
Setelah acara akad nikah selesai, pesta pernikahan mereka dilanjut dengan meriah. Para tamu undangan yang merupakan kolega bisnis Andrew dan juga Ken, berangsur memberikan selamat pada pasangan pengantin baru itu.
Mereka semua menikmati pesta dengan mengobrol atau menikmati hidangan yang ada. Seperti yang bisa kita lihat, para reader uler-uleran mengantri panjang untuk mengambil makanan.
Mereka semua saling terbahak membicarakan kira-kira berapa rendang yang harus dibawa pulang.
"Kamu bawa apa? Jangan bilang kresek hitam," tanya ibu-ibu yang memakai baju hijau, mirip ratu pantai selatan.
Yang ditanya langsung terkekeh sambil mengangguk. "Biar bisa bawa banyak, Jeng. Persediaan buat sebulan."
"Kalo saya bawa rantang, biar bisa bungkus yang macem-macem."
"Oh iya, kenapa saya nggak kepikiran yah?" timpal seseorang yang ada di belakang tubuhnya. Dia sudah seperti kue mochie, karena memakai seragam serba pink ditambah taburan make up tebal.
"Kenapa, Jeng? Nggak bawa tempat ya? Ini saya bawa plastik banyak."
"Eh kebetulan, saya minta, Jeng."
"Enak aja minta. Beli, Jeng, saya jualan soalnya."
Mendengar itu, sontak semua orang tergelak kencang. Sampai-sampai sepasang pengantin yang sedang bermesraan di atas pelaminan, langsung mengalihkan pandangan pada sekumpulan wanita yang rebutan rendang.
Dan mereka semakin terperangah, saat satu wanita bertubuh semampai berlenggak-lenggok mengibaskan rambutnya.
Mereka semua ternganga, seperti terhipnotis mereka langsung menggeser tubuh masing-masing untuk membuka jalan. Mereka semakin terpesona, saat wanita yang mengaku sebagai emak uler-uleran itu menunjukkan senyumnya.
"Eh buset, cantik amat yah."
"Iya, Jeng. Tapi sayang tuh kaki banyak bawang gorengnya."
__ADS_1
Suara tawa seketika pecah begitu saja. Suatu keramaian yang tercipta bila emak-emak berdaster sudah berkumpul di sebuah pesta.
Lain halnya dengan para anggota keluarga si mempelai pria.
Aneeq, Bee dan Choco terlihat ribut tentang hadiah yang akan diberikan pada saudara kembar mereka yang baru saja menikah.
"Kamu bawa apa, Bee?" tanya Choco dengan menggerakkan alisnya naik turun.
Bee terlihat menyeringai, dia mengangkat sebuah botol kecil di tangannya. "Supaya dia on sampai pagi." Dia terkekeh, dan kekehan itu menular pada kedua saudara kembarnya yang memiliki otak tak berbeda jauh dengannya.
"Kau benar-benar gila! Bagaimana kamu akan memberikannya? Kalau disengaja pasti dia tidak akan minum. Dia pasti sudah tahu obat apa itu," timpal Aneeq.
"Tenang saja, nanti diakhir pesta aku akan mencampurkan obat ini di minumannya. Seperti waktu kamu menikah."
Bugh!
Bee langsung menerima pukulan dari Aneeq, mengingat itu semua rasanya dia kesal sekali. Malam pertamanya jadi gagal, gara-gara ketiga saudara kembarnya yang kurang ajar.
Mereka semua kompak terbahak, walaupun pada akhirnya mereka mendapat hukuman tetapi tetap saja mereka merasa puas.
"Kalau aku bawa tisu ajaib. Kamu pasti sudah tahu kan An fungsinya untuk apa?" ujar Choco dengan tersenyum licik.
"Cih, kalian benar-benar yah. Ingin membuat gadis kecil itu kewalahan menghadapi De."
"Biar saja, biar si tembok beton itu merasakan nikmatnya bercinta. Kali ini aku benar-benar akan mengalah padanya," timpal Bee, dia beranjak dari tempat duduk. Mengajak dua saudara kembarnya untuk naik ke atas pelaminan.
Perasaan De mulai tak tenang saat melihat ketiga pria yang menurutnya berbahaya mulai melangkah ke arahnya. Dia sontak menggenggam tangan Cyara, membuat gadis cantik itu mengangkat kepala.
"Kenapa, Poo?"
__ADS_1
"Kamu tidak lihat, 3 ular di bawah sana seperti akan menyerang?"
Cyara menatap ke mana arah mata suaminya. Hingga dia bisa melihat Aneeq, Bee dan Choco yang berjalan sambil tertawa, entah membicarakan apa.
"Memangnya mereka mau apa?"
"Pokoknya apapun yang mereka lakukan, jangan dihiraukan, oke?"
Cyara mengangguk patuh.
Ketiga pria tampan itu sudah berhasil naik ke atas pelaminan. Aneeq yang lebih dulu memberi ucapan selamat dengan membawa satu hadiah untuk De dan Cyara.
"Congratulation My Brother. Semoga pernikahan kalian langgeng."
"Apa ini, An?"
"Kado untuk kalian."
De menatap paper bag itu dengan curiga, sebab dia melihat ketiga saudaranya saling melempar senyum kecil yang tak dapat dia artikan.
"Terima kasih ya Kakak ipar, karena sudah perhatian pada kami," ucap Cyara dengan tersenyum, sebab gadis yang kelewat polos itu belum tahu bagaimana usilnya kembaran suaminya.
"Itu hanya dari An dan Choco punyaku menyusul ya, De," timpal Bee, mulai rusuh karena melepaskan genggaman tangan De dan Cyara.
"Hei, kalian mau apa sebenarnya?"
De sudah mulai ketar-ketir, hingga dia tiba-tiba didorong sementara istrinya dipeluk oleh ketiga saudara kembarnya untuk berfoto bersama.
"Ck! Dasar saudara gila."
__ADS_1
***
Siapa tadi yang ngatain kaki gue banyak bawang gorengnya 🙄🙄🙄 Belum pernah disleding keknya.