Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Tak Sabar


__ADS_3

Austin?


De mengeja nama itu, sebab dia pernah mendengarnya dari Cyara. Dia melirik pria dengan tatapan bengis itu dari balik dinding, hati De mulai gelisah. Dia gamang, antara ingin membantu atau membiarkan saja.


Cukup lama dia berpikir dengan benang takdir yang seolah sangat kusut, akhirnya De lebih memilih untuk berlalu dari sana.


***


"Mari, Tuan, saya antar," ucap salah satu perawat pada Austin. Mereka hendak ke ruangan Cyara setelah ditemukan di buku administrasi, satu buah kamar yang ditempati oleh gadis cantik itu.


Austin menyeringai tipis, lalu menganggukan kepala sambil melangkah mengekor pada perawat yang berjalan di depannya. Austin datang ke rumah sakit ini, sebab dia merasa curiga.


Setiap kali Cyara menghilang dari kejaran pengawal yang dia kirim, pasti berada di titik ini. Maka dari itu, Austin ingin memastikan sendiri, bahwa Cyara memang berada di sana. Dia sangat yakin, bahwa gadis itu sebenarnya tidak jauh darinya.


Cyara hanya seorang gadis lemah yang begitu manja. Dia sangat tahu itu, Cyara tidak akan mungkin bisa melawannya.


Sementara di sudut lain, Cyara mulai merasa gelisah. Jantungnya berdetak dengan kencang seperti genderang mau perang. Dia melirik ke sana ke mari, bola matanya berputar dengan gerak penuh kecemasan.


Beberapa kali dia mengatur nafasnya yang terasa tercekat, juga tubuh yang semakin gemetar. Di setiap deru itu, langkah Austin semakin dekat dengan ruangan Cyara, pria itu senantiasa tersenyum lebar.


Karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan mainannya. Mainan yang dapat membuat Andrew hancur berkeping-keping, karena putri kesayangannya tidak lagi memiliki masa depan yang cerah.

__ADS_1


Aku akan menjadikan dia budakku selama-lamanya. Tunggu saja, Andrew.


Sudut bibir pria itu terangkat sinis. Hingga perawat yang berjalan di depannya menghentikan langkah. Dia tersenyum ramah ke arah Austin. "Ini kamar, Nona Cyara, Tuan." Ucapnya sambil menunjuk pintu dengan tangan kanan.


Austin mengangguk cepat, dengan bola mata yang berbinar, seolah mengatakan bahwa dia sangat senang, karena pada akhirnya anggota keluarga yang ia cari dapat ditemukan.


"Semoga saja dia memang orang yang aku cari," ujarnya, sementara di dalam hati dia terus merutuk penuh kebencian. Dia sudah menyusun rencana untuk membawa Cyara kembali bersamanya.


Perawat itu mengulurkan tangan untuk membuka pintu. Rasa tak sabar mulai menggerogoti Austin, ingin sekali rasanya dia langsung mendobrak benda persegi panjang itu. Hingga dia dapat melihat wajah Cyara yang begitu ketakutan.


Raut yang membuat dia sangat terhibur. Karena dia akan merasa puas, di saat Andrew dan keluarganya tunduk dalam kuasanya. Jangan berpikir bahwa dia tidak bisa apa-apa. Bahkan jika dia tak memikirkan balas dendam, ia bisa membunuh Andrew saat itu juga.


Namun, sayang dia malah lebih suka bermain-main dengan menyiksa Kakaknya tersebut.


Pintu ruangan itu sukses terbuka. Membuat orang yang ada di dalam sana sedikit terkejut sebab tidak ada aba-aba pintu terbuka begitu saja. Austin dengan tatapan serigala bengis itu langsung menyeringai penuh, dia mengangkat wajah dan menatap gadis manis di depannya.


Deg!


Tak hanya gadis itu yang terkejut, tetapi juga dengan Austin. Sebab gadis itu bukanlah Cyara. Austin langsung melotot tajam dengan rahang yang mengatup kuat, membuat gadis yang berada di atas brankar beringsut ketakutan.


"Sus, siapa dia?" tanyanya, karena dia sama sekali tak mengenali Austin.

__ADS_1


"Bukankah ini Paman anda, Nona?" jawab sang perawat dengan raut kebingungan.


Gadis itu menggeleng cepat, dan menghindari tatapan tajam Austin. "Bukan, dia bukan Pamanku."


Austin mengepalkan tangannya kuat, lalu membuang wajah. Dia merasa dipermainkan, kenapa bukan Cyara?


"Tuan?"


"Dia bukan orang yang aku cari, sepertinya dia Cyara yang lain," ketus Austin, lalu tanpa bicara lagi dia langsung berlalu dari sana. Membuat perawat dan gadis itu menatap dengan penuh tanda tanya.


Sementara di ruangan De, Cyara terus menggigit jarinya. Setelah mendengar Austin berada di rumah sakit ini dia benar-benar sangat takut. Itu artinya, Austin sudah mencurigai tempat ini, dan kemungkinan Austin akan terus mengintainya.


"Kudek, kamu tidak perlu mengumpat di kolong meja, lagi pula dia tidak akan mungkin ke mari," ucap De, yang sedari tadi berdiri sambil memperhatikan Cyara.


"Tapi Cia takut, Om," jawab Cyara dengan raut yang tak tergambar jelas.


"Ada aku! Dia tidak akan macam-macam. Ayo keluar!"


Cyara menggeleng cepat. "Tidak mau."


"Terus kamu mau di situ semalaman?"

__ADS_1


Cyara tampak berpikir, gadis itu mengerucutkan bibirnya lalu menengadah untuk menatap wajah tampan De. "Ikut Om pulang."


Mendengar itu, kelopak mata De langsung melebar. "Ikut pulang?"


__ADS_2