Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Tidak Bisa Menahan Diri


__ADS_3

De langsung kembali ke rumah sakit. Walau bagaimanapun dia harus sadar profesinya. Sampai di sana, dia langsung disambut oleh Alana. Wanita itu sedikit berlari saat melihat De datang.


"Dokter De, ada pasien di kamar 006 yang membutuhkan bantuan anda," ucap Alana, saat itu kebetulan ada seorang pasien yang baru saja masuk ke sana. Padahal sudah ada dokter lain yang menggantikan De, tetapi Alana yang ingin mencari perhatian malah memanggil pria itu.


"Bukannya ada Dokter Darwin?"


"Tapi aku tidak melihatnya, Dok," jawab Alana bohong, padahal ia yang menyuruh Darwin kembali ke ruangannya.


Mendengar itu, De berdecak keras, pikirannya yang sedang kalut, membuat ia mudah sekali terpancing amarah. Bagaimana bisa Darwin tidak ada? Langkah De semakin terasa lebar untuk cepat sampai di ruangan yang di maksud Alana.


Sementara wanita itu terus mengekor, karena jadwalnya sedang lengang, Alana memutuskan untuk mengikuti ke manapun De pergi. Sebab beberapa hari ini, dia benar-benar tidak bisa mendekati De, karena pria itu terlihat sangat sibuk.


***


Malam datang.


Pukul 8 lebih beberapa menit, De sampai di apartemen. Sorot mata pria itu sudah melayu, karena seharian ini dia sudah bekerja keras, sementara pikirannya tidak sinkron.


De memperhatikan sekitar, ia tebak Cyara tidak keluar dari kamar, sebab hari sudah gelap tetapi lampu belum juga menyala. Dan dugaan itu diperkuat dengan makanan yang De tinggalkan.


Makanan itu terlihat sama sekali tak tersentuh. Bungkusannya masih rapih, sama seperti terakhir De lihat. Pria itu menghela nafas gusar, untuk menghadapi gadis seusia Cyara dia harus banyak-banyak memiliki stok sabar.

__ADS_1


De mencoba untuk membuka pintu, ia tahu Cyara tidak akan mungkin membuka benda persegi panjang itu andai ia mengetuknya. Alhasil De melakukan inisiatif, dan ia masih beruntung sebab Cyara tidak mengunci kamarnya.


Sama seperti ruang tengah, kamar yang ditempati Cyara pun tampak gelap. De menyalakan lampu, dan pada saat itu ia bisa melihat tubuh Cyara yang meringkuk.


Gadis cantik itu membelakanginya. Dan rasa bersalah itu semakin bertambah besar, De sadar ia terlalu terburu-buru mengambil langkah. Hingga menghasilkan komunikasi di antara mereka jadi berantakan.


De melangkah mendekat ke arah ranjang. Gerakan pria itu terasa begitu pelan, karena tak ingin membuat Cyara terganggu. Namun, dalam jarak sedekat itu, De tidak bisa menahan diri lagi, ia langsung menjatuhkan tubuhnya dan melingkarkan tangan di pinggang Cyara.


Membawa tubuh mungil itu masuk dalam rengkuhannya. "Maaf." Ucap De, sejurus dengan desiran aneh yang menyapa dadanya.


"Maafkan aku untuk semuanya. Aku tidak mendengarkan penjelasanmu lebih dulu."


Hingga De semakin mengeratkan pelukannya. Dia tak memberi celah pada Cyara untuk bergerak sedikitpun, membuat gadis itu akhirnya sedikit demi sedikit membuka mata.


Kelopak mata indah itu mengerjap, ia merasa sudah tertidur sangat lama. Sebab setelah menangis, ia benar-benar tak pergi ke mana-mana. Cyara menatap lurus pada dinding putih ruangan tersebut, tetapi fokusnya teralihkan pada tangan kekar yang melingkar penuh di perutnya.


Siapa?


"Maafkan aku, Cia."


Jantung Cyara langsung berdebar mendengar suara familiar itu. Sungguh tanpa melihat pun ia bisa menebak siapa pemilik raga kekar yang tengah memeluknya.

__ADS_1


De—pria tampan itu ada di sini? Memeluk dan meminta maaf sambil memanggil namanya? Tiba-tiba air mata Cyara jatuh, benarkah kali ini De benar-benar peduli padanya? Bukankah tadi siang pria itu hanya bisa marah-marah, mengatakan semua waktu yang ia luangkan hanya sia-sia.


Suara tarikan nafas Cyara yang memburu dapat De dengar. Hingga perlahan pria itu sadar bahwa Cyara sebenarnya sudah bangun.


"Kamu masih belum ingin bicara denganku?" tanya De, tinggi tubuhnya yang cukup jauh dari Cyara, membuat ia meletakkan dagu di atas kepala gadis cantik itu.


Cyara terdiam, dia hanya bisa menikmati pelukan De yang terasa begitu nyaman.


"Kamu marah padaku?"


Lagi, gadis cantik itu hanya bisa menggigit bibir, sebab merasa lidahnya begitu kelu.


"Aku minta maaf, tadi siang aku begitu keterlaluan, tapi ketahuilah aku hanya takut kamu tertangkap oleh Pamanmu. Kalau sampai itu terjadi, aku tidak tahu bagaimana dengan hidupku, karena pastinya aku tidak akan pernah bisa tenang ...."


"Aku tidak tahu apa yang membuatmu marah. Tapi dari situ aku sadar, aku tidak bisa menyuruh orang untuk selalu mengerti perasaanku, aku tidak bisa memaksa mereka untuk mengerti bahwa aku sedang cemas. Sekali lagi, maafkan aku, mari bicara ...."


Dan setelah itu, sebuah kecupan melandas begitu saja di puncak kepala Cyara, membuat gadis itu tertegun dengan dada yang berdebar semakin kencang.


***


Eak eak:"v

__ADS_1


__ADS_2