
Malam harinya, Cyara mengistirahatkan tubuh di tempat yang sama, yakni di sebuah ruangan yang sudah De siapkan untuk dirinya. Dia memiringkan tubuh ke arah kanan, dengan suasana yang begitu temaram.
Dia belum berhasil mengingat nomor telepon Jessie. Itu artinya sampai sekarang, dia belum bisa bertanya mengenai keadaan sang ayah.
"Semoga Daddy, Bunda Anna dan Clarissa baik-baik saja," gumam gadis cantik itu sebelum memejamkan mata. Cyara menghela nafas, lalu berusaha untuk tertidur.
Meski dalam hati dia masih merasa was-was, dia tetap tersenyum dengan dunianya. Meyakinkan diri, bahwa setelah ini akan ada bahagia yang menjemputnya.
Bayangan Brigitta—sang ibu yang sudah lama meninggal memenuhi pelupuk mata Cyara. Wanita yang telah melahirkannya ikut tersenyum, seolah memberikan dia semangat memperjuangkan hak dan kehidupannya.
Hingga tak berapa lama kemudian Cyara pun benar-benar terlelap. Alam bawah sadar gadis itu melayang. Namun, detik selanjutnya Cyara dikagetkan oleh sebuah dobrakan pintu.
Brak!
Suara keras itu berhasil membuat Cyara berjengit, dan langsung membuka mata saat itu juga. Dalam keadaan temaram, Cyara bisa melihat tiga sosok pria yang berjalan menghampirinya.
"Siapa kalian?" tanya Cyara yang kini sudah terduduk, dia beringsut mundur ketakutan dan diiringi gerak penuh kewaspadaan. Cyara menatap ketiganya yang melangkah begitu santai, hingga salah satu dari mereka menyalakan lampu kecil, sebagai penerangan di ruangan tersebut.
__ADS_1
Cyara langsung menatap lurus. Tubuhnya seperti tersengat listrik saat mendapati Austin tengah menyeringai setan. Pria itu memamerkan gigi-giginya. Dengan bola mata menusuk tajam.
"Ternyata kamu di sini, Anak Manis? Hem, aku pikir kamu kabur ke mana. Ternyata sangat mudah untuk menemukanmu," ucap Austin dengan wajah girang, bak seekor anjingg yang menemukan mainnya.
Tubuh Cyara membatu, bola matanya sudah memerah dengan genangan air ditiap sudutnya. Namun, kali ini dia tidak ingin menangis di depan Austin. Sebab hal itu hanya akan membuatnya terlihat lemah.
"Hahaha." Cyara tertawa miris, akan hidupnya yang seolah berada dalam genggaman Austin. Namun, dia tidak ingin membuat drama ini terlihat begitu mengerikan. "Paman memang lucu, kenapa? Karena Paman hanya bisa memanfaatkan gadis sekecil aku untuk kepentingan Paman sendiri ...."
"Paman tidak lebih dari seorang pengecut, dan iblis berkedok manusia! Paman tidak pantas hidup di sini, Paman lebih pantas hidup di neraka!"
Plak!
"Kamu berani bicara seperti itu pada Pamanmu sendiri? Kamu pikir dengan kamu bersikap seperti ini, kamu akan selamat? Tidak! Malam ini kamu akan ikut denganku, dan ingat! Tubuhmu yang sama sekali tidak berharga ini, akan memuaskan hasratku. Aku akan melakukannya sampai puas, tak peduli kamu merintih dan meminta ampun padaku!"
Cengkraman di wajah Cyara semakin terasa kuat. Rahang gadis itu sampai memerah dengan rasa sakit yang mendera. Dia hendak bicara tapi tidak bisa. Austin menghentak wajah Cyara dengan kasar, lalu berganti menyeret lengan Cyara.
"Cia tidak mau ikut!"
__ADS_1
"Tolong!!!" teriak gadis itu sekuat tenaga diiringi tubuh yang terus meronta-ronta. Namun, Austin tidak peduli. Dia terus menarik Cyara dengan kasar. Hingga tubuh gadis itu berhasil keluar.
Cyara melirik suasana di sekitar, semuanya terasa begitu sunyi dan sepi. Ada apa ini? Kenapa semua orang seolah pergi dan meninggalkannya seorang diri?
Pak Brata? Di mana Pak Brata? Batin Cyara sambil mencari-cari keberadaan pria paruh baya itu.
"Lepaskan aku! Tolong!"
"Tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu!" ketus Austin, dia menyuruh kedua bodyguardnya menunggu di mobil. Sementara dirinya terus menyeret tangan Cyara.
Dia ingin membawa gadis itu kembali dengan tangannya sendiri. Memastikan Cyara tidak akan kabur lagi.
"Apa yang kamu lakukan pria jahat?!" sentak Cyara, sebab dia benar-benar tidak melihat seorang pun yang melintas di sekitar mereka.
Mendengar itu, Austin kembali menyeringai penuh. Dia menarik tubuh Cyara hingga mereka berhasil sampai di halaman rumah sakit. Di sana, Cyara bisa melihat tubuh Brata dan tubuh beberapa staf yang bersimbah darah.
Cyara menangis saat itu juga, dia terus menggelengkan kepala. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tidak mungkin!
__ADS_1
"TIDAK MUNGKIN!" jerit Cyara hingga dia kembali terbangun dari tidurnya.