Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Pelajaran Kecil


__ADS_3

"Aku akan melakukannya, jadi jangan marah-marah."


Cyara benar-benar mengira bahwa De menginginkan dia mencium pria itu agar tidak kesal dan marah. Seperti perkataan Aileen dan Havana.


Gadis cantik dengan bibir tipis itu mengulum senyum. Dia tidak tahu nasib apa yang akan menimpa ia selanjutnya. Sebab pemilik tatapan tajam dengan bibir mengatup itu malah balik menyerang dirinya.


De meraih tengkuk Cyara dan melabuhkan ciumannya di bibir gadis itu. Dia sudah mati-matian menahan hasrat, tetapi Cyara dengan begitu mudah memancingnya.


Mata sipit Cyara membulat sempurna. Sementara dadanya meletup-letup, dia merasakan bagaimana De melumaat bibirnya dengan lembut, dan hal itu sukses membuat tubuhnya bergetar.


Dia tak dapat membalas, sedari tadi gadis itu hanya mematung sambil menatap mata De yang terpejam. Namun, detik selanjutnya kedua netra dengan bola mata biru itu terbuka, binarnya seperti lampu yang hampir meredup.


Mereka terus bertukar saliva hingga nafas Cyara tersengal-sengal. Dan saat itu juga De sadar, bahwa gadis ini telah kehabisan oksigen dalam paru-parunya. Hingga secepat itu ia menarik diri dan memalingkan wajah.


Bunyi decak perpisahan itu terdengar nyaring. Cyara langsung meraup udara sebanyak-banyaknya. Pipi gadis itu merona dan terasa panas, beberapa kali ia juga menelan ludah, merasakan sisa ciuman mereka.


Tidak ada suara lain selain detak jam dinding, dan juga dua organ yang sama berdebarnya. De benar-benar sudah merasa gila, karena dia malah hanyut dalam kubangan hasratnya yang membara.


De melirik Cyara yang senantiasa menunduk. Lalu ia menghela nafas berat sambil melangkah maju untuk meraih dagu gadis itu.


Namun, Cyara malah melengos. Ia menghindari tatapan mata De sebab ia merasa sangat malu.


"Tatap mataku!"


"Tidak mau."

__ADS_1


"Aku bilang tatap mataku!"


"Tidak mau, Om. Aku malu," jawab Cyara jujur.


De sudah tidak memiliki banyak waktu. Dia semakin menarik dagu Cyara dan sedikit mencengkramnya hingga tatapan mereka beradu. Cyara bisa melihat, di mata De tak pernah ada kata bercanda. Pria matang ini terlalu kaku.


"Siapa yang mengajarimu untuk bersikap seperti itu?" tanya De dengan suara dingin.


Cyara meneguk ludahnya. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa itu semua ajaran dari Aileen dan Havana.


"Aku—"


"Jawab dengan benar!"


"Kalau mau aku jawab dengan benar, Om jangan marah-marah. Kalau Om seperti itu, aku jadi sulit untuk bicara," keluh Cyara, apalagi sekarang mereka saling tatap. Makin sulit saja dia mengatakan apa yang ada di kepalanya.


Suara De sudah melemah, karena dia selalu berusaha untuk mengalah.


Cyara menggigit bibir bawahnya, hingga terlihat memerah. Membuat De sedikit menurunkan pandangannya. Andai dia sudah gila, mungkin saat ini dia akan kembali menyerang Cyara.


"Aku berinisiatif sendiri, supaya Om tidak marah-marah."


"Kamu tahu apa bahayanya dengan tindakanmu itu?"


Cyara menggelengkan kepala, sebab otaknya terasa kosong dan tak dapat diajak untuk berpikir.

__ADS_1


"Bagaimana kalau aku orang lain?"


"Orang lain bagaimana? Om kan orang yang aku kenal, aku tidak mungkin melakukannya pada orang lain."


"Benarkah?"


Tanpa banyak bicara Cyara langsung menganggukkan kepala.


"Kalau begitu lakukan hanya padaku. Ingat, hanya padaku!"


Gadis cantik itu bergeming, dia melirik ke sana kemari membuat De merasa gemas, sebab Cyara tak menjawab ucapannya.


"Mengerti tidak?"


"Mengerti," lirihnya.


"Apa?!"


"Aku hanya akan melakukannya pada Om."


Mendengar itu, De menarik salah satu sudut bibirnya. Lalu melepaskan cengkraman di dagu Cyara. Setelah itu ia berbalik untuk kembali ke rumah sakit. Namun, sebelum sampai puncak pintu, De sedikit menoleh ke belakang.


"Aku akan kembali ke rumah sakit. Kalau ada yang kamu butuhkan, kamu tinggal hubungi aku. Dan ingat, tadi adalah pelajaran kecil untukmu."


***

__ADS_1


Mintak sajennnnn😝😝😝


__ADS_2