Gadis Kecil Om Dokter

Gadis Kecil Om Dokter
Curiga


__ADS_3

Mendengar ucapan De, Cyara sedikit demi sedikit mengangkat kepalanya. Dia yang biasanya terlihat ceria kini benar-benar di ambang batas rasa rapuhnya. Air mata Cyara jatuh, tepat ukiran senyum yang melintas di kedua sudut bibirnya.


"Sudah jangan pikirkan apapun, aku jamin kamu aman di sini," ucap De, lalu menurunkan tangannya. Dia membuang wajah ke arah lain, sebab ia pasti akan semakin jauh terlibat dengan kehidupan Cyara.


"Tapi Om, Cia mau minta tolong," ucap gadis cantik itu, hidung dan matanya sudah kembali memerah. Namun, seolah tidak bosan-bosan, air matanya terus melaju kencang.


De terdiam sejenak. Walaupun dia ingin memastikan Cyara baik-baik saja, tetapi dia tidak ingin gadis ini sampai memanfaatkan dirinya. Sebab ia belum benar-benar mengenal sifat asli Cyara.


"Apa?"


Cyara menarik nafasnya yang terasa sangat sulit. Dia juga berkali-kali mengelap air yang keluar dari hidungnya menggunakan lengan bajunya. De yang melihat itu segera merogoh saku celana, lalu memberikan Cyara sapu tangan.


"Kamu ini seorang wanita, jangan sembarangan kalau apa-apa. Yang ada semua pria ilfil padamu," ucap De, memperingati Cyara untuk kesekian kalinya.


Cyara hanya bisa menatap De dengan tatapan datar. Lalu pelan-pelan Cyara mengelap seluruh wajahnya menggunakan sapu tangan yang De berikan.


"Kamu ingin bicara apa tadi? Waktuku tidak banyak, aku harus makan siang, dan kembali bertugas."


"Cia ingin tahu kabar Daddy. Om bantuin Cia yah."


De tak langsung menjawab.

__ADS_1


"Om, Cia mohon. Bantu Cia, Cia benar-benar ingin tahu kabar Daddy," ujar gadis itu mulai memaksa.


De terdiam seribu bahasa. Lagi-lagi dia merasa tak tega. Hingga akhirnya dia memikirkan cara, bagaimana agar ia mendapatkan kabar mengenai ayah Cyara, tanpa menimbulkan curiga.


"Bagaimana dengan keluargamu?"


"Cia punya Mama dan Kakak tiri, tapi Cia takut kalau Cia hubungi mereka. Mereka pasti akan bertanya Cia di mana. Dan Paman Austin tidak mungkin diam saja," jelas Cyara apa adanya.


"Temanmu? Kamu pasti punya teman 'kan?"


"Dari kecil Cia selalu homeschooling. Cia punya teman hanya satu, itupun tetangga. Namanya Jessie."


"Bagaimana kalau kita minta bantuan temanmu."


"Ya temanmu suruh berkunjung, nanti kalau sudah dapat kabar, bilang padanya kalau dia harus menghubungimu."


"Tapi, Om."


"Kudek, tidak ada cara lain. Kalau aku yang menghubungi pihak rumah sakit di mana ayahmu dirawat, itu tidak akan mungkin bisa. Karena aku bukan keluarganya. Mereka tidak akan memberikan informasi seputar keadaan pasien karena itu sangat sensitif."


"Tapi masalahnya."

__ADS_1


"Apalagi?!" tanya De dengan nada sedikit meninggi, mulai habis kesabaran.


"Cia lupa sama nomor Jessie."


"Astaga, Cia. Otakmu ini isinya apa?" tukas De lalu mendorong dahi Cyara dengan jari telunjuknya. Cyara hendak menyahuti ucapan De, tetapi sebuah gedoran pintu di luar sana terasa mengusik gendang telinga.


"Dokter De!" Pekikan seorang pria dipenuhi kecemasan, membuat De langsung bangkit dari duduknya. Saat itu, Candra ingin memberitahu De, bahwa Cyara telah menghilang begitu saja.


De sendiri yang membuka benda persegi panjang itu. Hingga terlihat wajah Candra yang dipenuhi peluh, sebab ia baru saja berlari dari parkiran menuju ruangan De.


Belum lagi saat di stand makanan dia mencari Cyara yang entah hilang ke mana.


"Dok—" Ucapan Candra terhenti, saat kedua netranya menangkap sosok Cyara yang duduk di sofa, dengan bola mata yang lagi-lagi memerah. Hah? Kenapa gadis ini tiba-tiba sudah ada di rumah sakit, apakah Cyara memiliki jurus seribu bayangan hingga dapat kembali dengan hanya satu kali tarikan nafas saja.


Pandangan mata Candra beralih pada De yang terlihat bergeming. Dia menatap penuh curiga. Sebenarnya ini ada apa? Apa Dokter De memaksa Cyara untuk melakukan sesuatu yang aneh-aneh lagi? Ah, tidak bisa dibiarkan!


Candra langsung melangkah ke arah gadis itu, lalu menyeretnya untuk keluar ruangan. "Maaf, Dok. Saya pikir anda tidak bisa bersikap seenaknya. Cia juga manusia. Dia tidak mungkin bisa melakukannya beberapa kali dalam sehari." Ucap Candra tepat di ambang pintu, sementara tangannya senantiasa menggenggam lengan Cyara.


Cyara yang tak paham hanya bisa melongo. Begitu pun juga De. Dia menatap Candra dengan mata yang membola, apalagi saat Candra menyerahkan satu kantung plastik berisi makan siangnya. Pria itu terlihat seperti sedang marah.


"Permisi, Dok. Saya terpaksa membawa Cia, karena kami akan makan siang bersama. Ayo, Cia!" Nada bicara Candra sedikit ketus, membuat De bertanya-tanya. Apa yang terjadi dengan pria muda itu.

__ADS_1


Sementara Cyara hanya bisa menurut, dia melangkah mengekor pada Candra. Sementara pandangan matanya sesekali menoleh ke belakang di mana De berada.


__ADS_2