Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Menggerutu


__ADS_3

Cyara masuk ke dalam ruangan Andrew dengan menggandeng lengan De. Dia ingin memperkenalkan pria berjambang lebat itu pada sang ayah. Pria tampan yang menyebalkan dan juga tua, satu lagi ditambah tidak peka!


Tangan Cyara bergerak untuk membuka masker. Ada sebuah garis yang melengkung di antara bibir tipis itu, menandakan Cyara tengah tersenyum meski bola matanya tak bisa bohong.


Kedua netra itu sudah berembun sejak Cyara membuka pintu. Namun, ia menyembunyikan semuanya di depan De. Dia ingin meyakinkan pria itu bahwa dia adalah wanita yang kuat dan tidak cengeng.


"Ayo, Om. Cia mau kenalin Om ke Daddy, Daddy Cia baik lho."


De mengangguk.


Cyara menarik lengan De hingga mereka berdiri tepat di samping pembaringan Andrew. Suara alat pendeteksi jantung berdengung di telinga keduanya, sementara di beberapa bagian tubuh Andrew dililit banyaknya alat penyokong kehidupan.


Pemandangan yang tak berbeda saat Cyara melihat Andrew beberapa hari yang lalu.


Cyara melepaskan tangannya dari lengan De, jari jemari itu berganti mendekati Andrew yang senantiasa menutup mata. Rasanya seperti mimpi, tetapi dia tidak bisa mengelak lagi saat satu jarinya menyentuh wajah Andrew.


"Halo, Daddy, aku sudah janjikan untuk datang ke mari, lihat aku sudah menepati janjiku, bahkan aku membawa seseorang yang sangat baik. Daddy tahu dia seperti malaikat penolongku—" Cyara melirik De yang kini berdiri persis di sampingnya.


Gadis cantik itu tersenyum. "Dia tampan, Daddy." Bisik Cyara dengan terkekeh, seperti sedang memberikan sebuah lelucon.

__ADS_1


De bisa melihat bagaimana Cyara menyayangi ayahnya. Pria itu merasa sangat prihatin sekaligus bersalah karena pernah mengabaikan Cyara yang membutuhkan bantuannya.


"Halo, Tuan Andrew, aku De—aku Om dadakan putrimu," timpal pria berjambang lebat itu ikut bercanda.


"Kenapa nada bicara Om seperti menyinggungku?"


"Siapa yang menyinggung? Bukankah kamu yang mengaku-ngaku sebagai ponakanku?"


Bibir Cyara mencebik. "Cih, itukan dulu. Sekarang sudah tidak lagi."


"Apa karena mentang-mentang kamu sudah bertemu dengan ayahmu?"


"Ish, tidak tahulah," ketus Cyara lalu membuang wajah dan fokus kembali ke arah Andrew. "Benar-benar pria tidak peka, beraninya hanya cium-cium saja!" Gerutu Cyara.


"Apa?! Aku tidak bicara apa-apa."


"Kenapa malah marah-marah?"


Cyara menengadah dengan bibir yang semakin mengerucut sebal, dia mendesaah dan membuat gerakan gemas. "Pria dewasa memang seperti itu yah? Bertindak seenaknya tanpa mau bertanggung jawab. Untung saja ciumannya tidak sampai membuatku hamil."

__ADS_1


De hanya bisa melipat keningnya mendapati tingkah aneh Cyara. Mereka tidak lagi berdebat hingga salah satu perawat datang untuk memberitahu bahwa semua surat tentang pemindahan Andrew ke rumah sakit Puri Medika telah ditanda tangani.


Sebuah mobil ambulance telah disiapkan. Cyara dan De membantu untuk mendorong brankar, hingga Andrew benar-benar masuk ke dalam ambulance. Cyara tidak lagi turun, sebab dia ingin menemani perjalanan ayahnya.


"Aku di sini saja, Om. Aku ingin menemani Daddy."


"Baiklah kalau begitu hati-hati, aku akan berada di belakang mobil ini," ucap De dan Cyara langsung mengangguk sebagai jawaban.


Suara sirine berbunyi nyaring mengiringi roda mobil yang berputar menuju jalan besar. De akhirnya bisa tersenyum lega, saat melihat Cyara bahagia karena bertemu kembali dengan ayahnya.


Tak ingin membuang waktu De langsung memutar badan untuk kembali ke mobilnya.


Namun, langkah itu terasa urung begitu melihat beberapa pengawal Austin menyadari pemindahan Andrew yang secara mendadak. Dua di antaranya hendak menyusul mobil ambulance, tetapi segera ditahan oleh pengawal yang De pinjam dari Aneeq.


Mereka semua dipukul mundur.


Melihat itu De menyeringai tipis. "Jadi seperti ini rasanya menjadi seorang pahlawan, cukup membanggakan."


Lantas De segera berlalu dari sana, karena merasa ada anak buahnya yang mengatasi ini semua. Lebih baik sekarang dia menyusul Cyara.

__ADS_1


***



__ADS_2