
"Kok bisa sampai 15 Minggu tidak ketahuan yah?" tanya De pada Cyara. Kini mereka sudah berada di dalam mobil, hendak pulang ke mansion setelah menebus vitamin untuk ibu hamil itu.
"Ya mana aku tahu, Poo, kan kamu yang buat aku hamil," balas Cyara ketus, sedikit merasa kesal karena De terus bertanya, kok bisa? Kok bisa? Ya bisalah, orang ada lawannya!
De menghela nafas kasar. "Iya tapi kan kamu tahu, Moo, aku suka keluar di luar."
Mendengar itu, entah kenapa Cyara malah semakin tidak suka. Dia memutar bola matanya jengah.
"Ya siapa tahu kamu telat keluarinnya, jadi ada yang ketinggalan! Mana hampir tiap hari, yaiyalah pasti salah satu dari mereka nyangkut!" cerocos ibu hamil itu.
De yang belum menyalakan mesin mobil, lantas mengahadap ke arah Cyara. Tangannya terangkat untuk sekedar mengelus perut Cyara yang mulai membuncit. Pantas saja tubuh wanita itu semakin berisi dan doyan makan, ternyata sudah ada calon bayi ularnya di dalam sana.
"Iya-iya, kok jadi marah-marah sih, Moo?"
"Aku nggak marah, aku cuma kesel, kamu kayak curiga gitu sama aku!"
Cyara merasa bahwa sebenarnya De tidak menginginkan anak mereka. Sebab dari awal pernikahan, pria itu seperti menolak untuk punya anak. Padahal tidak demikian.
__ADS_1
"Aku tidak curiga, aku hanya heran saja."
"Ish, sama aja, lagi pula kamu 'kan dokter, harusnya kamu sudah bisa memprediksinya!"
Bukannya membuat sang istri tenang, De malah semakin dihadapkan oleh ocehan mulut Cyara yang tiada habis. Akhirnya De mengalah, ia menghela nafas kemudian menarik tubuh Cyara untuk masuk ke dalam dekapannya.
"Maafin aku yah. Aku tidak bermaksud seperti itu, Sayang. Aku seneng kok, akhirnya ada Baby Mochie di sini." Mengelus lembut perut Cyara, membuat ibu hamil itu merasa haru.
"Aku nggak pernah minta hamil sekarang, tapi Tuhan udah kasih gini, aku bisa apa?" ujar Cyara dengan suara bergetar, menahan tangis, padahal sedari tadi matanya sudah mengembun.
"Aku kan juga tidak menyalahkanmu, Moo, aku bilang aku senang. Lagi pula memangnya ada kalimat bahwa aku tidak menginginkannya?"
Sukses, air mata Cyara berjatuhan. Dia takut kalau De tiba-tiba mencampakkannya. Bayangan menyeramkan tentang hamil besar, dan ditinggal seorang diri, nampak di pelupuk mata, membuat Cyara semakin ketakutan.
"Astaga! Apa yang kamu bicarakan? Ini anak aku, ya jelas aku akan terima lah, Moo. Kita juga buatnya berdua, enak sama-sama, jadi tidak mungkin tiba-tiba aku menolak dia!" tegas De dengan menggebu. Sementara Cyara sudah sesenggukan di dalam pelukannya.
Wanita itu tak menjawab, karena hanya ada rasa kesal jika dia bicara. Kali ini De benar-benar paham, bahwa mengahadapi mood ibu hamil itu sungguh sangat merepotkan.
__ADS_1
Dia menghela, mencoba menurunkan intonasi suaranya, pasti Cyara mengira bahwa sedari tadi dia sedang marah-marah.
De mengangkat dagu Cyara yang tidak begitu runcing, karena pipi wanita itu sudah semakin chubby. Dia menghapus linangan air mata yang membasahi pipi mulus istrinya, kemudian saling tatap satu sama lain. "Maafin aku yah. Aku salah udah buat kamu nangis. Tapi percaya sama aku, aku tidak pernah sekalipun menolak kehadiran Baby Mochie. Jadi, jangan sedih lagi, kamu harus selalu ceria, karena di dalam sini, dia akan merasakan apa yang kamu rasakan. Sayang Moo banyak-banyak."
Cup!
De mengecup kening Cyara dengan begitu dalam, membuat wanita itu merasa sedikit tenang.
"Kita pulang yah," ajak De dengan suara lembut. Dan Cyara langsung mengangguk.
"Tapi beli makan dulu," lirih wanita itu, membuat De tersenyum.
"Mau beli apa?"
"Mau beli mekdi, mau burger paket big mac, mau es krim, sama ayam goreng paha lagi," kata Cyara tanpa segan. De menelan ludahnya, sebab Cyara juga baru saja menghabiskan ayam goreng paha satu porsi.
Akan tetapi jika tidak dituruti, pasti ibu hamil itu akan marah-marah lagi.
__ADS_1
"Poo!"
"Iya, siap, Moo. Kita jalan sekarang."