
De mendorong tubuh Cyara hingga merapat ke dinding dan langsung menyerang bibir ranum itu dengan penuh damba. Kewarasannya terkikis hingga dengan kuat dia menyesap bibir Cyara atas bawah secara bergantian.
Jangan salahkan dia, karena sedari tadi dia sudah menahannya. Namun, gagal gara-gara Cyara yang terus memancing dengan melakukan hal-hal yang sulit sekali untuk dipercaya.
Gadis kecil ini sangat agresif membuat De tak tahan. Dia terus menahan tengkuk Cyara dengan satu tangan, sementara bibirnya masih menjelajah. Dengan keahliannya yang sudah semakin meningkat De membelit indera pengecap rasa itu, membuat Cyara kewalahan dan terus menutup mata.
Seolah tak puas, De semakin merapatkan tubuh mereka hingga berhimpitan. Buah dada Cyara yang masih terlihat mungil itu hanya sebagian terasa.
"Kamu yang memulainya, jadi jangan salahkan aku jika kita membuang waktu lebih banyak," ucap De, dia memegang kepala Cyara dengan kedua tangannya agar gadis itu senantiasa menengadah, postur tubuh Cyara yang jauh di bawahnya membuat ia terus menunduk tanpa memberhentikan ciuman mereka.
"Om!" teriak Cyara dengan nafas tersengal, tetapi sang pria tidak peduli, dia malah mengalungkan kedua tangan Cyara di lehernya. Lalu sedikit mengangkat tubuh gadis itu untuk digendongnya.
Kaki Cyara sudah menggantung, dia semakin memeluk leher De erat karena takut terjatuh. Cyara melepas ciuman itu dengan paksa, karena merasa kehabisan nafas. Bunyi decapan itu terdengar sangat nyaring, De tidak membuang waktu dia berjalan ke arah sofa dan duduk di sana, dengan Cyara yang berada di pangkuannya.
De menatap Cyara dengan begitu intens, membuat gadis cantik itu jadi tersipu malu. Wajah Cyara memerah dan langsung memukul dada De dengan keras. "Om ingin membunuhku yah? Bisa-bisanya tidak ambil nafas sampai selama itu!" Gerutu Cyara.
Namun, De tidak merasa bersalah sama sekali. Dia terus menatap Cyara dengan tatapannya yang entahlah, gadis itu pun tidak bisa mengartikannya.
"Kenapa? Bukankah kamu yang memulai? Aku hanya mengikuti apa yang menjadi kemauanmu, Kucing Nakal!" cibir De sambil menyentil dahi Cyara, Cyara mengangkat wajah dan langsung mengusap dahinya yang terasa sakit.
"Memangnya kenapa, Om tidak senang? Kalau Om tidak senang, harusnya Om menolakku. Bukankah Om memiliki dua pilihan, menolak atau menerima!"
"Menurutmu aku harus pilih yang mana?"
__ADS_1
"Kenapa jadi tanya Cia, aku mana tahu!"
"Harusnya kamu tahu, bukankah kamu adalah orang yang peka?"
Cyara terdiam mencoba mencerna ucapan De, jujur saja kini dia masih merasakan bagaimana sapuan lembut dari bibir pria itu di atas bibirnya. "Aku mana tahu perasaan Om kalau Om tidak bicara."
"Begitu pun juga aku, aku mana tahu kalau kamu tidak bicara seperti itu."
Gadis cantik dengan mata sipit itu kembali menatap mata De dengan tampang bingung. Dia mengernyit. "Maksudnya?"
De menautkan kedua alisnya, tatapan tajam setajam mata pisau seperti menggores bagian tubuh Cyara. Tepatnya jantung gadis itu, De sedikit menegakkan tubuhnya yang semula bersandar di punggung sofa.
Tangannya kembali merayap di antara geraian rambut Cyara, dengan suaranya yang memberat dia berbisik. "Aku lebih suka menerimanya."
Sejurus dengan itu De menggigit bibir Cyara hingga gadis itu reflek membuka mulut. Dan kesempatan itu digunakan oleh De, untuk melesakkan lidahnya semakin dalam.
Dan sialnya! Hal itu membuat De semakin bertambah beringas. Dia terus mencium bibir Cyara, sementara tangannya sudah berkelana. Cyara yang awalnya sudah terbuai mulai sadar saat tangan De berusaha membuka pengait yang berada di belakang punggungnya.
Cyara mencoba menahan, tetapi kekuatannya tak sebanding, hingga dengan mudah pengait itu terbuka begitu saja. Jari jemari itu semakin ramah, hingga menyentuh titik paling sensitif milik Cyara.
"Euhhh!" Suara desahaan tertahan, terdengar begitu nikmat. De memejamkan matanya, tak berbeda jauh dengan Cyara, hingga dia merasakan geleyar aneh yang memenuhi inti tubuhnya. Dia seperti ingin pipis, karena pucuk kue mochinya terus dimainkan oleh De.
Tsk!
__ADS_1
Lagi-lagi Cyara menarik paksa bibirnya hingga kedua netra De terbuka. Nafas keduanya terdengar memburu, menampar wajah satu sama lain. Tangan De seperti tidak memiliki tenaga, hingga dengan sendirinya jatuh ke bawah.
"Jelaskan!" ucap Cyara menuntut.
"Apa?!"
"Apa?! Om masih bisa bertanya seperti itu, padahal kita baru melakukan sesuatu," kesal Cyara.
De menarik sudut bibirnya. "Kenapa akhir-akhir ini kamu selalu marah-marah?"
"Karena Om menyebalkan!"
"Kamu bilang ingin mengambil sesuatu yang tertinggal, kamu ingin membawanya dalam hidupmu, kamu yakin itu?"
"Aku harus apalagi supaya Om tidak banyak tanya dan langsung bicara pada intinya!"
"Mudah saja, bagaimana kalau kamu saja yang tetap di sini."
Kening Cyara semakin berlipat-lipat. "Maksudnya?"
De menangkup kedua sisi wajah Cyara. Dia menatap dua bola mata polos itu dengan lekat. "Jadilah istriku."
***
__ADS_1
Jadi nggak tuh😌😌😌
Cium tini cium, kopinya oeyyy awas yaaa