
Cyara terus memperhatikan kedua orang yang sedang berjalan itu. Mereka benar-benar terlihat sangat intim, hingga orang-orang yang tidak tahu, pasti menyangka keduanya adalah sepasang suami istri.
Riana dan Austin berjalan ke arah ruangan Andrew, membuat Cyara langsung bersembunyi di pilar rumah sakit. Sementara matanya sesekali mengintip.
"Itu benar-benar Bunda Anna dan Paman."
Merasa ada yang memperhatikan Austin menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. Dan secepat itu pula Cyara kembali menyembunyikan dirinya.
Jantung gadis itu senantiasa berdebar kencang dengan peluh yang mengucur deras, sebab ia merasa was-was.
"Ada apa, Aus?" tanya Riana sambil melongok ke sana ke mari, mengikuti pandangan mata Austin.
"Aku merasa sedang diawasi."
"Itu hanya perasaanmu saja. Clarissa sedang berkuliah, jadi dia tidak mungkin ada di sini."
Mendengar itu, tangan Cyara semakin terkepal kuat, dia menggigit bibirnya dengan bola mata yang menatap nanar. Merasa tak percaya mengetahui fakta di belakangnya.
"Aku tidak bisa diam saja," ucap Cyara setelah ia mengambil bukti bahwa Riana dan Austin melakukan pengkhianatan di belakang Andrew.
Semalaman Cyara terus memikirkan apa yang baru saja dia lihat. Dia tidak menyangka kalau Riana ternyata bersekongkol dengan Austin. Sebenarnya Cyara ingin mengabaikan itu semua, tetapi sungguh bukti itu nyata.
Meski ia tidak tahu apa yang akan mereka lakukan, tetapi ia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa Austin merangkul pinggang Riana, dan mereka tampak begitu mesra.
__ADS_1
"Apa Bunda Anna juga bersekongkol untuk mencelakai Daddy?" tanya Cyara pada dirinya sendiri. Rasanya sungguh sulit dipercaya, orang yang selama ini ia anggap baik, malah bekerja sama untuk menghancurkan keluarganya.
Dan semua itu, membuat Cyara benar-benar ingin membawa Andrew pergi dari sana, membawa pria paruh baya itu bersamanya.
Gadis cantik itu tidak bisa lagi merasa tenang. Esok dia memutuskan untuk bertemu dengan Clarissa dan membicarakan semuanya.
Pagi datang.
Cyara langsung menghubungi Jessie dan meminta Clarissa untuk menemuinya. Dia memilih tempat yang sering mereka datangi, di sana Cyara ingin meminta penjelasan dari saudara tirinya itu, jangan sampai Clarissa pun ikut terlibat. Kalau iya, ia benar-benar tidak bisa diam saja.
Sesuai kesepakatan mereka, Clarissa datang hanya sendiri. Sumpah demi apapun, Clarissa tidak menyangka ternyata Jessie tidak berbohong, Cyara benar-benar menemuinya dan gadis itu tampak baik-baik saja.
Bola mata Clarissa menatap dengan berkaca-kaca. Dia menelisik tubuh Cyara dari atas sampai bawah, benarkah ini adalah saudara tirinya yang hilang?
"Ci," panggil Clarissa, dia melangkah cepat untuk menghambur memeluk Cyara. Namun, Cyara malah mendorong Clarissa dengan keras hingga gadis itu terhuyung dengan bola mata melebar, tak percaya dengan reaksi Cyara.
Kening Clarissa langsung berkerut, ia tidak mengerti kenapa Cyara bersikap seperti itu padanya.
"Apa maksudmu, Ci? Bukankah kamu ingin bertemu denganku?"
Cyara mengangkat wajahnya, menegakkan dagu seolah tidak ada kata takut dalam kamus hidupnya. "Aku memang ingin bertemu denganmu, aku ingin lihat wajah pengkhianat yang tega menghancurkan keluargaku."
Clarissa yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa menatap Cyara dengan tergugu. Kenapa sikap Cyara malah kasar seperti ini? Apa yang sudah terjadi?
__ADS_1
"Aku benar-benar tidak mengerti maksud kamu, Cia," tegas Clarissa, dan Cyara malah semakin meradang.
"Jangan pura-pura bodoh, aku tahu kamu dan ibumu hanya memakai kedok, kebaikan kalian palsu!"
Mata Clarissa semakin membulat sempurna.
"Cia kamu ini bicara apa?!" sentak gadis itu, sebab ia benar-benar tidak tahu maksud Cyara. Dia jadi ikut marah karena saudara tirinya itu malah membawa-bawa nama sang ibu.
Cyara yang sudah tak tahan akhirnya mengambil ponsel dan memberikan bukti yang telah ia ambil. Dia memperlihatkan foto Riana dengan Austin di ruangan Andrew. Dia mati-matian menahan air matanya, karena dia tidak ingin terlihat lemah.
Sementara Clarissa menatap tak percaya, bahwa sang ibu ternyata memiliki hubungan dengan pamannya. Apa yang ia curigai selama ini ternyata benar-benar terjadi.
Pantas saja Cyara terlihat sangat marah.
Sejurus dengan itu Clarissa langsung menangis kencang dan menggelengkan kepalanya. "Ci, sumpah. Aku tidak tahu apa-apa, aku benar-benar tidak tahu kalau Bunda mengkhianati Daddy. Andai aku tahu lebih dulu, aku juga pasti akan marah." Jelas Clarissa.
Namun, Cyara tak ingin percaya begitu saja. Kali ini ia harus banyak-banyak waspada.
"Jangan bohong, Cla!"
"Sumpah, Cia. Bunda memang beberapa kali dihubungi Paman tapi aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Aku juga sangat marah melihat fakta ini, karena aku benar-benar menyayangi kamu dan Daddy," jelas Clarissa menggebu, dari awal sudah curiga, tetapi ia tidak mendapatkan bukti apapun tentang pengkhianatan mereka.
Melihat Clarissa yang tergugu dan tersungkur di kakinya, Cyara sama sekali tak tersentuh, amarah di dadanya benar-benar sudah bergemuruh. Cyara hanya menghindari Clarissa dan menatap dengan sorot mata yang masih sama.
__ADS_1
"Aku tidak percaya padamu!"
Lalu setelah itu ia pergi begitu saja, membawa api kebencian yang membara.