
Pukul dua siang, De dan Cyara berbaring di salah satu kursi santai, ada payung besar yang menghalau tubuh telanjang mereka dari sinar matahari, karena mereka hanya bergelung dalam satu selimut.
Sepertinya benar apa yang dikatakan oleh De, mereka tidak membutuhkan banyak pakaian, sebab lagi-lagi mereka melepaskannya tanpa kenal lelah.
"Bagaimana perasaanmu, Moo, apa kamu bahagia menikah denganku?" tanya De, seraya mengecup puncak kepala Cyara, kini gadis cantik itu tengah menyandarkan kepala di dada bidangnya.
Cyara menengadah, hingga dia bisa melihat wajah tampan suaminya. "Tentu saja aku bahagia, memangnya ada alasan untuk menyesal?"
De terkekeh, dia menarik hidung Cyara karena merasa gemas. "Bisa saja kamu menjawab pertanyaanku. Setelah ini kamu ingin ke mana lagi?"
"Sebenarnya aku ingin belanja. Aku ingin membeli oleh-oleh untuk semua orang yang ada di rumah."
"Katamu ingin menetap di sini selamanya."
Cyara terkekeh kecil.
"Tapi aku rindu Daddy."
"Kan ada aku yang menggantikannya."
"Cih, wajahmu tidak ada mirip-miripnya dengan Daddy, Poo," ujar Cyara seraya memainkan bibir De. Andrew memiliki garis wajah yang lebih halus, juga mata yang sipit, sudah jelas berbeda dengan pria yang ada di sampingnya.
Baru saja De akan menjawab, tetapi suara dering ponsel di atas nakas mengalihkan pandangan keduanya. Tangan De terangkat untuk mengambil benda pipih tersebut, kemudian langsung mengangkat sambungan telepon setelah tahu siapa yang menghubunginya.
"Halo, Mom," sapa De, saat melihat wajah Zoya di layar ponselnya. Dia sedikit menjauhkan letak kamera agar Cyara tidak terlihat, karena pastinya gadis itu akan malu setengah mati.
__ADS_1
"Halo, Sayang. Bagaimana dengan bulan madumu? Apa semuanya lancar?"
"Lancar, Mom."
"Mana Cia? Kenapa tidak terlihat? Kamu sedang sendirian?" tanya Zoya bertubi karena tidak melihat menantunya.
"Ada, dia di sampingku, tapi tidak pakai baju," jawab De tanpa tahu malu, ada seringai yang menghiasi bibir tipisnya, dan tentu saja hal tersebut membuat Cyara mendelik.
Kenapa bisa De tidak sungkan sedikit pun mengatakan itu semua pada ibu mertuanya.
Zoya terkekeh.
"Baiklah, Mommy paham, Cia pasti malu yah."
"Iya begitulah, padahal dari pagi dia habis minta terus-terusan." Di seberang sana, Zoya tergelak kencang, sementara De melirik Cyara, gadis cantik dengan bibir mungil itu langsung mencebik dan mencubit pinggang suaminya, hingga De mengaduh kesakitan. "Aw, sakit, Moo."
Cyara ingin marah, tapi melihat Zoya tengah menatapnya, gadis itu pun tersenyum malu-malu sambil menyembulkan kepala.
"Halo, Mommy."
"Hai, Sayang, bagaimana honeymoon kalian? Apakah begitu menyenangkan?"
"Menyenangkan sih, Mom, tapi lebih banyak di kamar."
Zoya kembali tergelak saat mendengar jawaban polos Cyara, persis seperti seorang remaja yang sedang curhat pada temannya tentang pria yang dia suka.
__ADS_1
"Awal-awal Cia masih kaku, Mom, tapi makin ke sini makin pinter," sambar De, tak hanya Cyara yang membulatkan kedua matanya. Tetapi Zoya juga melakukan hal yang sama.
"Itu biasa, De. Namanya juga masih baru belajar. Nanti kalau sudah sering malah kamu yang dibuat kewalahan," ujar Zoya, dia tak berhenti memegangi mulutnya yang terus mengeluarkan suara tawa. Merasa lucu dengan pasangan pengantin baru itu.
"Aku menantikan itu semua, Mom."
Cyara menautkan kedua alisnya. "Poo!" rengek gadis itu sambil mencubit dada De.
"Apa, Sayang? Aku hanya mengatakan yang sejujurnya. Lagi pula, kita sudah sering melakukannya."
Tapi tidak begitu juga! Ingin sekali Cyara berteriak seperti itu di depan wajah De, tetapi tak kuasa karena ada sang mertua yang senantiasa memperhatikan gerak-geriknya.
"Sabar-sabar saja, De. Namanya Cia kan baru masuk tahap dewasa. Kamu harus banyak-banyak sabar menghadapi mood-nya. Dan untuk Cia, sama-sama belajar ya, Sayang. Pahami suamimu sedetail mungkin, dan lakukan yang terbaik, supaya kamu tidak menyesal," terang Zoya memberi nasihat yang begitu bijak.
Keduanya pun mengangguk patuh. De menarik tubuh Cyara agar tidak menjauh, hingga Zoya bisa melihat keharmonisan anak dan menantunya.
"Ya sudah sana dilanjut. Mommy tutup yah."
Dan panggilan pun terputus, De dan Cyara saling pandang, seolah bertanya dengan sorot mata masing-masing, setelah ini mereka akan melakukan apa.
Tiba-tiba De menyeringai.
"Ularnya sudah kenyang di luar. Saatnya masuk sarang."
***
__ADS_1
Suka banget sama yang masuk-masuk sekarang 🙄