan menatap tajam. "Harusnya kamu berpikir tentang kesalahanmu. Kalau kamu ceroboh, bagaimana kelak kamu mengurus ayah dan suamimu?"
De menarik Cyara untuk kembali duduk di sofa. Sementara dirinya melipir untuk mencari kotak p3k. Dia membatalkan rencananya untuk memasak, sebab suasana hatinya telah berubah. Dia takut Cyara yang ceroboh melakukan hal yang lebih parah.
"Ini hanya kecelakaan kecil, Om."
De ikut duduk di sofa, dia kembali meraih jemari Cyara dan memasangkan hansaplast di jari lentik itu.
"Iya-iya, tapi sekarang bagaimana? Apa Om tetap mau memasak?"
"Tidak, kita pesan saja. Kalau memasak nanti malah semakin lama, kamu kan pengacau!"
__ADS_1
Cyara terkekeh kecil. Sementara De langsung merogoh ponselnya yang berada di kantong celana. Dia segera membuka aplikasi untuk memesan beberapa makanan. Di antaranya dia memilih menu omelette, sesuai keinginan Cyara.
Cukup lama mereka menunggu, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang. Cyara langsung bersemangat menenteng paper bag berisi makanan yang De pesan, tak bisa bohong ia juga benar-benar lapar.
"Makan dengan pelan-pelan, aku tidak akan memintanya," ucap De, saat mereka sudah mulai menyantap makan malam.
Bukannya patuh pada ucapan De, Cyara yang masih mengunyah malah mengulurkan omelette ke depan mulut De. "Ayo, coba. Rasanya sangat enak." Ujar gadis itu dengan mulut penuh.
De menatap Cyara sekilas, tiba-tiba bibir itu menyeringai tipis. Dengan gerakan cepat De menarik tengkuk Cyara dan merebut omelette dari mulut gadis itu.
Cyara terperangah, tetapi melihat senyum De dia malah terpana.
"Sangat enak," ucap pria itu membuat Cyara mati kutu.
***
Pagi datang dengan cepat. Namun, Cyara masih berada di alam bawah sadar. Dia tidak ingat, bahwa ada cucian yang menunggunya. Akibat kekenyangan, dia tidur dengan sangat nyenyak, ditambah ia sedang bermimpi indah hingga ia tak ingin terbangun cepat-cepat. Takut mimpinya sirna.
Bahkan gadis itu tidak sadar, bahwa ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya dan membuat seseorang itu hampir jantungan.
__ADS_1
Di tempatnya berdiri, Jennie—istri dari Aneeq menatap Cyara dengan mulut yang menganga. Jantung wanita itu hampir saja merosot, sementara otaknya sudah melalang buana, memikirkan yang tidak-tidak.
"Siapa dia? Kenapa dia tidur di apartemen Aneeq?"