Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Permintaan Maaf


__ADS_3

Dunia sudah tampak terang, Cyara terbangun begitu suara bel berbunyi, gadis cantik dengan mata sipit itu mengerjap dan menguap untuk mengusir kantuk.


"Siapa yang datang? Tidak biasanya Om memencet bel," gumam Cyara dengan melongokkan kepala. Dia melihat jam dinding yang berada di kamarnya, tepat pukul 7 pagi.


Cyara segera menyibak selimut karena suara bel tidak berhenti juga. Tanpa merasa curiga, Cyara membuka pintu dan yang temui bukanlah De, tubuh Cyara langsung kaku sementara dua bola matanya membulat dan menatap lurus.


"Kamu—"


Cyara melangkah mundur, mendadak seluruh tubuhnya sulit untuk digerakan. Sisa amarah kemarin memang masih ada, tetapi mengingat pesan De, dia menjadi urung untuk mengusir Clarissa yang tiba-tiba berada di hadapannya.


"Ci, aku butuh bicara sama kamu. Please, Ci, dengerin aku," ujar Clarissa sambil mendekat ke arah Cyara, dia memohon dengan bola matanya yang sudah berkaca-kaca. Menandakan bahwa dia benar-benar tidak membohongi Cyara.


"Dari mana kamu tahu tempat ini?" Bukannya menimpali ucapan kakak tirinya, Cyara malah melontarkan pertanyaan yang ada di otaknya. Padahal tidak ada yang tahu, sekalipun itu Jessie.


"Maaf aku lancang, saat kamu pulang aku mengikutimu, Ci. Aku tahu kamu marah padaku, makanya aku hanya bisa melihatmu dari jauh, sekarang aku memberanikan diri untuk datang, aku ingin meminta maaf padamu. Ayo kita bicara, percayalah padaku, aku tidak akan mengkhianati kamu sekalipun Bunda yang menyuruhnya," jelas Clarissa, saat itu dia memang mengikuti ke mana Cyara pergi, hingga ia bisa melihat saudara tirinya itu ditarik oleh seorang pria.


Dia ingin masuk tetapi tim keamanan tidak mengizinkannya.

__ADS_1


Cyara mencoba untuk berpikir. Ada banyak mulut manis bagi mereka para pembohong dan dia tidak mau menjadi korbannya. Dia harus pintar mencari celah, agar posisinya aman.


"Apa yang bisa aku pegang dari ucapanmu?"


"Kita bicarakan di dalam, setelah itu aku tidak akan memaksamu untuk percaya atau tidak padaku."


"Tidak!" Tolak Cyara dengan tegas, dia tidak ingin mengambil resiko jika Clarissa sampai berbuat macam-macam. "Bicarakan di sini, dan setelah itu kamu boleh pergi. Bagaimana pun aku masih belum bisa percaya begitu saja."


Cyara membuang wajah dan senantiasa berdiri dengan berpegangan pada pintu. Dia tidak sanggup, sungguh dia tidak akan pernah sanggup jika mendengar keluarganya yang menjadi tokoh antagonis dalam hidupnya.


"Baik. Aku akan berusaha membantumu dan Daddy, kemarin aku diam-diam membuntuti Bunda, setelah kamu memberitahu aku bahwa Bunda berselingkuh dengan Paman Austin. Awalnya aku memang sudah curiga, Bunda sering keluar malam, menerima telepon tiba-tiba. Dan terakhir, aku melihat Bunda mengumpulkan semua berkas-berkas penting milik Daddy—percayalah padaku, Ci. Aku akan membantumu, aku akan berusaha mengambilnya kembali dari tangan Bunda dan menyerahkannya padamu ... aku mohon jangan curiga padaku, aku akan melaporkan apapun apa yang aku lihat, anggap saja aku sebagai mata-matamu," jelas Clarissa dengan bibir yang senantiasa bergetar menahan tangis.


Perlahan Clarissa mendekat, dia meraih anggota tubuh Cyara dan menariknya. Clarissa memeluk tubuh Cyara hingga gadis tangis gadis itu semakin pecah.


"Jangan menangis, Ci. Ada aku di sini, aku akan melakukan apapun yang kamu minta dan memegang semua rahasiamu."


"Lalu bagaimana dengan Bunda, Cla?"

__ADS_1


"Aku tidak tahu apa yang menyebabkan Bunda bisa bersekongkol dengan Paman Austin, tapi yang jelas, aku akan memihak kamu. Karena aku sadar, apa yang Bunda lakukan adalah salah besar."


Cyara membalas pelukan Clarissa hingga mereka menangis bersama. Cyara benar-benar menemukan sosok seorang kakak pada diri Clarissa, meskipun mereka seumuran tetapi Clarissa memang bisa berpikir lebih dewasa.


"Aku ingin memindahkan Daddy dari rumah sakit itu, Cla," ucap Cyara sesenggukan.


Clarissa mengangguk cepat. "Baik, nanti kita atur yah. Aku akan mengalihkan perhatian Bunda saat kalian memindahkan Daddy."


Cyara tak dapat bicara lagi, hanya ada air mata dan isak tangis yang keluar dari mulutnya. Semoga apa yang mereka rencanakan benar-benar berhasil, dia bisa menyelamatkan Andrew dari kejahatan Riana dan Austin.


***


Wahai reader uler-uleran, gue abis review nih, katanya Si De ketuaan, apa Cia nya yah yang kemudaan? Wkwkwk ... ada aja ya keluhan gue.


Dan karena itu semua, ada salah satu dari mereka berhenti baca, gue nggak larang🙏 Tapi, ya gimana ya, visualkan cuma soal halunya ngothor aja, mau kalian haluin si De itu Bretpit pun nggak masalah.


Dan lagi, umur sama muka orang bule kan ga sesuai, kelihatannya aja tua tapi umur masih muda, apalagi brewokan 🙄 ngeri-ngeri sedep bayangin ulernya *ehhh

__ADS_1


Dahlah ngocehnya...


Salam anu👑


__ADS_2